
Dengan arahan Siti, mereka bertiga keluar dari pondok pesantren lewat pintu samping. Di sana sudah ada beberapa ustazah yang bertugas mencatat orang-orang yang keluar pondok untuk memastikan tidak ada yang melarikan diri. Jika ada salah satu santri yang bolos atau kabur, ustazah bisa cepat menindaklanjutinya dengan mengirim daftar nama santri setelah lewat pukul 5 sore. Ini adalah aturan lama sejak pondok berdiri dan kasusnya juga jarang karena kebanyakan mereka yang diidentifikasi sebagai orang 'kabur' atau 'melarikan diri' sebenarnya hanya telat kembali ke pondok saja.
Setiap santri yang keluar pondok dan telah dicatat akan diberikan kalung id card sebagai penanda. Bila kalung ini hilang maka harus didenda jadi kalung id tersebut harus dijaga baik-baik hingga santri mengembalikannya kepada para ustazah pencatatan.
"Lho, kok id card kita warna merah sedangkan yang lainnya pada warna biru?" Heran Gisel setelah memperhatikan dengan cermat bila hanya mereka bertiga saja yang diberikan kalung id card warna merah sedangkan Siti dan lainnya berwarna biru.
"Kita masih anak baru jadi id card nya beda dari yang lain." Balas Dira positif thinking- ah, atau lebih tepatnya sebut saja dia malas berpikir.
Mendengar obrolan konyol kedua orang ini, Siti- korban yang dipaksa ikut menjadi pemandu dadakan mereka sontak memutar matanya malas.
"Di sini merah melambangkan 'waspada', dan kalian bertiga adalah orang-orang yang harus diwaspadai. Pondok pesantren takut kalian bertiga memanfaatkan kesempatan ini untuk kabur makanya tadi mereka sempat ragu ngizinin kalian pergi. Tapi untungnya para ustazah mengenaliku dengan baik dan mempercayakan ku menjaga kalian. Jika bukan karena aku, mungkin kalian tidak bisa pergi." Timpal Siti sangat bangga dengan prestisnya sendiri di pondok pesantren.
Bukannya ingin sombong, faktanya Siti adalah salah satu anak yang berprestasi di pondok pesantren dan mengenal banyak ustazah dan pengajar. Dia juga disukai dan mendapat kepercayaan yang tinggi jadi wajar saja dia merasa bangga dengan prestisnya.
"Yah, anggap saja begitu." Gumam Aish tidak terlalu memperhatikan.
"Padahal kita anak baik-baik." Gumam Dira tak setuju.
Gisel tidak mengatakan apa-apa karena dia juga tahu apa yang dikatakan Siti mungkin benar. Sebab mereka bertiga adalah biang masalah di pondok pesantren jadi wajar-wajar saja mereka diberikan kartu merah. Tapi fokusnya tiba-tiba beralih memikirkan sikap aneh Aish kepada Gadis tadi. Dia sudah bertanya mengapa Aish melakukan itu karena Siti enggak pernah membuat janji apapun kepada mereka. Tapi Aish hanya mengatakan bila dia tidak ingin merepotkan Gadis karena hari ini dia sangat sibuk.
Gisel tahu bila Aish sedang berbohong. Aish lebih memilih menyembunyikan alasannya daripada menceritakannya kepada mereka. Gisel merasa rendah, dia bertanya-tanya apakah Aish mungkin masih belum mempercayai mereka?
Gisel melihat Aish di sampingnya yang tampak tidak tertarik dengan barang-barang di toko. Menghela nafas panjang, dia lalu menarik perhatiannya dari Aish.
Jika aku diposisi Aish, aku juga tidak akan dengan mudahnya mempercayai orang yang sudah mengkhianati ku. Batin Gisel tertekan.
Mereka sudah melewati banyak toko pakaian dan perlengkapan yang ada di depan pondok pesantren tapi Aish dan kedua temannya tidak memiliki niat untuk berhenti atau masuk ke dalam salah satu toko. Siti rasanya ingin berteriak saja melihat sikap acuh tak acuh Aish ketika ketika melihat toko-toko itu. Padahal menurutnya dan teman-teman pondok, tempat-tempat ini adalah kenikmatan yang tak bisa ditolak karena mata mereka akan dimanjakan oleh berbagai macam gamis dan kebutuhan pribadi.
Benar saja, orang-orang kota sangat sulit untuk beradaptasi. Batin Siti masih bias terhadap mereka bertiga.
__ADS_1
"Di depan sudah enggak ada toko lagi." Siti menghentikan langkahnya.
Mereka bertiga kompak berhenti.
"Serius cuma ini aja?" Tanya Dira heran.
Siti cemberut,"Ya, ini sudah toko ketujuh dan yang terakhir."
Harusnya toko ini sudah sangat banyak tapi anak-anak kota ini sangat sulit untuk dipuaskan.
Gisel menggembungkan pipinya tak puas.
"Kain di toko-toko ini berkualitas rendah." Katanya jujur.
Siti spontan memutar bola matanya. Wajar saja kainnya berkualitas rendah karena para penjual menyesuaikan isi kantong santri dengan kebutuhan santri. Harga rendah saja sudah membuat para santriwati sakit gigi namun anak-anak kota ini malah tidak menyukainya!
"Kalian harus bisa beradaptasi." Siti mau tak mau mengatakannya.
Hah...
Matanya terasa agak perih.
Tit~
Sebuah mobil Van hitam tiba-tiba berhenti di samping mereka.
Pikiran Aish langsung ditarik dari alam bawah sadarnya. Dia melihat ke arah mobil dengan rasa ingin tahu sembari menebak-nebak apakah orang di dalam mobil mengenal salah satu di antara mereka.
Lalu jendela mobil perlahan dibuka seiring dengan munculnya wajah tampan tanpa cela yang telah lama mengisi hati Aish.
__ADS_1
Habib Khalid menyunggingkan senyum yang lembut kepada Aish karena kebetulan tempat Aish berdiri berpapasan langsung dengan pintu depan mobil.
"Kalian mau beli pakaian?" Tanya habib Khalid setelah mengucapkan salam.
Pipi Aish rasanya panas dan dadanya sangat berisik di dalam sana. Aish sangat gugup namun ia berusaha terlihat normal di depan habib Khalid.
"Kami akan membeli pakaian tapi kualitas kain di sini agak rendah." Jawab Aish hati-hati.
Dia sudah belajar dari pengalaman sebelum-sebelumnya agar jangan berbicara kasar atau sok di depan habib Khalid.
Jari-jari habib Khalid bergerak ringan di atas stir mobil.
"Toko-toko di sini menyesuaikan dengan kemampuan anak pondok jadi kualitas barangnya tidak setinggi di pasar." Kata habib Khalid sambil tersenyum.
Aish merasa sangat malu dengan senyuman lembut sang habib. Hem, mungkin ini hanya perasaannya saja yang girang bila dia merasa senyuman habib Khalid saat ini sangat berbeda dengan senyuman habib yang biasanya.
Senyuman ini memiliki sentuhan kelembutan yang hangat.
"Siti...Siti baru saja menjelaskannya kepada kami." Kata Aish agak terbata-bata.
Habib Khalid mengangguk ringan masih dengan senyum di wajahnya.
"Mau ke pasar bersama?" Tanya habib Khalid.
Dug
Dug
Dug
__ADS_1
Kepala Aish tiba-tiba menjadi linglung ketika mendengar tawaran habib Khalid. Rasanya dia bisa saja salah paham dan mengira habib Khalid sedang menawarinya untuk pergi berkencan- oh, astaga! Pikiran ini harus segera dihentikan!