
Situasi Gadis juga tidak lebih buruk dari Aira. Teman-teman dan para guru yang mengenalnya sangat terkejut. Mereka tidak menyangka bahwa gadis yang selama ini berperilaku baik dan memiliki sikap yang lembut juga berprestasi di sekolah melakukan sebuah kejahatan yang cukup fatal. Mereka menyayangkan santriwati sebaik Gadis memiliki akhir yang sangat suram. Hidupnya di pondok pesantren masih belum jelas karena pihak pondok sedang mendiskusikan sanksi apa yang paling tepat untuknya.
"Gadis, Ibu tidak tahu apa yang membuat kamu sampai jatuh seperti ini. Padahal kamu adalah anak yang cerdas, memiliki akhlak yang baik dan bahkan kamu juga termasuk anak yang memiliki hafalan bagus di pondok pesantren. Kami sangat menyayangkan semua tindakan kamu. Baik mencuri dan memfitnah orang lain, tidak ada yang ringan dari kasus ini. Ibu dengar uang yang kamu ambil nominalnya lebih dari 5 juta, uang sebanyak itu.... Mau tidak mau kamu harus menggantinya. Selain itu kamu tahu betul jika kejahatan fitnah sangat berat resikonya, itulah mengapa pondok pesantren sengaja memberikan hukuman cambuk kepada orang-orang yang telah melakukan fitnah. Dan kamu tidak akan luput dari masalah ini. Mungkin kamu akan mendapatkan 70 hukuman cambuk. Karena kamu dinilai berani dan secara sadar memfitnah orang lain dengan kesaksian palsu di hadapan banyak orang. Kesaksian palsu sangat berbahaya. Tidak hanya terancam mendapatkan sanksi sosial tapi orang yang kamu fitnah bisa-bisa masuk ke dalam penjara. Dan jika dia masuk ke dalam penjara, itu sama saja kamu merasa masa depannya. Dengan risiko sebesar ini, wajar saja pondok pesantren memberikan kamu hukuman 70 kali cambukan. Malah ada yang ingin menambahkan karena beberapa orang berpendapat kamu sangat keterlaluan. Tapi masih dibicarakan oleh pondok pesantren. Bagaimana keputusannya nanti, cepat atau lambat kamu akan mengetahuinya. Nak, Ibu mengatakan ini agar kamu memahami bahwa apa yang telah kamu lakukan sangat berbahaya dan dapat merugikan orang lain. Di samping itu Ibu juga ingin mengatakan bahwa segala sesuatu memiliki sebab dan akibat. Sakit atau pahit, kamu tidak punya cara lain selain mempertanggungjawabkan nya." Ustadzah Nur berbicara dengan nada lembut. Beliau adalah wali kelas sekaligus pengurus kamar Aish. Mirip seperti wali kelas di sekolah umum, namun jangkauan wali kelas di pondok pesantren lebih jauh dan dalam. Ibaratnya mereka adalah orang tua bagi anak-anak di pondok pesantren.
__ADS_1
Segala sesuatu permasalahan yang mereka hadapi akan melewati para wali kelas. Jika kesalahan kecil, wali kelas tak perlu menonjolkan diri. Tapi jika masalahnya sangat berat seperti yang Gadis lakukan, wali kelas akan ikut campur di dalamnya.
"Bu, Bu ustadzah...tolong maafkan aku. Sungguh, aku khilaf. Bukan niat ku untuk menghancurkan masa depan Aish. Dan memang benar bahwa aku telah mencuri uang dari Gisel, namun aku terpaksa melakukannya. Ibu tahu sendiri kondisi keuangan ku dan bagaimana perekonomian keluargaku. Aku orang miskin, Bu. Orang tuaku tidak mudah di kampung. Mereka tidak punya banyak uang untuk mencukupi pengeluaran di pondok pesantren. Lantas apa yang harus aku lakukan, Bu? Setiap bulan aku harus menyetor uang ke pondok pesantren sementara orang tuaku kesulitan makan. Aku tidak punya cara lain, aku terpaksa mencuri uang teman sekamar ku sendiri untuk memenuhi semua pengeluaran di pondok pesantren. Aku khilaf dan terpaksa." Tangisnya menyesal.
__ADS_1
"Ibu tahu, Nak. Inilah yang kami sayangkan dari kamu. Kalau benar-benar dibutuhkan, kamu bisa membicarakannya dengan Ibu agar Ibu dapat membantu kamu di kantor. Kalau diam saja kan hasilnya akan seperti ini. Dan sekarang semuanya sudah terjadi, kamu tinggal menunggu hukuman. Ibu harap pondok pesantren tidak menghentikan kamu belajar di sini agar prestasi kamu bisa dipertahankan sehingga pondok pesantren dapat memberikan jalan untuk masa depan kamu ke depannya." Ucap ustazah Nur pasrah.
Dia hanya berharap Gadis diberikan kesempatan sekali lagi oleh pondok pesantren sehingga semua usaha belajar Gadis tidak sia-sia.
__ADS_1