
Kakek baru saja mengatakan bila ia mengenal habib Khalid. Jika kakek mengenal habib Khalid maka harusnya kakek bisa membantunya dekat dengan sang habib, jauh lebih mudah daripada meraba-raba tanpa jalan di sini.
Namun bukannya membantu, kakeknya malah menolak dan malah memperingatkannya agar jangan membuat masalah.
"Aku tidak akan melakukannya." Kata kakek tegas.
Ayah dan Bunda saling memandang, seolah-olah saling berbagi pemahaman, mereka lalu kompak menatap nenek untuk meminta bantuan.
Nenek melihat tatapan mereka dan langsung mengerti. Tanpa mendapatkan sinyal dari mereka pun, nenek pasti akan membantu cucu terkasihnya bicara.
"Aira adalah gadis yang baik. Bisakah-"
"Aku sudah mengatakannya untuk tidak memprovokasi anak itu tapi kalian malah bersikeras. Lagipula jika anak itu benar-benar menyukai Aira, dia pasti sudah lama ada di sini. Tapi nyatanya dia tidak pernah datang ke sini kecuali hari itu saat dia datang mencari ku." Potong kakek memberikan penegasan.
Kakek seolah mengatakan bahwa habib Khalid datang di hari itu bukan karena Aira ulang tahun, melainkan untuk mengunjungi kakek. Memang pada saat itu habib Khalid tak mengatakan apa-apa kepada mereka semua dan bahkan tidak menyapa kakek. Tapi setelah melihat wajah habib Khalid yang tampan tanpa cela, kakek langsung teringat akan anak laki-laki yang pernah berjabat tangan dengannya.
Melihat sudah berapa tahun terlewati sekarang, kakek baru sadar jika sudah saatnya anak laki-laki itu datang.
Kakek langsung tahu jika maksud kedatangan habib Khalid saat itu adalah sebuah pengingat bahwa sudah waktunya Aish pergi dari rumah ini.
Kakek agak enggan, terlebih lagi saat melihat cucunya diseret pergi oleh anak-anak dan istrinya sendiri seperti mengungkapkan bahwa mereka sudah tidak sabar mendorong Aish keluar dari rumah ini.
Kecewa, namun semuanya sudah terjadi. Seperti yang mereka katakan sebelumnya, pada akhirnya Aish juga akan meninggalkan rumah ini.
"Apa maksud, kakek?" Aira jelas tidak menerimanya.
Ia selalu beranggapan bila kedatangan habib Khalid saat itu adalah karena ia sedang ulang tahun.
Kakek enggan menjelaskan hal yang sama berulang kali lagi. Ia lalu bangun dari duduknya dan berkata,"Apa yang aku katakan, kalian semua pasti mengerti." Setelah itu kakek kemudian membawa langkah kakinya menuju taman belakang untuk bersantai.
__ADS_1
Aira sungguh tidak bisa menerimanya. Ia menatap wajah kedua orang tuanya untuk meminta penjelasan. Namun baik Ayah dan Bunda tidak punya apa-apa untuk dikatakan. Mereka bingung dengan kebenaran yang mereka terima dan lebih malu lagi karena kakek mengatakan secara gamblang bila Aira tidak cukup menarik perhatian sang habib.
Lalu, apa urusan habib Khalid datang mencari kakek pada hari itu?
Bukankah habib Khalid tidak berbicara atau bahkan menyapa kakek?
Namun mengapa kakek yakin sekali bila orang yang habib Khalid cari adalah dirinya dan bukan Aira?
"Kakek mu sangat serius kali ini. Aira, lupakan saja laki-laki ini. Masih banyak laki-laki diluar sana yang menyukai cucu nenek." Kata nenek menyarankan cucu terkasihnya.
Aira cemberut. Hatinya terbakar amarah juga malu. Ia sangat kecewa dengan kakek karena tak mau mendukungnya dan ia lebih kecewa lagi saat memikirkan kakek berkata secara gamblang bahwa habib Khalid tidak menyukainya!
"Dimata kakek, hanya kak Aish yang paling baik. Jika kak Aish yang meminta bantuan, kakek pasti tidak akan menolaknya." Perlahan air matanya mulai berjatuhan.
Ia sangat menyedihkan di mata keluarganya sekarang.
Aira menggelengkan kepalanya membantah. Hal ini bukan rahasia umum lagi bahwa satu-satunya yang kakek pedulikan di rumah ini adalah Aish.
Kakek selalu memperlakukan Aish dengan baik, bahkan lebih baik dari putri-putri kakek. Padahal Aish adalah anak yang sia-sia, suka membuat masalah dan dimusuhi semua orang di rumah. Aira jadi tidak habis pikir mengapa kakek begitu mencintai Aish?
"Jangan berpikir terlalu jauh, nak. Bahkan meskipun Aish menginginkannya, habib Thalib tidak mungkin jatuh cinta dengan gadis yang minim ilmu agama seperti Aish? Jelas Aira jauh lebih baik darinya." Kata nenek memberikan penghiburan.
Wajah Ayah langsung suram saat mendengarnya. Aish adalah putrinya. Sekalipun Aish tidak sebaik Aira, tapi itu tetap putrinya. Ayah tentu saja tidak senang bila putrinya dipandang rendah oleh nenek. Tapi karena nenek adalah Ibunya, Ayah memutuskan untuk diam dan tidak mengatakan apa-apa.
Sungguh naif, Ayah selalu bersikap diam bahkan saat bibi dan paman mengatakan hal-hal yang tidak baik kepada Aish.
Aira akhirnya merasa terhibur,"Nenek, jangan katakan itu. Kak Aish adalah kakak ku." Kata Aira pura-pura kesal.
Nenek tersenyum dan tidak mengatakan apa-apa.
__ADS_1
Meskipun Aira tidak puas dengan kakek karena lebih menyukai Aish, akan tetapi Aira sangat puas dengan nenek sebab yang paling nenek sukai di rumah ini adalah dirinya.
...****...
Siang harinya, Aish dan dua sahabatnya pulang dari sekolah. Mereka bertiga jalan bersama-sama dengan teman kamar yang lain termasuk Siti. Saat melewati jalan setapak di depan masjid, perhatian mereka tiba-tiba ditarik oleh kerumunan yang memadati sebuah mobil Van hitam. Sepertinya pondok pesantren kedatangan seseorang.
"Eh, mereka semua mau kemana?" Tanya Gisel heran melihat teman-teman yang lain juga ikut bergabung dengan keramaian.
Anehnya, di dalam keramaian itu tak satupun laki-laki. Semuanya adalah perempuan yang cukup aneh di mata Aish dan dua sahabatnya.
Siti juga tergoda untuk pergi. Namun saat melihat betapa padatnya orang-orang di depan mobil, ia langsung mengurungkan niatnya. Ia pikir mereka bisa bertemu dilain kesempatan.
"Hari ini Sarifah Nadira pulang dari Mesir. Kabarnya dia akan melanjutkan sekolah di pondok pesantren seperti kakaknya Sarifah Nasifa." Jawab Siti tanpa menutupi suara kekagumannya.
Siapa yang tidak kagum dan merasa terhormat jika tempat yang mereka pijaki juga dipijaki oleh para keturunan yang mulia?
Di tambah lagi memandang para wajah-wajah keturunan mulia adalah kenikmatan yang tak semua orang dapatkan di muka bumi ini.
"Sarifah?" Bingung Aish.
Siti menoleh ke samping, melihat kebingungan Aish. Wajar saja, Aish mungkin tidak terlalu bersentuhan dengan hal-hal yang berbau agama sebelum masuk ke pondok pesantren ini.
"Iya, Sarifah sama dengan habib, mereka sama-sama keturunan Rasulullah Saw. Baik kak Nasifa, kak Nadira, dan habib Thalib adalah keturunan Rasulullah Saw. Apakah kalian tidak menyadarinya bila aura yang dibawa oleh habib Thalib sangat istimewa dan berbeda dengan orang-orang di sekitarnya?" Ringkas Siti menjelaskan.
Mereka semua juga tahu bila aura yang dimiliki oleh habib Khalid dan keturunan mulia yang lain jauh lebih istimewa. Selain itu memandang wajah mereka merupakan kenikmatan yang hanya bisa dirasakan oleh hati.
Kenikmatan yang bisa dirasakan oleh orang-orang yang telah lama merindukan sang kekasih Allah, nabi Muhammad Saw.
"Keturunan Rasulullah?" Kening Aish berkerut.
__ADS_1