Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 21.8


__ADS_3

"Ugh..." Beberapa jam kemudian habib Khalid melepaskan pekerjaannya dan menutup semua dokumen sebelum mengembalikan dokumen-dokumen itu ke tempat semulanya. Dia meregangkan leher dan kedua tangannya yang sempat mati rasa karena berada di posisi yang sama selama berjam-jam. Rasanya jauh lebih ringan setelah menyelesaikan semua pekerjaan itu. Kini dia tidak merasa terbebani lagi dan bisa menghabiskan banyak waktu dengan kekasih hatinya.


Kekasih?


Oh, mereka berdua baru saja mengungkapkan perasaan masing-masing. Em, sekarang Aish sudah tahu bahwa dia juga mencintainya. Bukan hanya sekedar cinta biasa, tapi cinta yang tidak bisa didefinisikan dengan kata-kata. Intinya apa yang dia rasa di dalam hati hanya untuk Aish seorang. Sejak perasaan itu ada maka sejak itu pula dia selalu menganggap lawan jenis sebagai musuh. Aneh?


Tidak kok. Ini normal-normal saja. Malah ini adalah jalan yang bagus karena Allah subhanahu wa ta'ala sangat menyukai para hamba yang setia. Mencintai makhluk-Nya tidak dapat melampaui kecintaan seorang hamba kepada Sang Maha Kuasa. Allah pasti ridho dengan hubungan yang selalu mengedepankan Allah dalam langkah apapun. Dan sang habib, manusia yang terlahir dengan banyak kekurangan dan dosa ini selalu berusaha mengedepankan Allah dalam segala hal. Jangan sampai Allah cemburu dengan perasaannya kepada Aish.

__ADS_1


"Sayang, apakah kamu sudah selesai?" Dengan senyuman lebar dia menoleh ke arah Aish.


Namun lihatlah apa yang dia temukan. Entah sejak kapan Aish jatuh tertidur di atas sofa sambil memegang sebuah proposal di atas pahanya. Proposal itu menunjukkan sebuah halaman yang belum habis Aish baca.


Nakal, Hem? pikir sang habib. Senyuman lebar di wajahnya perlahan melembut. Hatinya tergelitik melihat tingkah lucu sang pujaan hati. Bahkan ketika tertidur pun, dia masih bertingkah lucu, habib Khalid heran jadinya.


"Kamu bilang sebelumnya kamu cemburu melihat proposal proposal ini. Tapi kenapa masih dibaca juga?" Tanya sang habib tidak mengerti.

__ADS_1


Dia menyingkirkan proposal itu dari pangkuan Aish dan menaruhnya secara acak di atas kardus tanpa niat melihat siapa nama wanita yang mengirim proposal itu.


"Aku pikir dengan kegembiraan malam ini kamu tidak akan bisa tertidur sehingga kita bisa membicarakan banyak hal setelah menyelesaikan pekerjaan ku. Tapi nyatanya ini hanya beberapa jam dan kamu sudah masuk ke alam mimpi. Curang. Namun sayang sekali aku tidak bisa marah kepadamu." Menggelengkan kepalanya tidak berdaya. Dia lalu menyelipkan salah satu tangannya di atas lutut Aish, dan satunya lagi terselip di belakang punggung Aish. Lalu dalam satu tarikan nafas, dia mengangkat Aish dengan gaya putri.


"Benar saja. Berat badanmu turun lagi." Bisiknya menyesal.


Padahal dia sudah bangga melihat perubahan Aish selama tinggal di pondok pesantren. Badannya agak berisi dan pipinya menggembil, namun hanya dalam waktu 1 bulan perpisahan, kekasihnya kini kembali ke penampilan awal. Dia menyesalinya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa..." Dia merendahkan kepala hingga puncak hidungnya bersentuhan dengan milik Aish. Lalu hidungnya menggosok puncak hidung Aish yang kemerahan karena menangis dan mungkin saja kedinginan.


__ADS_2