
"Yah, aku juga enggak yakin soal ini. Toh hati manusia sulit ditebak." Gumam Aish sambil memandangi hamparan langit terang yang terbentang luas dihadapannya.
Dia menduga bila Gadis mungkin mendengar percakapannya dengan habib Khalid kemarin malam, tapi ini hanya dugaan acak saja dan dia tidak bisa memastikannya sekarang.
Tak terasa bila kaki mereka akhirnya sampai di depan gerbang asrama. Dari posisi mereka saat ini, mereka bisa melihat jika ada banyak sekali santriwati yang tengah duduk di bawah cahaya bulan untuk belajar. Mereka terlihat sangat rajin dan sering berdiskusi dengan teman duduk untuk membicarakan pelajaran yang mereka pelajari ulang.
"Aku rasa lebih baik kita enggak usah balik dulu, deh." Bisik Gisel merasa giginya ngilu melihat dan mendengar para santriwati mengulas kembali pelajaran.
"Yah. Kenapa kita enggak duduk dulu di sini menikmati cahaya rembulan sembari menunggu asrama ditutup." Ajak Dira kepada Aish dan Gisel.
"Ide bagus. Nah, duduk saja di sana. Rumput di sana sangat subur dan tebal jadi pantat kita enggak akan cidera." Kata Gisel ngasal yang langsung dihadiahi tawa renyah mereka bertiga.
Mereka memilih tempat yang nyaman sebelum duduk menatapi betapa indahnya langit malam ini.
"Siti bilang mulai malam ini sampai ujian selesai, asrama kita akan menjual makanan ringan yang bisa dinikmati semua orang agar belajarnya enggak ngebosenin." Gisel tiba-tiba mengingat ucapan Siti tadi sore.
Pasalnya stan makanan tiba-tiba dibuka di samping gedung asrama tadi sore. Katanya sih stan makanan ini hanya ada disaat anak pondok sedang ujian untuk mempermudah kebutuhan anak pondok dikala sedang belajar. Pondok pesantren sangat mengerti bila beberapa orang membutuhkan makanan saat sedang belajar keras dan bahkan dengan siaga menyediakannya. Harga barang-barangnya pun terkesan murah dan tidak jauh berbeda dari luar sana yang sangat membantu semua orang.
"Hah, aku akhirnya bisa puas makanan enak."
Aish tersenyum geli.
"Ya udah kalian beli aja beberapa makanan. Oh ya," Dia mengambil sesuatu dari kantong gamisnya dan mengeluarkan beberapa lembar merah uang kertas.
"Ini kasih ke Siti. Minta dia beli beberapa makanan untuk mengganjal perut. Sisanya bisa kalian pakai buat beli apa aja di sana."
Ekspresi Gisel langsung menjadi girang. Dia mengambil uang itu dan menarik Dira pergi setelah mengucapkan terimakasih. Mereka masuk ke halaman asrama dan langsung berbelok ke stan makanan yang lumayan ramai karena banyak orang yang sedang belanja membeli makanan ringan atau gorengan hangat.
Hem, wanginya sangat menggoda.
Namun sebelum beraksi mereka terlebih dahulu memanggil Siti yang sedang sibuk berdiskusi dengan teman-teman kamar. Mereka sedang membicarakan pelajaran dengan bahasa Arab yang tidak dimengerti Gisel dan Dira.
__ADS_1
"Untuk apa uang ini?" Gisel tiba-tiba memberikannya uang sebanyak 300.000.
"Aish bilang kamu bisa menggunakan uang ini untuk membeli makanan ringan." Setelah menjawab singkat, Dira menarik Gisel ke stan makanan untuk berbelanja.
Meninggalkan Gisel dan beberapa teman kamar yang belum sempat mengatakan apa-apa.
"Ini... Aish sangat perhatian." Bisik salah satu teman kagum.
Siti menatap shock uang ditangannya. Jangankan mereka, dia pun tidak lebih shock dan tidak menyangka bila Aish sangat perhatian kepadanya.
Tersenyum lembut, dia lalu berdiri dari duduknya.
"Ayo pergi belanja dan belikan teman-teman yang lain makanan. Mereka pasti semakin semangat belajar kalau ada makanan ringan mendampingi." Ajaknya kepada teman-temannya.
Teman-temannya juga senang mendengar ajakan Siti tapi mereka juga sadar diri bila uang itu Aish kasih kepada Siti. Mereka mana mungkin meminta bagian karena uang itu bukanlah hak mereka.
"Kayaknya enggak usah deh, Siti. Rezeki ini Allah kasih buat kamu jadi disimpan aja daripada dihamburkan." Ujar salah satu teman tak enak hati.
"Alhamdulillah, rezeki ini adalah titipan Allah buat kita. Percaya atau engga Aish sebenarnya ingin kalian semua membeli makanan ringan. Namun dia mungkin malu berbicara dengan kalian karena masih belum akrab. Jadi untuk jalan pintasnya dia memberikan ku amanah ini untuk disampaikan kepada kalian."
Dia mungkin menebak apa yang Aish inginkan. Entah ini benar atau tidak, Siti tidak perlu terlalu memikirkannya. Lagipula dia melaksanakan perbuatan baik dan bukan dosa, jadi apa yang perlu dipikirkan.
"Sungguh?"
"Masya Allah, ternyata Aish orang yang sangat baik."
Lagi-lagi kesan mereka kepada Aish semakin membaik. Kebaikan demi kebaikan yang Aish tunjukkan membuat hati mereka melunak secara alami. Ada kekaguman juga kecemburuan yang bersinar di hati beberapa orang. Cemburu mungkin karena bagi orang itu Aish terlalu beruntung. Hem, beruntung untuk segala hal yang tidak dimiliki oleh orang lainnya. Namun, apa benar dia seberuntung itu?
...***...
Berbicara mengenai keberuntungan, di sisi lain Aish Kimi tengah memikirkannya dengan serius. Pasalnya begitu Dira dan Gisel pergi ke halaman asrama untuk berbelanja, Aish tiba-tiba bertemu- ah, lebih tepatnya dihampir oleh habib Khalid dan beberapa laki-laki yang sedang melakukan patroli, diantara orang-orang itu Aish hanya mengenal habib Khalid dan Danis, senior yang selama ini selalu mengikuti habib Khalid kemanapun dia pergi.
__ADS_1
"Assalamualaikum?" Salam habib Khalid menghentikan langkahnya beberapa meter jauhnya dari Aish.
Entah disengaja atau tidak, para santri yang berpatroli bersama habib Khalid langsung berpencar ke sawah-sawah samping asrama, meninggalkan habib Khalid dan Danis yang kini tengah berdiri tepat di samping sebuah pohon rindang yang menyamarkan keberadaan mereka.
Dari posisi ini para santriwati dihalaman tidak akan bisa melihat mereka karena tertutupi semak-semak pohon, ditambah lagi tempat itu agak gelap dan kurang terjangkau cahaya lampu asrama.
"Wa-waalaikumussalam, habib." Balas Aish gugup.
Nah, apa keberuntungan hari sedang diskon? Batin Aish heran juga senang.
Dia segera berdiri dari duduknya seraya memperbaiki lipatan kain gamis nya yang kusut.
Melihat aksinya yang terburu-buru, habib Khalid tidak bisa menyamarkan cahaya samar di dalam matanya.
"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" Habib Khalid mengajukan sebuah pertanyaan.
Aish mengepalkan tangannya malu.
"Aku...aku sedang menunggu Gisel dan Dira kembali..." Jawab Aish gugup.
Ugh, dia baru saja merindukan habib Khalid dan sekarang mereka bertemu. Dia pikir malam ini akan berlalu dengan irama yang membosankan tapi siapa yang tahu bila adrenalin hatinya sedang diuji.
"Apa kalian tidak belajar?" Tanya Danis kosong.
Disaat semua santri dan santriwati sibuk belajar, mereka malah keluar dan bersantai di sini?
Aish menjawab ragu-ragu,"Kami... tidak tahu harus mempelajari apa karena tidak mengerti bacaan maupun tulisan yang ada di buku." Akui Aish sangat malu.
Dia bahkan tidak berani mengangkat kepalanya untuk bertemu langsung dengan mata sang habib. Aish takut habib Khalid akan marah.
Namun berbanding terbalik dengan ketakutannya, habib Khalid justru tidak bereaksi keras. Dia masih menatap Aish dengan ketenangan yang biasa, sedamai air di danau yang tidak berombak.
__ADS_1
"Aku taku kamu pasti akan bingung harus mempelajari apa." Habib Khalid lalu berjalan beberapa langkah ke depan, mengangkat paper bag hitam yang sedari tadi di pegang tangan kanannya untuk dikaitkan talinya di salah satu ranting pohon.