Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 28.3


__ADS_3

Setelah Aish dan habib Thalib menghilang dari pandangan, kami segera kembali ke asrama. Tidak ada kegiatan lain di asrama selain rebahan untuk menenangkan diri. Soalnya setelah Aish pergi aku merasa sedikit tidak bersemangat.


Sesampai di asrama aku dan Dira langsung berlari masuk ke dalam kamar. Ratna dan teman-teman yang kamar yang lain terlihat bingung melihat kami berlari. Kami tidak bisa menjelaskan kepada mereka kalau kami berlari masuk ke dalam kamar untuk mengecek uang yang Aish tinggalkan di bawah bantal. Selain tidak ingin mengundang pencuri lagi, aku dan Dira sepakat untuk menyembunyikan masalah ini agar teman-teman yang lain tidak berkecil hati.


"Setelah ini kita tidur di kasur yang sama, ya?" Kata Dira kepadaku.


Aku menganggukkan kepalaku. Pasti. Aku juga awalnya ingin tidur bersama dengan Dira. Karena hanya kami berdua saja di sini, maka kami harus saling menjaga satu sama lain.


"Hah..." Saat mengangkat bantal tidurku, aku sangat shock.


Dira menunduk di sampingku,"Sangat banyak?" Tanyanya kaget.


Setelah melihat uang di bawah bantalku, dia buru-buru pergi mengangkat bantal tidurnya. Dan seperti yang kudapatkan di bawah bantal, dia juga mendapatkannya. Warnanya sama persis, memiliki ketebalan yang sama pula, dan sama-sama memiliki catatan kuning di atas bundelan uang tersebut.


"Aish memberikan kita uang 10 juta? Jadi maksudnya kita bisa menggunakan ini 3 juta perbulan, ya Allah... Kok Aish baik banget sih. Ini kan uang tabungannya. Aku pikir dia cuma ngasih kita beberapa lembar. Ternyata ini lebih dari yang aku kira."


Jangankan Dira, aku pun memiliki reaksi yang sama. Aku tahu kalau Aish adalah orang yang royal. Dia tidak masalah mengeluarkan banyak uang selama uang itu digunakan dengan baik. Selama tinggal bersamanya, Aish sudah menjadi kakak untuk kami berdua. Di kala kami ingin berbelanja, Aish dengan murah hati mengeluarkan uang untuk kami berdua. Meminta kami untuk pergi berbelanja sedangkan dirinya tampak tidak terlalu berminat.


Saat Aish mengatakan bahwa dia menitipkan uang di bawah bantal kami, yang aku pikirkan adalah mungkin ada 3 juta nominal di dalamnya. 3 juta untuk 3 bulan, untuk gaya belanja di pondok pesantren ini sungguh sangat cukup. Tapi ternyata ini 10 juta, bagaimana mungkin aku tidak berakhir menabungnya?


"Aish selalu seperti ini. Katanya kita tidak boleh menahan diri, tapi dengan uang sebanyak ini, mana bisa kita menghabiskannya dalam 3 bulan di pondok pesantren?" Kata aku sambil menggertakkan gigi.


"Hah.. gara-gara ini aku semakin merindukan Aish." Ucap Dira.


Aku mengangguk setuju. Sebab aku juga mulai merindukan Aish kembali. Lucunya teman yang ku khianati dulu ternyata menjadi salah satu sahabat terbaikku dalam hidup ini. Tidak hanya tidak dendam kepadaku, tapi dia juga memperlakukanku dengan baik dan malah menganggapku sebagai saudaranya. Ya Allah, bagaimana hati ini tidak sedih berpisah dengannya?


Dia adalah orang yang sangat baik, orang yang menghargai dengan tulus, mana mungkin aku tidak sedih berpisah dengannya?


"Aku juga... Namun kebahagiaannya datang begitu cepat, itulah yang Allah mau. Walaupun aku sedih melihat dia pergi, tetapi sebenarnya aku juga bahagia karena dia akhirnya bertemu dengan kebahagiaan yang dinanti-nanti kan." Suaraku terdengar bergetar ketika mengatakan ini.


Aku tak tahu bahwa kesedihan jatuh sedalam ini. Aish tidak pergi jauh, dia hanya memulai kehidupan baru yang lebih bahagia bersama orang yang dicintai, namun hatiku tetap sakit. Aku sejujurnya tidak rela membiarkannya pergi meninggalkan kami. Terutama untuk diriku sendiri, entah kenapa aku merasa bahwa diriku tidak seberani itu tanpa Aish.


"Semoga Allah menjaga kehidupan sahabat kita."


Dalam kesedihan aku tersenyum mendengar doanya. Aamiin Allahumma Aamiin ya Allah, diam-diam aku mengaminkan doa ini di dalam hatiku yang terdalam. Semoga Allah mengabulkannya.

__ADS_1


Perlahan-lahan kamar kembali ramai. Pemandangan yang ku lihat sangat hidup karena ada banyak sekali suara tawa dan keceriaan di dalam kamar ini. Tapi jauh di dalam hati aku merasa kesepian. Sambil rebahan kupandangi teman-teman kamarku. Mereka berbicara banyak sambil mengeluarkan koper dan tas ransel. Membuka lemari selebar mungkin untuk mengambil baju, melipatnya dengan rapi sebelum memasukkannya ke dalam koper atau tas. Mereka akan kembali ke kampung halaman masing-masing. Kali ini jauh lebih lama dari ujian akhir nasional. Mungkin butuh beberapa minggu karena pengumuman kelulusan adalah keputusan dari pondok pesantren setelah menggabungkan semua nilai menjadi satu.


Banyak sekali teman-teman kamarku yang berencana untuk melanjutkan sekolah di pondok pesantren. Katanya ingin mengejar beasiswa. Tidak heran kupikir. Karena beasiswa yang pondok pesantren tawarkan tidak tanggung-tanggung. Mereka akan dikirim ke berbagai macam negara yang memiliki sejarah pendidikan Islam. Bagi para santri dan santriwati di pondok pesantren, negara-negara itu adalah dambaan hati mereka. Tujuan yang selalu mereka idam-idamkan udah menjadi motivasi mereka untuk belajar keras. Makanya mereka berlomba-lomba mendapatkan beasiswa ini.


Tapi berbeda denganku dan Dira. Kami tidak tertarik dengan beasiswa ini karena kami sadar diri dan tahu kemampuan kami sendiri bahwa kami tidak cukup mampu untuk sampai ke titik itu.


Jadi... Kami pernah memutuskan untuk tidak pulang ke rumah tapi akan pergi keluar kota untuk mencari pekerjaan.


"Gis, kamu sibuk nggak?" Seseorang tiba-tiba mendatangi aku.


Aku bangun dari acara rebahanku. Menggelengkan kepala, aku menjawab,"Tidak. Ratna." Kataku.


"Oh, syukurlah. Apakah kamu mau membantuku mengirim semua buku-buku ini kembali ke perpustakaan? Hari ini aku akan pulang ke kampung halaman oleh sebab itu aku harus mengembalikan semua buku-buku yang dipinjam kelas kita. Teman-teman kamar yang lain sedang sibuk mengemas barang masing-masing, aku tidak tega meminta bantuan mereka."


Mataku menangkap tumpukan buku di atas meja belajar Ratna. Selama kamu belajar bulan kemarin, kami menggunakan buku-buku itu untuk memberi asupan ilmu pengetahuan ke dalam kepala kami masing-masing.


"Tentu. Kebetulan aku tidak punya kegiatan apa-apa dan tidak tidur siang. Ayo pergi." Bagaimana bisa aku tidur kalau kamar seribut ini?


"Terima kasih. Ayo."


Aku mengikuti Ratna untuk mengambil buku-buku itu. Ini sangat berlebihan untuk satu orang tapi tidak berlebihan untuk dua orang. Kami bisa membawanya berdua.


"Letakkan saja bukunya di sini. Sisanya biar aku yang mengurus. Bila kamu mau kembali ke kamar duluan, maka pergilah. Aku akan menyusul setelah menyelesaikan prosedur." Melihat antrian panjang di depan, sepertinya Ratna tidak enak melihatku menunggu.


Aku tersenyum.


"Tidak apa-apa, aku tidak masalah menunggu."


Dia tampak malu,"Aku tidak memaksamu. Tunggulah bila kamu mau, dan bila kamu bosan, aku tidak akan melarangmu pergi."


Aku mengangguk pelan. Mencari kursi dan duduk di sana untuk menunggu.


Namun setengah jam terlewati tapi Ratna masih belum menyelesaikan antrian. Mau bagaimana lagi, penjaga perpustakaan perlu mencocokkan setiap kode buku dengan yang tercatat di komputer sehingga membutuhkan banyak waktu untuk. Aku merasa bosan. Tidak ada hal yang menarik di perpustakaan untuk dibaca. Di sini full dengan ilmu pengetahuan. Kalau mau baca sirah Nabi, sebenarnya cukup banyak di perpustakaan. Tapi sayang sekali semuanya menggunakan tulisan Arab gundul yang masih menjadi misteri di dalam kepalaku.


Bosan duduk di sini terus, akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari perpustakaan. Tidak kemana-mana, cari saja pohon teduh dan duduk tenang di bawahnya.

__ADS_1


"Habib Thalib sudah pergi dengan istrinya. Dan kabarnya mereka akan melaksanakan pernikahan beberapa hari lagi. Sayang sekali kita tidak bisa datang untuk melihat acara pernikahan mereka." Di mana-mana topik ini selalu dibicarakan sekarang, dan aku tidak terkejut.


"Ustad bilang kita bisa datang asal memiliki waktu luang. Soalnya pernikahan mereka diadakan di kota lain, bukan di sini."


Memang bukan di kota ini karena tempat tinggal keluarga Mama Aish ada di kota A. Rencananya aku dan Dira akan dijemput saat tanggal pernikahan mereka telah ditentukan. Dan menurut permintaan Aish, kami berdua akan tinggal satu hari bersamanya menjelang hari H.


"Mendengar pembicaraan mereka, aku kembali merindukan Aish. Hah...ya Allah, kami baru pisah satu jam yang lalu tapi aku sudah mulai merindukannya." Gumamku merindu.


"Eh, lihat kak Danis."


Kepalaku spontan mengikuti pandangan mereka. Jauh di sana, tepatnya beberapa meter dari tempat ku duduk sekarang kak Danis sedang berjalan dengan seorang gadis. Gadis itu tidak asing untukku. Aku biasa melihatnya di perpustakaan. Namun walaupun sering melihatnya, aku tidak tahu siapa namanya dan tak pernah ingin tahu.


Rasanya menyesakkan. Ekspresi kak Danis terkenal dengan sebutan batu karena mukanya selalu lempeng dan jarang tersenyum. Aku kira ini memang pembawaannya, tapi melihat dia bersama wanita ini tiba-tiba aku mulai mengerti.


Sama seperti habib Thalib, dia pasti hanya tersenyum saat bersama dengan orang yang disukai.


Jadi begitu.


"Kak Alisha lagi-lagi jalan sama kak Danis. Jangan-jangan calon istri yang kak Danis maksud adalah kak Alisha?!"


Oh, jadi namanya Alisha. Nama yang cantik, sama seperti orangnya. Cantik.


Tapi calon istri?


Dengan sadar diri aku memalingkan wajahku dari mereka berdua.


Ugh, hatiku berdesir sakit merasakan perih. Melihat mereka saja membuatku seperti ini apalagi sampai melihat mereka berdua benar-benar menikah?


Mungkinkah aku masih bisa berdiri?


"Siapa tahu? Aku enggak pernah lihat kak Danis jalan dengan wanita lain kecuali kak Alisha. Sebenarnya mereka cocok sih kalau beneran nikah. Yang satu dingin dan yang lain manis juga ceria, mereka bisa saling melengkapi bila bersama-sama. Iya, enggak sih?"


Aku tertegun. Mataku sekali lagi melirik ke arah dua sejoli yang tengah berjalan bersama. Mengikuti apa yang orang-orang ini katakan, aku juga mengira kalau mereka berdua terlihat serasi.


Mereka benar-benar serasi, sungguh tapi hatiku menolak untuk menyuarakan persetujuan. Aku tidak rela tapi cukup tahu diri bahwa dirinya tak mampu untuk ku gapai.

__ADS_1


"Gisel." Ratna memanggilku.


"Tunggu, Rat." Timpal ku.


__ADS_2