Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 16.15


__ADS_3

"Maksud kakek apa ngomong begini? Kita sudah sepakat kan kalau uang itu untuk dana pendidikan cucu-cucu kita?!" Nenek tidak bisa lagi melanjutkan pekerjaannya.


Dia berdiri dengan susah payah sembari menatap kakek dengan ekspresi kaget dan tidak percaya. Dia sungguh tidak percaya jika suaminya, laki-laki yang sudah hidup bersamanya hingga detik ini dapat membuat keputusan besar tanpa melibatkannya sedikitpun. Apalagi keputusan ini diberikan kepada seorang cucu yang masih ingusan, belum mengerti bagaimana dunia berjalan. Mana mungkin nenek rela melepaskannya dan mana mungkin nenek setuju memberikannya. Uang itu harus digunakan untuk hal-hal yang baik. Jujur saja, nenek lebih lega memberikan uang itu kepada Aira daripada ditangan Aish yang ceroboh.


"Aish adalah cucuku." Kata kakek menegaskan.


Mendengar ini, ekspresi bunda langsung jatuh. Apa maksud ayah mertuanya mengatakan ini? Jika Aish adalah cucunya, maka Aira bukan cucunya?


Tidak hanya bunda, tapi Ayah dan Aira pun memiliki ekspresi yang sama. Mereka semua jelas tersinggung dengan apa yang kakek katakan.


"Apa...maksud kakek aku bukan cucu kakek juga?" Tanya Aira dengan amarah tertahan.


Dia sungguh tidak menyangka jika laki-laki tua bangka ini tidak menghargainya sama sekali hanya untuk seonggok sampah sia-sia!


"Ayah, baik Aish dan Aira adalah putriku. Kedudukan mereka sama si keluarga ini." Kata Ayah masam.


Dia memang mengetahui bahwa kakek sangat mencintai Aish dan suka memihak Aish di rumah ini apapun yang dilakukan, tapi sungguh, dia tidak pernah tahu jika keberpihakan kakek kepada Aish akan sedalam ini sampai-sampai hanya memandang Aish sebagai cucunya saja. Ini sama sekali tidak bisa dibiarkan. Aira pasti sangat sedih mendengarnya tadi. Ayah tak boleh diam saja saat ini.


Kakek mendengus tak senang.


"Kalian baru menyuarakan protes untuk Aira, lalu dimana kalian saat Aish ada? Mengapa aku tidak pernah mendengar suara-suara ini sebelumnya?" Tanya kakek bias.


Nenek merasa canggung,"Kakek, masalah uang ini sangat penting. Bagaimana mungkin kakek memberikan uang itu kepada Aish?"

__ADS_1


"Benar, Ayah. Uang sebanyak itu kenapa diberikan kepada Aish? Rumah ini dan kita semua masih membutuhkannya untuk biaya hidup sehari-hari." Bibi juga tidak bisa diam saja.


Hei, dia sudah lama mengincar uang itu dan bahkan pernah berpikir untuk meminjamnya kemarin untuk usahanya bersama suami. Tapi kakek dan nenek menolak dengan alasan uang itu hanya didedikasikan untuk keperluan rumah juga sekolah anak-anak. Sekarang uang itu tiba-tiba berpindah ke tangan Aish, keponakannya yang pemberontak dan pelit, mana mungkin bibi rela melepaskannya!


"Sudah ku bilang itu karena Aish adalah cucuku." Kata kakek mengulangi kata-kata yang sama dengan nada yang lebih tegas.


"Benar, tapi Aira juga cucu kita!" Nenek merasa suaminya tidak masuk akal.


Kakek tersenyum tipis. Mata tuanya berkedip lambat mengenang kembali tahun-tahun itu.


"Aku juga mengakuinya. Tapi di mata orang tuaku, Aish adalah satu-satunya cucu mereka. Aish hadir di dunia ini karena mereka menikahkan Mama Aish ke rumah ini. Di hati mereka, hanya Mama Aish adalah satu-satunya menantu yang diakui dan hanya Aish adalah satu-satunya cucu yang dihargai. Oleh karena itu aku memindahkan nama Aish ke dalam saham di PT A. Sebab uang itu adalah uang Ibuku, bukan milikku. Dan jika dia masih hidup sampai saat ini, aku yakin dia sangat setuju dengan keputusan yang ku buat. Lagipula uang ini adalah kompensasi dariku dan bentuk cinta dari orang tuaku kepada Aish di masa depan. Sekarang, apakah kalian masih ingin menyuarakan protes lagi terhadap masalah ini?" Terang kakek menjelaskan secara singkat seluk beluk keputusan ini dibuat.


Mama Aish datang ke rumah ini atas persetujuan kakek dan nenek dari Ayah. Mereka sangat menyukai Mama Aish sehingga pernikahan ini terjadi. Tapi sayang sekali, mereka sudah lama pergi sehingga mereka tidak tahu bila Ayah, cucu kesayangan mereka berulah dan menikahi istri baru.


Masalah ini memang bukan rahasia umum lagi untuk mereka para orang dewasa di keluarga ini. Dan uang itu juga milik mertuanya. Dia sebagai menantu tidak bisa mengatakan apa-apa terhadap keputusan ini.


"Tapi Aish sudah punya uang dari Mamanya." Kata bibi tak terima.


Kakek meliriknya tak puas,"Itu uang Mamanya, sudah haknya menerima uang itu. Adapun saham itu memang sedari awal milik nenekmu jadi kamu tidak berhak mengganggu gugat nya. Uang ini memang sudah seharusnya berada di tangan Aish, kalian atau siapapun itu tidak akan bisa mengambilnya. Untuk itu, aku sudah menghubungi pengacara agar masalah pemindahan nama ini disahkan secara hukum negara." Balas kakek langsung mencekik bibi.


Jika sudah melibatkan hukum negara, maka mereka semua tidak bisa berbuat apa-apa. Bibi sangat marah mengetahuinya. Dan dia semakin marah lagi memikirkan Aish akan semakin kaya di luar sana tanpa bekerja. Dengan uang sebanyak itu, Aish bisa menikmati hidupnya dengan tenang dan damai. Membelanjakan sesuka hati tanpa takut kehabisan!


Toh, uang setiap bulan akan masuk!

__ADS_1


"Aira, jangan berkecil hati. Masalah ini tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu. Dan kamu, akan selalu menjadi cucuku yang berharga." Kata kakek kepada Aira. Niat hatinya ingin memberikan penghiburan.


Aira yang sedari tadi diam menyimak tersenyum tipis kepada kakek,"Aku tahu, kek." Katanya lemah.


Hatinya hancur. Hancur yah, dia juga tahu bahwa bunda dan dirinya tidak pernah diharapkan hadir oleh orang-orang itu jadi wajar saja dia tidak mendapatkan bagian apa-apa. Hanya saja hatinya sangat marah membayangkan Aish memiliki banyak uang ditangannya.


Keberuntungan macam apa ini? Kenapa kak Aish memiliki banyak uang ditangannya sedangkan aku, orang yang paling dicintai di keluarga ini tidak punya uang setetes pun dari yang kak Aish miliki?! Kenapa tak ada satupun keluarga yang memberikan uang kepadaku sama seperti yang kak Aish terima?! Padahal kan kak Aish adalah orang yang sia-sia! Dan sungguh sia-sia mengiriminya banyak uang! Batin Aira kesal.


Dadanya terasa sesak membayangkan betapa bahagianya Aish sekarang!


"Baiklah, lupakan saja masalah uang itu. Saatnya untuk kembali berkemas. Lihat, sekarang sudah larut malam jadi kita harus berkemas secepat mungkin agar Aira bisa beristirahat dan tidak telat bangun besok." Paman memecahkan kesunyian di dalam kamar dan mendesak semua orang untuk berkemas lebih cepat.


Semua orang akhirnya menyadari waktu dan kembali berkemas tapi tidak terlalu semangat seperti sebelumnya. Wajah-wajah mereka muram, tak satupun yang menunjukkan kelegaan yang sama seperti kakek.


Ayah melihat kakek, mulutnya yang pucat terbuka beberapa kali ingin mengatakan sesuatu. Ragu, dia akhirnya berbicara.


"Ayah, masalah ini-"


"Aku sudah berusaha sebaik mungkin mengisi tempat yang kamu kosongkan di hati Aish. Putraku, jangan pernah mengeluh atas apa yang terjadi di keluargamu sebab, kamu lah yang memulai semuanya sejak awal. Luka dan kekosongan yang dirasakan anak itu, aku hanya bisa menambalnya semampu yang ku bisa. Sisanya, orang itu yang akan menyembuhkannya. Adapun kamu... apapun yang terjadi di masa depan, aku harap kamu dapat menerimanya. Ini adalah jalan yang kamu pilih." Setelah mengatakan ini, kakek menepuk pundak Ayah ringan dan berjalan pergi menjauh dari kamar Aira.


Meninggalkan Ayah yang masih berdiri kaku di ambang pintu kamar. Ayah melihat punggung kakek berjalan semakin jauh, sesak, ada sentuhan penyesalan di dalam dadanya. Bertanya-tanya di dalam hatinya, apakah ada yang dia tidak tahu tentang putri pertamanya?


Sebab... beberapa kali kakek selalu mengungkit 'orang' itu ketika menyangkut Aish.

__ADS_1


"Apakah aku sudah melewatkan sesuatu yang penting di dalam hidup Aish?" Bisiknya bingung.


__ADS_2