Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Season II : Senandung Rindu (16) End


__ADS_3

Aku menatap kosong rerumputan yang tersebar luas di depan gedung asrama staf yang ku tinggali sekarang. Entah apa yang menarik dari pemandangan di depan ini aku pun tidak tahu. Rasanya hampa saja, tidak ada yang benar-benar menarik hanya rerumputan yang kotor, tapi anehnya mataku tidak bisa mengerti ini. Mata ini terus saja melihat ke arah sana sementara pikiranku... Ya Allah aku merasa bingung.


Semuanya terasa membosankan dan melelahkan. Sungguh, sungguh ini sangat melelahkan. Hatiku sangat lelah, dan fisikku tak jauh lebih buruk dari apa yang aku rasakan.


Dulu aku paling bersemangat memulai hari baru. Setiap kali bangun dari tempat tidur aku selalu menantikan setiap episode yang terjadi di hari-hari ku. Tapi sekarang... Mungkin tepatnya semenjak aku mengetahui kabar tentang pertunangan Kak Danis dengan seorang wanita cantik asal kota sebelah, hatiku serasa di remukan, sakit... Sungguh sangat sakit rasanya.


Awalnya aku menolak untuk mempercayainya. Tidak, Kak Danis tidak mungkin menerima wanita lain karena... Aku sangat yakin Kak Danis memiliki perasaan yang sama dengan diriku. Jika tidak lalu kenapa kak Danis selama ini selalu perhatian kepadaku?


Kak Danis beberapa kali menjagaku, memberikan ku sebuah coklat yang sangat mahal, dan sesekali memberikan ku sebuah sarapan kecil. Perhatian ini sangat penting untukku. Dan karena perhatian ini aku memiliki kepercayaan diri di dalam hatiku bahwa mungkin saja kak Danis memiliki perasaan timbal balik kepadaku.

__ADS_1


Namun apa yang aku lihat dan dengar hari itu?


Aku dibuatnya tertawa, tertawa keras bahkan tanpa menyadari kalau air mataku telah meluap deras di pipiku. Sakit yang kurasakan, hanya Allah yang tahu betapa menyakitkannya perasaan itu. Hanya Allah yang tahu betapa hancur dan pupus harapanku ketika melihat dengan kedua mata kepalaku sendiri bagaimana kak Danis bercengkrama dengan seorang wanita cantik yang tak pernah sama sekali kulihat di pondok pesantren sebelumnya.


Orang-orang bilang namanya Aisyah, dia adalah wanita bercadar, putri dari pendiri pondok pesantren Darussalam di kota sebelah. Aku tidak pernah melihat bagaimana rupa Aisyah, namun dari kedua mata itu aku tahu kalau dia wanita yang berparas cantik lagi bermandikan ilmu agama yang meneduhkan hati.


Dan bodohnya aku... Walaupun kedua mataku melihat sendiri bagaimana mereka bercengkrama aku tetap menolak mempercayai bahwa kak Danis telah menerima pinangan wanita itu, aku tidak mau mempercayainya.


Jangan tanya apa yang kurasakan pada saat itu. Menangis?

__ADS_1


Hahahah... Salah besar. Aku tidak bisa menangis lagi karena mungkin air mataku sudah dihabiskan meratap. Bukannya diri ini menangis, tapi malah... Aku tersenyum.


Hum, aku juga terkejut, di saat hatiku sedang berdenyut sakit kenapa bisa-bisanya aku masih bisa tersenyum?


Tapi ya sudahlah, setelah malam itu aku akhirnya belajar untuk mengikhlaskan. Lagi pula aku sangat sadar diri tentang kemampuanku sendiri dan tentang kekuranganku. Sepersepuluh Aisyah- oh, tidak, mungkin lebih tepatnya ujung kuku Aisyah tidak bisa dibandingkan dengan diriku yang hina. Mana mungkin Allah mempertemukan dan mempersatukan hamba-Nya yang taat dengan diriku yang dipenuhi oleh dosa?


"Lho, ini bukannya artis pondok pesantren kita? Kemarin-kemarin dia tertawa dengan arogannya saat ditemui sama Danis, tapi kenapa aku lihat baru-baru ini dia seringkali memasang wajah muram? Apakah aku telah melewatkan sesuatu?"


Bug

__ADS_1


Bersambung...


Assalamualaikum, semuanya. Maaf yah baru update sekarang. Ternyata kisah Gisel enggak sesingkat yang saya pikirkan jadi diputuskan untuk buat buku yang lain khusus untuk dia. Judulnya Mahabbah Cinta, insya Allah up malam ini atau besok, sampai jumpa di sana💦


__ADS_2