
"Hem." Sang habib berdehem di seberang sana. Kalau terdengar suara gemerisik. Habib Khalid sedang merubah posisi duduknya senyaman mungkin. "Apa yang sedang kamu lakukan sekarang?" Sang habib mengubah topik pembicaraan.
Istrinya sekarang memiliki beban pikiran. Sejujurnya tidak terlalu rumit. Namun memiliki beban yang sangat berat di dalam hati.
Pikiran Aish teralihkan.
"Aku sedang membaca buku." Katanya sambil tersenyum simpul.
"Buku apa?"
Melirik buku bersampul biru di atas karpet. Dengan judul fiqih pernikahan, tangan kanannya sontak membalik buku biru seakan-akan sang suami dapat melihat buka apa yang sedang dia baca. Buku ini tidak memalukan, sarat akan ilmu, tapi entah kenapa wajahnya langsung panas memikirkan setiap paragraf yang telah dia baca dari buku ini.
"Buku tentang wanita, para laki-laki tidak perlu tahu." Aish berkilah. Matanya menyipit, diam-diam menyembunyikan rasa malu di hati.
__ADS_1
Sang habib terkekeh. Dia tidak curiga dan menduga bahwa istrinya sedang berbohong. Cuma dia merasa lucu dengan nada malu-malu sang istri.
"Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi. Ngomong-ngomong sekarang sudah jam 11 malam, ayo tidur karena besok kita akan lebih sibuk lagi. Kamu harus memanfaatkan malam ini untuk beristirahat, karena mungkin setelah malam ini kamu tidak akan memiliki waktu sebebas malam ini." Ucap sang habib dengan nada penuh makna. Kata-katanya ambigu, memiliki makna sensitif tertentu. Sejujurnya Aish takut menafsirkan maksud suaminya. Dia takut bila ini hanya pikiran kotor nya saja, berbanding terbalik dengan maksud sang suami.
Um, meskipun mencoba menahan diri tapi wajahnya masih saja terbakar. Dia sangat malu.
"Aku...aku tidak akan lelah. Aku bukanlah wanita selemah itu, kak. Aku sangat kuat." Untuk menutupi rasa malunya, dia membuat pembelaan diri. Memang Aish bukan tipe wanita lemah nan rapuh yang mudah lelah atau sakit bila bekerja keras sedikit saja.
Dia tidak selemah itu.
Mengapa habib Khalid diseberang sana tiba-tiba tertawa. Tawanya sangat keras seakan ada sesuatu yang lucu.
"Yah... tentu saja, istriku bukan orang yang lemah. Tapi untuk urusan 'itu' aku tidak bisa menebaknya. Mungkinkah istriku sekuat yang dia katakan?" Kata sang habib bermaksud menggoda Aish.
__ADS_1
"Kak Khalid, ih!"
Benar saja, Aish langsung meraung malu mendengarnya. Tanpa mengatakan apa-apa dia segera memutuskan sambungan mereka dan mematikan telpon.
"Ya Allah, kak Khalid kok jahil banget yah? Kalau gini kan aku jadi takut." Bisik Aish mulai membayangkan malam pertamanya dengan sang habib.
Orang bilang pertama untuk perempuan sangat tidak nyaman dan menyakitkan. Aish tidak meragukan masalah ini karena edukasi di sekolah juga berbicara seperti ini. Dia tidak ragu tapi dia tidak tahu seberapa sakit rasanya? Mungkinkah hingga membuatnya berjalan tidak normal atau paling parah tak bisa bangun tidur?
Oh ya Allah, ini sangat menakutkan.
"Ya Allah, Aish! Apa sih yang kamu pikirkan? Emang kenapa kalau sakit? Selama itu untuk kak Khalid, harusnya aku senang. Lagipula...kak Khalid adalah suamiku. Laki-laki yang aku cintai di dunia ini. Maka kenapa aku harus takut menyerahkan mahkota ku pada orang yang sangat aku dambakan dan cintai?" Aish merutuki dirinya sendiri yang penakut. Lalu memikirkan kembali malam pertama yang akan dia lalui besok.
"Aku...apa yang harus aku lakukan di malam itu?" Aish memegang wajahnya bingung bercampur malu.
__ADS_1
Bodohnya, dia telah membaca teori tapi masih tidak bisa memikirkannya dengan jelas!
"Aku....aku harus lebih banyak membaca lagi. Ayo Aish, malam ini adalah kesempatan terakhir kamu untuk membuat persiapan mental! Jangan membuang waktu dan bacalah buku dengan serius."