Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 26.6


__ADS_3

"Kak Danish?"


Langkah kaki Danish berhenti. Dia menoleh ke belakang. Mengernyit, kaki kirinya bergeser ke samping menyisakan jarak agar gadis itu tak terlalu dekat dengannya.


Dia tidak tahu siapa nama gadis ini, tapi sejak kemarin gadis ini mencarinya. Bukannya dia lebay, jujur dia tidak suka diikuti kemana-mana oleh orang lain apalagi jika dia adalah seorang gadis. Dia merasa risih, terganggu dan tidak mood. Sejatinya sikap dinginnya tidak datang tanpa alasan. Dia agak trauma melihat seorang lawan jenis yang terlalu hiperaktif mendekatinya.


"Ada apa?"


Gadis itu berhenti beberapa langkah jauhnya dari Danish, menundukkan kepalanya malu, kedua tangan gadis itu saling meremat saking gugupnya. Berkali-kali dia membayangkan bisa berdiri di depan Danish, dan berkali-kali pula dia membayangkan bagaimana perasaannya saat itu. Ternyata jawabannya selalu gugup. Em, siapa yang tidak salah tingkah berdiri di hadapan orang yang dikagumi?


"Kakak tidak datang melihat acara sidang di kantor depan? Semua orang kini sedang berkumpul di sana." Beberapa saat yang lalu dia pergi ke tempat sidang untuk mencari Danish, tapi dia tidak melihat Danish di sana setelah lama mencari. Sedih, dia berbalik berjalan pulang ke asrama dan tidak sengaja melihat orang-orang yang dia cari-cari!

__ADS_1


"Tidak datang, aku punya urusan mendesak di luar." Jawab Danish singkat.


Gadis itu mengerti,"Kak Danish orangnya sibuk banget. Aku kira beberapa bulan yang lalu kakak menghilang dari pondok pesantren karena sudah lagi sekolah di sini. Aku sempat sedih. Tapi saat aku mendengar kakak akhirnya kembali ke pondok kemarin, kakak tahu enggak hatiku senang banget dengarnya. Aku happy kakak balik lagi." Gadis itu dengan malu-malu mengungkapkan suasana hatinya ketika mengetahui Danish pulang kemarin.


Dia sangat lega dan bersyukur.


Danish memalingkan wajahnya menatap ke arah sebuah gedung yang tengah di penuhi banyak orang. Di situlah sidang sedang dilaksanakan. Ada lautan manusia yang tidak ada habisnya di sana. Penuh dan sesak, tapi anehnya dia merasa masih mengenali seseorang. Sayang sekali, orang itu tidak ada di dalam lautan manusia itu. Entah kemana orang itu pergi. Kemarin dia hanya bisa melihat tapi tak dapat menyapa karena dia menyadari ada sesuatu yang salah dengan orang itu.


"Jika tidak ada sesuatu yang penting aku akan pergi dulu." Danish tak punya kesabaran menghadapi gadis ini ataupun gadis lainnya sekarang.


Gadis itu menggigit bibirnya sedih.

__ADS_1


"Kak Danish, aku punya sesuatu yang ingin diberitahukan kepada kakak." Gadis itu menghentikan Danish yang baru mengambil langkah kedua.


Enggan,"Apa?" Tentunya ini bukan hal yang dia inginkan.


Malu, gadis itu mengintip dengan malu-malu ke arah Danish. Melihat betapa tampan wajahnya yang mempesona. Setiap kali melihatnya, jantung gadis itu langsung berdebar kencang.


"Itu.... orang tuaku ingin bertemu dengan kakak. Ini... mereka ingin membicarakan hal yang sangat penting dengan kakak. Aku harap kakak berkenan menemui orang tuaku. Rencananya mereka akan langsung ke sini setelah kakak mengkonfirmasi waktu dan tempat pertemuan, bagaimana pendapat kakak?" Gadis itu butuh keberanian yang sangat besar untuk membicarakan ini.


Namun, sayang sekali respon Danish sangat datar.


"Maaf, aku tidak punya rencana menemui orang tuamu. Aku sudah memiliki calon istri." Tanpa melihat ekspresi pucat di wajah gadis itu, dia segera pergi menuju ke tempat sidang sedang dilaksanakan.

__ADS_1


Awalnya dia tak mau pergi, tapi saat melihat wajah yang dia cari sempat muncul di antara keramaian, dia akhirnya berubah pikiran.


__ADS_2