Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 24.9


__ADS_3

Sementara itu di dalam bangsal rumah sakit tempat habib Khalid dirawat, Aish berjalan hati-hati agar tidak mengganggu waktu istirahat kekasihnya. Dia menarik kursi samping tempat tidur sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara mengganggu. Lalu dia duduk di samping tempat tidur. Tangan yang saling meremat karena gugup dan sudah berkeringat banyak perlahan meraih tangan kanan sang kekasih. Sedangkan tangan kiri habib Khalid dialiri cairan infus berwarna putih untuk menopang cairan tubuhnya.


Mata aprikotnya berkedip ringan mengawasi beberapa bagian tubuh kekasihnya yang terlihat jauh lebih baik. Tidak ada lagi warna kemerahan di wajah tampan sang kekasih, dia juga tidak berkeringat dingin seperti sebelumnya, untuk keseluruhan semuanya baik-baik saja dan dia akhirnya bisa bernafas lega.


"Kak Khalid?" Panggil Aish lembut tidak bermaksud membangunkan tidur nyenyak kekasihnya.


Memorinya tidak bisa menghapus betapa kesakitan sang kekasih ketika dikirim ke rumah sakit. Tubuhnya sangat tidak nyaman karena dipengaruhi oleh obat-obatan. Bahkan di saat pingsan pun habib Khalid terlihat kesakitan dan tidak nyaman. Alis pedangnya berkerut dengan mulut terkatup tidak mengeluarkan suara. Aish kasihan melihatnya tapi dia juga sungguh tidak berdaya. Jika bisa, dia sanggup mengambil alih rasa sakit habib Khalid ke dalam tubuhnya. Selama rasa sakit itu hilang dan habib Khalid tidak menderita, dia sanggup mengambil alih penderitaan itu.


"Kak Khalid tolong maafkan aku. Aku minta maaf karena kelalaianku membuat kak Khalid hingga terkapar di rumah sakit. Bila ku tahu bahwa minuman yang ku bawa beracun, mana mungkin aku membiarkan kakak meminumnya. Ini memang sungguh salahku. Ketika melihat orang lain menyentuh gelas itu, harusnya aku membuang saja minuman itu dan mengambil gelas baru lagi. Dengan begitu kakak tidak akan sakit. Aku minta maaf, kak.." Ucap Aish dengan suara sangau berusaha menahan agar tangisannya tidak pecah.


"Untungnya Allah melindungi kakak sehingga terhindar dari marabahaya. Jika tidak, aku akan melihat kakak bersatu dengan Aira, dan hidupku dipastikan akan hancur. Aku mungkin tidak akan sanggup melihat kalian bersama dan aku pasti akan gila. Aku... Sungguh tak sanggup melihat kakak berakhir dengannya. Aku tidak mau kehilangan kakak di dunia ini. Sebab kakak adalah satu-satunya orang yang mau menerima diriku dan mengesampingkan kekuranganku, memberiku perhatian yang tulus serta menjadikanku sebagai dunia akhir yang ingin kakak tuju. Bila ku kehilangan kakak maka runtuh lah dunia yang ku harap dan mimpikan. Tapi Allah tidak diam melihat kakak disakiti. Dia menolong kakak dan membebaskan kakak dari kejahatan hari ini. Aku sangat bersyukur, aku sungguh sangat bersyukur."

__ADS_1


Dia tak ada henti-hentinya mengucapkan rasa syukur kepada Sang Maha Kuasa, berterima kasih untuk perlindungan yang Allah berikan untuk melindungi kekasihnya sehingga mereka tidak berakhir hancur. Aish sangat bersyukur, sungguh sangat bersyukur. Mungkin hanya dengan air mata dia menunjukkan betapa bersyukurnya dia kepada Allah subhanahu wa ta'ala.


"Wahai kekasihku.... Jangankan dirimu, aku pun tak rela melepaskan kamu. Jika akhir ceritanya aku terjebak dalam rencana jahat Aira, ketahuilah wahai kekasihku bahwa aku tidak akan pernah bersatu dengannya. Mana mungkin diriku rela melepaskan kamu setelah semua yang kulakukan untuk menunggumu hanya untuk wanita yang tidak memiliki hati nurani? Aku bukanlah laki-laki yang bodoh. Dalam hidup ini aku telah menegaskan berkali-kali bahwa kamu adalah tujuan hidupku, jika bukan dengan kamu, wahai Aisha Rumaisha, maka aku tidak akan menginginkannya. Oleh sebab itu, seburuk apapun kemungkinan yang terjadi, aku tidak akan pernah mengikuti kemauan dalang dibalik masalah ini. Dengan cara apapun aku akan mempertahankan kamu. Namun satu hal yang ingin ku ketahui dari dirimu, bila kemungkinan terburuk itu terjadi kepadaku, maukah kamu memegang erat tanganku dan tidak melepaskan ku? Apapun itu, jangan melepas tanganku, apakah dirimu bersedia wahai Aisha Rumaisha?" Tiba-tiba habib Khalid membuka matanya dan berbicara kepada Aish.


Ternyata habib Khalid sudah sadar sejak lama dan menunggu Aish masuk ke dalam ruangannya. Tujuannya sih ingin memberikan kejutan kepada Aish, namun sebelum dia bisa bergerak, dia mendengarkan curahan hati dari sang kekasih. Itu adalah kata-kata yang singkat tapi memiliki bobot yang berat di dalam hati sang habib. Dia belum memikirkan konsekuensi dari masalah ini sampai akhirnya dia mendengarkan curahan dari Aish.


Sama seperti Aish, dia mungkin juga akan kesakitan dan hancur bila berakhir dengan wanita lain, apalagi wanita itu adalah penyebab dari rasa sakit sang kekasih. Hatinya tidak rela dan dia juga tidak akan pernah membiarkan ketidakadilan itu menimpa mereka berdua. Jika kemungkinan terburuk itu terjadi, maka dia akan mengusahakan semua yang dia mampu untuk mengungkap kebenaran dari masalah ini dan memberikan keadilan untuk mereka berdua.


Tapi syukurlah semua kemungkinan itu tidak terjadi. Allah tidak tinggal dia melihatnya dizolimi. Hatinya juga bersyukur untuk perlindungan yang Allah berikan kepadanya.


Pertama-tama dia malu, tapi lama-lama.... Dia merasa lebih malu!

__ADS_1


"Tolong jawab pertanyaanku Aish, apakah kamu akan meninggalkanku bila kemungkinan buruk itu terjadi atau justru sebaliknya, kamu akan terus memegang erat tanganku dan tidak akan melepaskan ku." Tanya habib Khalid serius.


Sesungguhnya apapun jawaban dari Aish, hasil akhirnya akan sama yaitu dia tidak akan pernah membiarkan Aish lepas dari hidupnya. Dia berpendapat bahwa semenjak dia memilih Aish menjadi pendamping hidupnya, maka sejak itu pula dia menganggap bahwa Aish adalah bagian dari dalam hidupnya.


Aish menundukkan kepalanya, mencerna baik-baik apa yang ditanyakan oleh sang habib. Bila semua itu terjadi dan kekasihnya harus dituntut bersama dengan Aira, jujur dia akan sedih tapi juga sangat tidak rela. Mungkin dia tidak akan ragu melakukan tindakan kejam untuk merebut kembali sang habib dari Aira.


Tersipu malu, matanya mengintip sang habib.


Deg


Jantungnya seketika berdebar kencang ketika mata mereka bertemu. Di dalam mata gelap itu, tidak ada perasaan intens seolah dirinya diinginkan seperti tadi siang, tapi ada perasaan kuat di mana dirinya didesak untuk masuk ke dalam mata itu... Dia seperti akan dipenjarakan di dalam sebuah ruangan yang tidak berujung. Menakutkan tapi pada saat yang bersamaan Aish juga menginginkannya.

__ADS_1


"Aku...aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi. Aku akan berubah menjadi wanita yang kejam, merebut kakak dengan cara apapun. Selama kakak bersamaku, itu sudah lebih dari cukup. Aku tidak menginginkan apapun lagi." Akui Aish malu-malu.


Wajahnya tersipu malu, tapi perkataannya berbanding terbalik dengan rona merah di wajah. Nada suaranya sangat berambisi dan bertekad. Jawaban ini praktis membuat habib Khalid tersenyum lebar. Dia bahagia karena sang kekasih memberikan jawaban yang diharapkan.


__ADS_2