
Habib Khalid lalu berjalan turun ke sungai untuk mengambil air wudhu sementara itu Aish tetap di bawah naungan pohon, duduk sambil mengamati gerakan habib Khalid mengambil air wudhu.
Gerakan habib Khalid sangat teratur seperti air mengalir, dengan melihat habib Khalid berwudhu Aish menyadari kekurangannya saat mengambil air wudhu.
Aish tidak pernah belajar dan tidak berniat mempelajarinya, itu dulu. Sekarang dia ingin mempelajarinya dan alangkah mudahnya dia belajar jika ponselnya tidak disita.
"Di asrama nanti aku mau minta bantuan ke Siti aja biar wudhu ku benar." Bisik Aish bertekad.
Beres mengambil wudhu, habib Khalid kemudian naik ke daratan lagi dan menggelar jaketnya di atas rerumputan menghadap kiblat.
Beberapa detik kemudian habib Khalid menggemakan takbir dengan khusuk, pertanda ia telah memulai sholat sebagai penghubungnya dengan Sang Maha Kuasa.
Aish tidak tahu bagaimana rasanya sholat yang sempurna dan Aish juga tahu bahwa tak ada satupun manusia di muka bumi ini dapat menyentuh kata 'sempurna' sebab kesempurnaan hanya milik Sang Pencipta.
Namun duduk di kesunyian sambil melihat punggung lurus habib Khalid sholat membuat Aish merasa sangat gelisah.
Ada rasa rindu yang berkedip di dalam hatinya. Rindu dan pada saat yang sama dia juga malu. Seperti sebuah suara yang mengatakan, lihatlah laki-laki yang kamu cintai, dia begitu teguh dan kuat ketika bersujud kepada Sang Kuasa, dia begitu rendah hati ketika berbicara dengan Sang Kuasa, dan dia sangat lembut ketika berbisik dengan Sang Kuasa. Lalu bagaimana dengan dirimu, Aisha Rumaisha?
Tidakkah kamu merasa malu dengan keteguhan cintanya pada Sang Kuasa, sementara kamu lebih asyik menyalahkan Sang Kuasa atas penderitaan yang kamu alami?!
Aish malu. Kepalanya tertunduk malu memikirkan betapa rendah dirinya selama ini.
"Ya Allah...aku sering memarahi-Mu, menuduh-Mu tak adil, dan menyalahkan-Mu atas semua yang terjadi kepadaku. Namun wahai Allah...aku sungguh sangat menderita. Aku tidak punya siapapun yang mau menjagaku dan aku pun tidak diinginkan oleh keluargaku sendiri, lantas bagaimana mungkin aku tidak membenci-Mu? Bagaimana mungkin aku tak menyalahkan-Mu? Bagaimana mungkin aku tak marah pada-Mu karena satu-satunya orang yang mencintaiku dengan tulus Kau ambil dariku. Lantas bagaimana aku tidak serendah itu ya Rabb... bagaimana mungkin aku tidak serendah itu?"
Siapapun yang berada di posisinya pasti sulit menjaga kewarasan hatinya. Siapapun yang berada di posisinya pasti seringkali meragukan Sang Maha Kuasa. Siapapun... siapapun itu karena Aish juga merasakannya.
Itulah mengapa dia merasa malu, rasanya malu sekali mencintai laki-laki yang mencintai Allah dengan tulus. Aish takut karena marah, Allah akan menjauhkan laki-laki baik ini darinya.
Sebab setelah laki-laki ini, dia mungkin tidak akan bisa bertemu laki-laki yang lebih baik lagi dan tidak memandang dirinya yang miskin agama adalah orang yang rendah.
"Ya Allah, aku khilaf... tolong jangan marah, okay?" Bisiknya memohon.
...****...
Selepas sholat dzuhur, habib Khalid melipat jaketnya dengan baik dan pergi menghampiri Aish. Dia duduk beberapa meter jauhnya dari Aish dengan sisi menyamping menghadap ke arah cakrawala yang terbentang luas.
__ADS_1
Sunyi, habib Khalid tidak berbicara dan begitu pula dengan Aish.
Habib Khalid sangat tenang dalam kesunyian ini dan Aish mengira habib Khalid mungkin sengaja melakukannya sebab dia pernah berkata sebelumnya bahwa dia sering pergi ke tempat-tempat yang sepi seperti ini untuk menikmati suara aliran sungai, memandangi dedaunan hijau yang tertiup angin, dan mungkin juga merenungi lautan awan yang terbentang luas.
Aish tidak bisa menebaknya secara pasti, akan tetapi dia harus mengakui bahwa kesunyian ini cukup nyaman jika ada habib Khalid di sampingnya.
Nyaman sekali. Aish awalnya ingin menanyakan sesuatu tapi tidak jadi karena takut mengganggu sang habib.
"Ada apa?" Habib Khalid menoleh ke samping.
"Ah," Aish sangat malu.
Mungkin matanya terlalu jelas. Betapa cerobohnya.
"Apa aku mengganggu kak Khalid?"
Senyuman habib Khalid semakin lebar tanpa menjawab pertanyaan. Mata Aish berkedip-kedip, terpesona dengan senyuman sang habib yang kian manis di hatinya.
"Itu... bolehkah aku bertanya apakah kita bertemu sebelumnya?" Menundukkan kepalanya merenung,"Mungkin bertahun-tahun yang lalu?" Sambung Aish ragu-ragu.
Aish merasa habib Khalid terlalu akrab di dalam hatinya tapi dia tidak memiliki kesan pernah bertemu dengan habib Khalid bertahun-tahun yang lalu.
"Mengapa kamu tiba-tiba menanyakan ini?" Bukannya balas menjawab, habib Khalid malah berbalik melemparkan pertanyaan.
Aish langsung gelagapan ditanya balik. Dia mengangkat kepalanya menatap sang habib, menilai dengan cermat ekspresi sang habib di wajahnya.
Habib Khalid tidak terpengaruh dengan mata penuh penilaian Aish. Bukannya jengkel, dia malah merasa geli dengan tingkah Aish yang menggemaskan. Malu-malu tapi mau, Aish terlalu manis.
"Aneh saja..." Kata Aish.
Meneguk air ludahnya gugup. Ia menarik pandangannya dari habib Khalid untuk menyamarkan kegugupannya. Berpura-pura menatap awan di langit yang semakin mendung dan mungkin sebentar lagi akan turun hujan.
"Apa yang aneh?" Kejar habib Khalid agak tidak sabar menunggu jawaban Aish.
Tatapan habib Khalid terlalu jelas, Aish tidak bisa mengabaikannya sekalipun dia mau. Akan tetapi dia juga tidak tahan terus melihat habib Khalid. Dia takut memberikan kesan yang buruk untuk sang habib.
__ADS_1
"Aneh saja kak... entah mengapa aku merasa bila kak Khalid sangat mengenalku..." Kata Aish ragu-ragu.
Aish menundukkan kepalanya menatap bosan kedua tangannya yang entah sejak kapan kembali saling meremat. Mungkin karena gugup dan terlalu terlena dengan habib Khalid, dia jadi mengabaikan lingkungan sekitarnya.
Hah, Aish menunggu dengan gugup respon habib Khalid. Mungkin saja dia akan membantahnya atau menganggapnya aneh tapi sampai dengan detik ini Aish belum mendengar suara habib Khalid.
Mungkinkah telinganya mengalami tuli dadakan?
Aish bingung.
Takut, dia mengangkat kepalanya mengintip habib Khalid.
Ugh!
Aish tertangkap basah!
Dia berniat mengintip sedikit saja namun segera tertangkap oleh mata gelap sang habib. Malu, Aish langsung menarik pandangannya dan berpura-pura melihat ke tangannya lagi.
Sedangkan sang habib, objek dari misi rahasia hatinya diam-diam menahan tawa melihat tingkah malu-malu Aish. Dia menggelengkan kepalanya tidak berdaya dan memutuskan untuk berhenti bermain-main dengan Aish.
"Aish, bila menurutmu begitu maka anggap saja begitu..." Ucapnya samar.
"Kenapa kak?" Aish rasanya ingin menonjok telinganya sendiri karena tidak berfungsi di saat-saat yang tidak tepat!
Kan, dia tidak mendengar apa yang habib Khalid katakan!
Betapa bodohnya!
"Aku bilang-"
"Aish?! Kita udah bawain kamu makanan dari kantin!" Suara teriakan Dira menginterupsi ucapan habib Khalid.
Habib Khalid lalu berdiri dari duduknya. Dia tersenyum lembut kepada Aish sebelum mengucapkan salam perpisahan.
"Mungkin lain kali, kamu akan tahu jawabannya..." Ucap habib Khalid saat melewati Aish.
__ADS_1
Aish tertegun. Mata aprikot nya menatap bingung punggung sang habib yang perlahan menjauh dari pandangannya.
"Lain kali...?"