
"InsyaAllah aku paham, kak. Terima kasih karena sudah memberikanku banyak nasehat. Aish berjanji akan mendengarkan kata-kata kak Khalid dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Bila aku bertemu dengan adikku lagi, aku akan berusaha menenangkan hatiku dan mencoba mengabaikan semua provokasinya." Ujar Aish berjanji dengan senyum malu-malu di wajah merahnya.
Sekarang hatinya benar-benar terasa ringan setelah membicarakannya dengan sang habib. Oh, dia melupakan sesuatu yang penting!
"Kak Khalid, adikku pernah berkata tadi malam jika dia bisa masuk ke pondok pesantren ini karena direkomendasikan langsung oleh kak Khalid. Apakah itu benar, kak?" Dia sama sekali tidak percaya dengan apa yang adiknya katakan tapi karena cemburu mau tak mau dia menanyakannya.
Habib Khalid tertawa geli melihat ekspresi cemburu Aish. Pipi merah itu menggembung seperti buah apel merah yang minta digigit, sangat manis!
"Dia berbohong. Aku tidak mengenalnya jadi mengapa aku harus merekomendasikannya masuk ke sini? Ini tidak layak." Jawab sang habib acuh tak acuh.
Aish sangat senang mendengarnya. Rasa cemburunya langsung menguap entah ke mana. Dan bibirnya ditarik membentuk garis senyuman yang manis. Sungguh cantik.
"Aku tahu itu." Bisiknya bahagia.
Habib Khalid tersenyum lembut. Mata gelapnya beralih melihat genggaman tangan Aish yang sedang memegangi tangannya seerat mungkin. Tangan Aish rasanya dingin, mungkin karena gugup. Sedangkan tangannya sendiri selalu membawa rasa hangat terlepas segugup apapun yang dia rasakan.
"Besok aku akan pergi ke luar kota." Kata habib Khalid tiba-tiba.
Aish tertegun. Mata aprikotnya menatap sang habib dengan ekspresi rumit di wajahnya. Samar, dia terlihat enggan melepaskan sang habib pergi. Hatinya tak rela. Bisa dibayangkan betapa rindunya dia bila tidak bertemu dengan sang habib sehari saja. Ini adalah siksaan baginya.
"Mau ke mana, kak?" Tanya Aish enggan.
"Aku tidak bisa menjelaskannya karena kota yang ku datangi tidak hanya satu."
Hati Aish langsung jatuh,"Itu artinya lebih dari satu hari?"
Hati sang habib melembut ketika melihat keengganan di wajah Aish. Namun dia tidak bisa menundanya lagi. Besok dia harus segera berangkat ke kota. Jika tidak masalahnya akan terus tertunda.
__ADS_1
"Mungkin dua minggu lamanya. Ketika aku kembali ke pondok pesantren, kamu sedang menghadapi ujian sekolah. Pastikan untuk fokus belajar dan mendapatkan nilai yang tinggi. Dan jangan berpikir karena aku jauh dari pondok pesantren aku tidak bisa mengawasi setoran hafalan mu. Aku akan tetap menanyakan umi tentang hafalan jadi kamu tidak bisa berbuat curang. Dan selama aku tidak ada di pondok pesantren berusahalah untuk menghindari masalah apapun. Mengerti?"
Dua minggu?!
Aish langsung menahan nafas ketika mendengarnya. Ini adalah kabar buruk! Mana tahan dirinya tidak bertemu dengan sang habib sehari saja apalagi dua minggu?!
Waktu ini sangat lama!
Aish tidak tahan. Tapi dia tidak berdaya. Tidak akan sejahat itu meminta sang habib untuk tidak pergi. Ini adalah pekerjaannya, salah satu dunia sang habib. Ditambah lagi mereka tidak punya hubungan apa-apa, statusnya masih seorang pengejar, jadi dia tidak gila menahan sang habib di sini.
"Yah... Aku mengerti, kak. Apapun yang kak Khalid lakukan di luar sana, tolong selalu jaga kesehatan dan keselamatan, kemudian hal yang sangat penting adalah jangan lupakan aku. Ingat kak, aku di sini masih berjuang mengejar!"
Habib Khalid menarik tangannya dari Aish, kemudian dia mencubit puncak hidung Aish singkat dan berhasil mengagetkan Aish.
"Kembali tidur, masih banyak waktu sebelum shalat tahajud. Dan aku harus kembali berpatroli, assalamualaikum." Kali ini dia tidak langsung pergi dan menunggu jawaban salam dari Aish.
"Waalaikumsalam..." Jawabnya kosong.
"Ah?" Jarinya terasa basah.
"Darah?" Dia menatap kaget jari jemarinya yang ternodai darah merah nan segar.
"Mimisan? Aku mimisan gara-gara dicubit sebentar saja sama kak Khalid! Ini sangat memalukan!" Untungnya habib Khalid tidak melihat hal malukan ini!
Jika sang habib melihatnya, mau ditaruh di mana wajahnya!
"Tidur Aish, jangan ngereog dulu malam-malam." Dira terbangun gara-gara suara Aish.
__ADS_1
Dia pikir sahabatnya mengalami mimpi buruk dan tidak bisa tidur lagi, jadi dia mengambil inisiatif untuk menariknya ke kasur dan memeluknya.
Aish yang sedang panik membersihkan mimisannya dan tiba-tiba dipeluk tidur,"...." Yah, persahabatan ini sangat dalam.
...*****...
Hari-hari berlalu dengan suasana monoton. Kehidupan Aish tidak bersemangat seperti biasanya. Setiap hari kegiatan yang dilalui sama saja. Ke kantin, pergi ke sekolah, membaca di perpustakaan, shalat dan setor hafalan di masjid, lalu kembali tidur. Kegiatan ini terus berputar-putar tanpa lelah. Sebelumnya Aish tidak merasakan kebosanan ini karena dia selalu bisa bertemu dengan sang habib, namun hari-hari ini, dia tidak pernah melihat sang habib bahkan bayangan pun tidak, jadi bisa dirasakan betapa tersiksa hidupnya tanpa sang habib.
Selama sang habib pergi dia berusaha mengikuti nasehat habib sebelumnya. Berusaha menghindari Aira, mencari pertemanan dengan banyak orang untuk menenangkan suasana hatinya, dan membaca berbagai macam buku agama sebagai vitamin untuk jiwanya yang haus.
Ini terus berlangsung. Dan hal yang membingungkan adalah, Aira tidak lagi datang mengganggunya. Sejak pembicaraan malam itu mereka tidak lagi bertemu atau tepatnya, Aira diam-diam menghindarinya. Dia sama sekali tidak peduli, selama Aira tidak datang lagi mengganggunya, Aish tidak akan peduli dan berusaha tidak ikut campur dalam kehidupan adiknya itu.
"Ini hari kelima habib Thalib pergi, dan sampai dengan saat ini kita masih belum tahu kabar darinya." Guma Dira menghitung.
Saat ini mereka bertiga sedang duduk di bawah naungan pohon depan asrama mereka. Yang duduk di sekitar sini bukan hanya mereka bertiga saja, tapi banyak santriwati lainnya juga. Ada yang membaca buku, membaca kitab, menghafal Al-Qur'an dan bahkan ada yang berdiskusi seperti apa yang mereka bertiga lakukan.
"Kita nggak punya ponsel, jadi mana bisa aku menghubunginya." Aish mendesah bosan duduk bersandar di pundak Gisel.
"Iya juga ya, kita nggak boleh bawa ponsel ke sini. Hidup kamu ngenes banget Aish. Tapi aku senang sebagai sahabat melihat kamu menderita."
Aish memutar bola matanya malas sembari melayangkan pukulan ke lengan Dira. Dia ogah berbicara lagi dengannya.
"Dan kami lebih bahagia lagi melihat kamu bercengkrama dengan Khalif." Celetuk Gisel asal membangkitkan kejengkelan Dira.
Baru-baru ini Dira punya alergi. Setiap kali nama Khalif masuk ke dalam pendengarannya, tubuhnya akan menggeliat seolah sedang kesurupan. Katanya dia alergi dengan nama itu. Pendengaran sucinya akan ternodai oleh nama itu, jadi dia meminta orang-orang untuk tidak menyebut nama itu.
"Jangan sebut namanya lagi. Kalau nggak nanti aku jorokin kamu ke sungai." Ancam Dira kesel.
__ADS_1
"Jangan gitu, ah. Siapa tahu dia jodohmu. Pangeran berkuda yang Allah subhanahu wa ta'ala kirimkan khusus untukmu." Ledek Gisel mengabaikan ancaman Dira.
Jodoh tidak ada yang tahu. Orang yang tidak disangka-sangka sering kali menjadi pendamping seumur hidup.