Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 10.5


__ADS_3

Bunda tersenyum tipis. Sahabatnya itu adalah wanita yang mandiri dan berani. Di usia yang begitu muda, dia telah membuat sebuah usaha yang cukup berjalan lancar di masanya.


"Mungkin 29 milyar. Bunda tidak yakin karena Ayah tidak pernah mengatakan jumlah secara pastinya." Kata Bunda ragu-ragu.


Mata Aira langsung membola kaget.


"29 milyar?!"


Uang sebanyak itu, pantas saja paman dan bibinya sangat memikirkan uang ini. Jumlahnya cukup besar. Uang sebanyak ini bisa digunakan untuk membeli rumah dan membangun sebuah usaha. Aish tidak akan khawatir lagi soal kekurangan uang karena dia sudah memiliki banyak uang!


Bunda menggelengkan kepalanya geli melihat reaksi lucu putrinya. Uang itu memang banyak karena Mama Aish sendiri menjual semua asetnya untuk Aish.


"Mama Aish adalah wanita karir dan memiliki banyak aset." Bunda lalu terdiam, wajahnya yang lembut mulai kehilangan senyum di wajahnya.


Mama Aish sangat disukai kakek dan nenek suaminya dulu. Selain menjadi wanita karir yang mandiri, Mama Aish juga terlahir cantik dan berhati lembut. Dia disukai banyak orang dan dikejar-kejar banyak laki-laki. Namun sayang sekali, hati Mama Aish telah menjadi milik Ayah. Mama Aish adalah orang pertama yang jatuh cinta kepada Ayah tanpa tahu hubungan antara Ayah dan Bunda. Sebagai seorang sahabat waktu itu Bunda ingin melangkah mundur demi kebahagiaannya. Selain itu kualifikasi Mama Aish jauh lebih baik dari Bunda sehingga mendapatkan dukungan penuh dari kakek dan nenek Ayah.


Atas dukungan mereka perjodohan pun terjadi meskipun Ayah menolak. Mama Aish dan Ayah lalu menikah di bawah desakan kakek serta nenek. Ayah sangat tersiksa di dalam pernikahan itu. Demi kakek dan neneknya, dia terpaksa berpura-pura mencintai Mama Aish namun pada saat yang sama diam-diam mempertahankan hubungannya dengan Bunda.


Cinta itu adalah godaan yang paling sulit ditolak.


Dengan dukungan kedua orang tua Ayah dan anggota keluarga yang lain, Ayah akhirnya menikahi Bunda tanpa sepengetahuan kakek dan nenek, apalagi Mama Aish.


Awalnya semua berjalan lancar sampai dua tahun kemudian Mama Aish mengetahui hubungan mereka. Mama Aish terluka, jatuh sakit dan di vonis mengalami depresi berat oleh rumah sakit.


Mama Aish adalah wanita yang mandiri. Meskipun dia tahu hubungan suami dan sahabatnya sendiri, Mama Aish tidak pernah mengatakan apa-apa. Tidak ada yang tahu bila diamnya Mama Aish adalah bentuk kekecewaannya terhadap suami, sahabat dan keluarga suaminya yang telah tega mengkhianatinya.


Mama Aish berjuang melawan rasa sakitnya sendiri sambil merawat Aish kecil. Tidak ada yang tahu betapa hancurnya Mama Aish kala itu hingga suatu hari dia harus melakukan rawat inap di rumah sakit. Penyakitnya semakin parah dan membangkitkan kemarahan pihak keluarga Mama Aish.

__ADS_1


Pada saat itu Ayah akhirnya mengetahui apa yang terjadi dengan Mama Aish namun sudah terlambat karena baik Mama Aish ataupun pihak keluarganya enggan mengucapkan sepatah katapun kepada Ayah.


Ayah menyesal. Dan dia mulai menyadari bila istri pertamanya telah mengabaikannya sejak pernikahan mereka masuk tahun kedua. Tahun dimana putri keduanya terlahir ke dunia ini.


Ayah sangat malu. Dia berusaha berbicara dengan istri pertamanya tapi tidak ada kesempatan untuknya sampai sang istri menutup mata, tak satupun kata yang dikatakan Mama Aish.


Kematian Mama Aish menimbulkan konflik perebutan hak asuh anak dan dimenangkan oleh keluarga Ayah. Keluarga Mama Aish sangat tidak puas dan mulai menghapus kontak di antara dua keluarga.


Masalah tahun itu...dulu sangat hidup dan membuat banyak keluarga besar menertawakan keluarga mereka.


"Bunda? Bunda?" Panggil Aira ketika melihat Bunda tiba-tiba melamun.


"Oh, ya..." Bunda tersadar dari pikirannya.


"Lalu apa selanjutnya, Mama kak Aish adalah wanita karir dan memiliki banyak aset, seberapa banyak itu?" Tanya Aira mendesak.


Bunda menggelengkan kepalanya tidak tahu.


Aira menggembungkan pipinya tak puas.


"Bunda kan sahabatnya, masa enggak tahu, sih?" Kata-kata Aira langsung menusuk titik sakit Bunda.


"Aira berhenti bicara lagi." Kata Bunda sedih.


Aira tersenyum kecut. Kedua tangannya mengepal cemburu saat memikirkan betapa kaya Aish sekarang. Pantas saja Aish tidak memperdulikan uang kecil Ayahnya, ternyata itu karena dia sudah banyak uang!


Aira tidak pernah tahu jika selama ini Aish mengandalkan uang yang di hasilkan dari kerjanya sebagai model majalah. Dan Aira juga tidak tahu bila Aish baru menerima tabungan Mamanya saat dikirim ke pondok pesantren.

__ADS_1


Kenapa kak Aish sangat beruntung? Uang sebanyak itu untuk kak Aish, bukankah itu terlalu sia-sia. Ayah juga kenapa enggak ambil setengahnya dulu buat aku sebelum dikasih ke kak Aish. Dengan begitu kan semuanya jadi adil. Batin Aira kesal dan cemburu.


"Hum, kak Aish sangat kaya." Kata Aira diwarnai kecemburuan.


"Okay, berhenti memikirkan masalah ini dan bantu Bunda membersihkan dapur." Kata Bunda tak tahan.


Aira cemberut. Dia mengangguk patuh dan mengambil pengelap kering dari rak, lalu dia mulai membantu Mamanya membersihkan dapur.


...****...


Malam harinya setelah isya semua santri dan santriwati berbondong-bondong pergi ke kantin untuk makan malam. Setiap pojok kantin telah dipenuhi oleh para santri dan tanpa menyisakan satu kursi pun.


Aish dan kedua sahabatnya datang dengan teman kamar yang lain. Mereka duduk bersama di deretan meja yang sama agar mudah mengobrol. Sementara makanan disajikan, semua orang membuka mulut dengan kompak sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang bergosip, mendiskusikan nilai akhir ujian, membicarakan santri mana yang akan menempati posisi pertama, dan bahkan ada yang melantunkan zikir atau sholawat diwaktu senggang ini.


Namun diantara semua orang yang sibuk, Aish tenggelam dalam pikirannya sendiri. Sekarang pikirannya telah terbagi dua antara habib Khalid dan kakeknya di dunia.


Aish ingin bertemu dengan habib Khalid dan Aish juga ingin menemui kakek di kota A. Namun diantara keduanya, tak satupun yang bisa ia lakukan karena baik habib Khalid dan kakek, ia memiliki kesulitan tersendiri.


"Eh, itu habib Thalib..."


"Habib Thalib tumben mampir lagi ke kantin?"


Telinga Aish langsung berdiri tegak begitu mendengar nama 'habib Thalib' disebutkan.


Aish mengangkat kelopak matanya sambil celingak-celinguk menatap sekeliling untuk mencari habib Khalid. Samping akhirnya ia bisa melihat habib Khalid. Saat ini habib Khalid sedang berdiri di luar stan kantin, berbicara dengan beberapa ustad dan staf dapur umum.


"Kak Khalid..." Bisik Aish merindu.

__ADS_1


Mengenal cinta membuat hatinya sangat cengeng. Ia jadi gampang berpikiran negatif dan kurang percaya diri dengan diri sendiri.


Bersambung...


__ADS_2