Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 17.3


__ADS_3

"Pagi, pak?"


Laki-laki paruh baya itu mengangguk ringan sebagai salam balasan kepada si penyapa. Ada banyak orang yang menyapanya tapi tidak bisa menghentikan langkah kakinya untuk terus bergerak maju.


Dia sudah biasa hilir mudik di tempat ini sehingga tidak sedikit orang yang mengenalnya. Karena situasinya yang khusus, orang-orang suka menyapanya dan menanyakan beberapa informasi yang tidak bisa dijangkau oleh dirinya. Setiap kali dia bertemu dengan situasi ini, wajah tuanya yang masih bugar akan membentuk garis senyuman yang meneduhkan.


Usianya dipertengahan 40 tahun ke atas dan sudah memiliki istri serta anak, tapi masih disorot oleh beberapa orang. Situasinya yang istimewa terkadang membuat orang-orang sangat ingin menjalin hubungan dengannya, bahkan mereka tidak sungkan menyerahkan putri-putri mereka kepadanya untuk dijadikan istri.


Dia berjalan cepat menuju sebuah ruangan pribadi yang dibuat khusus untuk seseorang. Letaknya tepat di asrama laki-laki yang tidak jauh dari kantor pondok pesantren.


Berhenti di depan pintu, tangan kanannya terentang sopan mengetuk pintu ruangan.


Tok


Tok


Tok

__ADS_1


Membuka pintu ruangan,"Assalamualaikum, tuan." Sapanya memberikan salam dengan sopan dan memiliki nada hormat yang tidak tersamarkan.


Dia lalu masuk ke dalam ruangan dengan langkah hati-hati. Setelah masuk, tangannya bergerak mendorong pintu hingga tertutup.


"Ada hasil?" Suara lembut nan ramah seseorang menarik perhatiannya.


Dia lantas mengambil beberapa langkah ke depan mendekati meja kerja tempat pemuda tampan itu bekerja. Pemuda tampan itu duduk di kursinya dengan berbagai macam buku-buku aneh di atas meja. Di sisi meja kanan, dia bisa melihat beberapa tumpukan buku-buku berbahasa Arab dan di sisi meja yang lainnya lagi dia bisa melihat beberapa dokumen khas yang sudah tidak asing lagi dengannya.


Lalu di atas lantai samping meja, ada beberapa kotak kardus yang dijejali oleh surat cinta yang tidak terbaca, kertas-kertas proposal dijilid rapi juga menarik yang terabaikan , dan setumpukan hadiah yang belum pernah dibuka.


"Tidak ada?" Tanya pemuda tampan itu masih dengan nada ramah yang sama.


Pemuda tampan itu menutup buku bacaannya sebelum fokus memandangi laki-laki tua di depannya.


Pikiran orang tua itu ditarik dan segera menjawab.


"Tidak, tuan. Aku sudah mendapatkannya langsung dari pengepul motor itu berasal. Semua data orang itu ada di sini lengkap dengan rekaman cctv mobil yang diparkir kemarin." Dia menjawab dengan cepat sembari mengeluarkan flashdisk putih dari saku baju hitam yang dia kenakan dan meletakkannya di atas meja kerja pemuda tampan tersebut.

__ADS_1


Pemuda tampan itu menatap flashdisk di atas meja tanpa niat untuk mengambilnya.


"Bagus. Terima kasih atas kerja keras bapak hari ini. Aku pasti tidak akan melupakannya." Ujar pemuda tampan tersebut.


Orang tua itu tersenyum senang. Tuannya adalah orang yang murah hati dan selalu memperlakukannya dengan baik. Oleh sebab itu, untuk semua yang diinginkan tuannya untuk dia lakukan, dia akan berusaha memenuhinya dengan cara yang baik. Tuannya tidak suka dengan orang yang menggunakan cara kotor.


Jadi, jika ingin memuaskan tuannya, lakukan lah cara yang benar, berusaha semampu mungkin untuk melibatkan Allah di dalamnya.


"Tidak, tuan. Inilah yang seharusnya aku lakukan." Tersenyum tulus, dia teringat dengan kabar yang diterima pagi ini.


"Tuan, aku punya kabar penting lainnya."


"Apa?" Pemuda tampan itu bertanya sambil tersenyum.


"Keluarga itu sedang dalam perjalanan ke pondok pesantren."


"Oh." Responnya tidak tertarik. Senyuman lebar pemuda tampan itu langsung menguap entah kemana.

__ADS_1


__ADS_2