Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 7.8


__ADS_3

Masalah ini sangat sepele dan bukan sesuatu yang dibanggakan. Hukuman ini jauh lebih baik daripada membersihkan kamar mandi yang kotor dan licin.


Mereka bertiga tidak tahu jika hukuman yang mereka terima ini sangat dirindukan oleh banyak santriwati karena hanya orang-orang beruntunglah yang bisa masuk ke rumah Umi. Apalagi kalau sampai melayaninya, orang-orang pondok pasti akan cemburu jika mengetahuinya.


"Baiklah, masalah sudah selesai. Kalian bisa kembali ke asrama lagi."


Wanita paruh baya itu dengan mudahnya menyelesaikan masalah.


"Terima kasih, ustazah. Kami pergi dulu, assalamualaikum."


Mereka sangat puas dengan hasil ini jadi tanpa bertanya lagi, mereka bertiga langsung kembali ke asrama. Meninggalkan kantor layanan staf yang disusupi suasana tegang.


"Aku tahu Khalisa adalah keponakan mu dan hukuman yang dia dapatkan ini telah membuat kamu tidak puas. Akan tetapi kamu harus bisa bersikap profesional karena posisi kamu di sini adalah staf kantor pondok pesantren, bukan sebagai anggota keluarga. Kamu harus bisa mengesampingkan urusan perasaan pribadi dan pondok saat kamu bekerja di sini. Dan kamu juga harus berpikir jernih saat menghadapi kasus seperti ini. Jangan hanya karena dia anggota keluarga kamu, maka kamu bisa mengecap orang lain sebagai pelaku dari kesalahan yang dibuat sendiri oleh anggota keluargamu." Tegur wanita paruh baya itu tidak puas dengan kinerja ustazah Nur.


Masalah ini sebenarnya tidak ditangani oleh ustazah Nur karena habib Khalid telah mengutus ustazah lain untuk menyelesaikannya. Akan tetapi ustazah Nur tiba-tiba memohon untuk menyelesaikan masalah ini dan berjanji menyelesaikannya secara netral.


Tak disangka bila dia malah melibatkan perasaan keluarganya dalam kasus ini dan membuat wanita paruh baya itu kecewa.


Wajah ustazah Nur sangat jelek. Kepalanya tertunduk tidak berani menatap wanita paruh baya itu. Ekspresinya sangat muram, seolah-olah sedang menahan sembelit. Sedangkan kedua tangannya telah lama mengepal karena marah.


"Aku minta maaf, Bu. Aku tidak akan mengulanginya lagi." Janjinya dengan suara teredam.


Wanita paruh baya itu menghela nafas panjang. Menggelengkan kepalanya tidak berdaya, dia lalu kembali ke meja kerjanya sambil berbicara serius sebagai pengingat.


"Ini yang terakhir. Kalau kejadian ini terulang kembali, maka aku tidak bisa menahan mu lagi."


Ustazah Nur berulang kali mengatakan janji yang sama sebelum akhirnya duduk kembali ke kursi kerjanya. Diam tidak bergerak menyentuh catatan yang telah dibiarkan menganggur, ustazah Nur masih belum melepaskan diri dari pemberontakan Aish, Gisel, dan Dira.


Baginya Khalisa adalah gadis yang sangat baik dan cerdas. Sikapnya lemah lembut dan polos, terkesan rapuh. Dia begitu rapuh sehingga membuat ustazah Nur dan keluarga sangat berhati-hati saat merawatnya. Apalagi Ustazah Nur melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana keponakannya itu tumbuh hingga sebesar ini. Dan karena dia melihatnya sendiri, terus terang, karakter Khalisa jauh lebih menjamin daripada ketiga anak kota itu.


Khususnya dalam masalah ini. Dia yakin keponakannya tidak bersalah dan telah dimanfaatkan oleh ketiga anak kota itu. Mereka pasti sengaja menjatuhkan Khalisa agar nama baiknya di pondok ini runtuh. Tapi apa alasan mereka melakukan ini kepada keponakannya?

__ADS_1


Menghirup udara dingin,"Jelas saja gadis yang bernama Aisha itu cemburu kepada Khalisa karena keponakan ku itu sangat dekat dengan habib Thalib." Gumamnya menduga.


****


Mereka langsung keluar dari kantor staf layanan setelah menyelesaikan suatu urusan. Di luar mereka menemukan bila santri maupun santriwati sangat bebas hari ini. Mereka membuat antrian panjang di depan sebuah ruangan mini. Bila santriwati berdiri di ujung kiri bangunan, maka santri akan berdiri di ujung kanan bangunan. Jarak mereka sangat jauh dan tidak mudah untuk saling bertegur sapa. Namun meskipun begitu akan ada beberapa orang yang saling mencuri pandang seperti orang yang sedang dimabuk cinta.


"Duh, enak banget ya jatuh cinta." Decak Dira menggoda.


"Pulang yuk. Di sini panas." Ajak Gisel sambil mengipasi wajahnya.


"Yuk."


Saat mereka melewati masjid, mereka tidak sebagai berpapasan dengan beberapa santri. Mereka berpapasan tepat saat para santri itu keluar dari gerbang masjid.


"Eh." Gisel spontan bersuara saat melihat wajah tembok itu.


Langkah kakinya langsung membantu di tempat. Aish dan Gisel tidak tahu kenapa Gisel tiba-tiba berhenti. Melihatnya berhenti, mereka berdua juga ikutan berhenti.


Tidak seperti mereka bertiga yang tidak menghindar, para santri itu justru langsung menundukkan kepala mereka dan berjalan menyamping untuk menghindari mereka bertiga. Menjaga jarak sejauh mungkin untuk menghindari fitnah.


Akan tetapi ada satu santri yang paling mencolok dari kelompoknya. Santri itu memiliki postur badan yang tinggi, kaki jenjang, kulit putih, mata almond, dan alis yang tajam dengan ekspresi tembok yang selalu menyertai wajah tampannya.


Entah disengaja atau tidak, sosok mencolok itu berjalan paling akhir dari kelompok santri. Sehingga ketika dia berjalan melewati Gisel, sebuah suara rendah mengayun lembut menyusupi pendengaran Gisel.


"Sarungku." Ingatnya dengan murah hati.


Dira dan Aish langsung melongo,"...." Mereka saling pandang dengan cahaya pengertian yang sama.


"Em.." Gisel tertegun. Mata bulatnya mengikuti punggung tegap itu semakin menjauh dari pandangannya.


Padahal dia ingin berbicara sedikit saja.

__ADS_1


"Kak Danis tadi ngomong apa sama kamu, Gis?" Tanya Dira berpura-pura tidak tahu.


Gisel langsung tersadar. Tersenyum malu, dia menarik perhatiannya dari Danis dan berpura-pura menatap kain gamisnya yang kotor berdebu.


"Dia enggak ngomong apa-apa kok." Katanya berbohong.


"Eh, masa iya, sih? Bukannya tadi aku sempat dengar dia bilang sarung, yah?" Aish ikut menggoda Gisel.


Pipi Gisel langsung merah. Sarung Danis memang belum dia kembalikan dan selama ini selalu dia bawa tidur untuk dipeluk. Bahkan sampai dengan saat ini dia belum pernah mencucinya. Enggak, enggak kok. Gisel enggak jorok tapi cuma enggak tahan aja wangi Danis menghilang dari sarung itu.


"Enggak, ah. Kalian mungkin salah dengar." Gisel masih bersandiwara di depan kedua temannya. Mengangkat kepalanya untuk melihat ke langit dan bersikap sok kegerahan di depan mereka berdua.


"Udah yuk, panas nih. Aku udah enggak tahan lagi pengen mandi." Kata Gisel seraya memimpin jalan ke depan ingin melarikan diri.


Melihat Gisel yang salah tingkah, Aish dan Dira sontak menertawainya. Lagian mereka belum pernah melihat Gisel semalu ini dan sekalinya terlihat, Gisel sangat lucu.


"Hahaha..." Dira tawanya enggak nahan.


Gisel langsung mengirimkannya tatapan tajam dan semakin mempercepat langkahnya. Aish dan Dira tertinggal jauh dari Gisel. Tapi mereka berdua tidak terburu-buru mengejar.


"Huh.." Desah Dira.


Aish meliriknya,"Kenapa?"


Dira menggelengkan kepalanya merana.


"Tidak ada. Aneh aja. Jatuh cinta membuat kalian nyaman di tempat ini. Ck..ck..kenapa kalian berdua sangat cepat menemukan mangsa, sedangkan aku masih belum melihat hilalnya?"


Sudut mulut Aish langsung berkedut mendengarnya.


"Jangan banyak omong. Ayo pergi." Aish langsung menyeretnya pergi menyusul Gisel.

__ADS_1


...****...


Jangan lupa perbanyak shalawat yah di hari Jum'at 😘


__ADS_2