
"Tidak, Nak. kamu salah paham. Dia tidak melakukannya dengan terpaksa tapi dia melakukannya dengan kemauannya sendiri." Potong Kakek membantah ucapan cucu kesayangannya.
"Maksud Kakek?" Kedua tangan Aish mengepal.
Tersenyum lembut, ada kekaguman di dalam mata Kakek.
"Habib Thalib yang menawarkan diri sendiri kepada Mama kamu. Dia berkata bahwa dia ingin menjaga kamu seumur hidupnya, dan dia juga berkata bahwa dia akan melindungi kamu selama sisa hidupnya. Tidak hanya itu saja, tapi dia juga berjanji kepada Mama kamu bahwa dia akan mengembalikan kamu ke nasab yang seharusnya." Inilah yang dia kagumi dari habib Khalid. Di usia yang masih begitu muda, 10 tahun, tapi dia sudah berani membuat janji yang sangat luar biasa dan bahkan berhasil menepatinya. Selama itu pula udah tidak pernah lupa bahwa Aish akan menjadi pendamping hidupnya.
Di dunia ini, hanya segelintir laki-laki yang bisa seperti habib Khalid. Hanya segelintir saja, bagaimana kakek tidak merasa kagum kepadanya?
"Nasab?" Pikiran Aish dipenuhi oleh banyak hal. Terlalu banyak informasi yang Kakek berikan kepadanya, dan yang lebih bodoh adalah dia lambat mencerna.
"Benar, Nak. Mama kamu sebenarnya berasal dari nasab yang mulia, dia adalah seorang Syarifah yang rela mengorbankan kemuliaannya untuk menikah dengan putraku." Dengan suara bergetar Kakek mengakui identitas Mama Aish yang sebenarnya.
Seorang Syarifah rela menikahi laki-laki biasa dan dikucilkan oleh keluarganya, inilah mengapa kedua orang tua Kakek sangat mencintai Mama Aish. Dia rela meninggalkan nasabnya untuk cinta, namun cinta yang dia kejar justru mengkhianatinya. Demi menikah dengan Ayah, Mama Aish keluar dari rumah orang tuanya dan memilih tinggal di rumah pengasuhnya yang telah dianggap sebagai orang tua angkat. Benar, orang tua angkat. Kakek dan Nenek dari pihak Mama yang selama ini jarang Aish temui adalah orang tua angkat Mamanya. Sedangkan keluarga Mama Aish yang sebenarnya belum pernah bertemu dengan Aish karena pilihan yang dibuat oleh Mama Aish sendiri.
__ADS_1
"Mama kamu jatuh cinta kepada Ayahmu. Dan kedua orang tua Kakek juga sangat menyukai Mama kamu. Jadi mereka menjodohkan Mama kamu dengan Ayah, berharap pernikahan mereka bahagia dan melahirkan keturunan-keturunan yang memenuhi harapan mereka. Tapi sayang sekali, setelah kamu lahir ke dunia ini mereka pergi. Selanjutnya seperti yang kamu tahu, Ayah kamu pulang membawa istri kedua yang tengah mengandung Aira dan menjadi faktor Mama kamu jatuh sakit. Kakek mengakui bahwa, Kakek telah gagal. Kakek telah gagal sebagai seorang Ayah. Jika kakek lebih keras lagi kepadanya maka mungkin kehidupan Mama kamu tidak akan hancur dan kamu juga tidak akan melalui semua penderitaan ini." Tak terasa air mata Kakek mulai jatuh kembali ketika mengingat kegagalannya sebagai seorang Ayah.
Bila dia tahu bahwa semuanya akan menjadi seperti ini maka lebih baik dia mencegah Mama Aish untuk masuk ke dalam keluarganya. Dia sangat merasa bersalah sebab Mama Aish tidak hanya melepaskan nasabnya, tapi dia juga tidak bisa hidup bahagia bersama Ayah, laki-laki yang diharapkan menjadi masa depannya.
"Ini bukan salah Kakek tapi ini adalah salah Ayah sendiri dan salah Mama karena memilih laki-laki yang salah. Kakek telah berusaha untuk mencegah semua ini terjadi. Selain itu juga Kakek selalu melindungiku apapun yang terjadi di rumah. Aku tahu bahwa selama ini Kakek berusaha menggantikan posisi Ayah di hatiku. Aku tahu semuanya Kakek dan aku sangat bersyukur karena di rumah itu masih ada orang yang memperdulikan ku. Terima kasih Kakek. Terlepas dari mana nasab Mama, aku tidak terlalu memikirkannya karena mereka mungkin tidak menerima aku. Anak yang lahir dari laki-laki biasa. Aku pernah mendengar Kakek bahwa bila seorang Syarifah menikah dengan laki-laki biasa, maka terputuslah nasab generasinya. Jadi aku bukan bagian dari mereka. Aku hanyalah orang biasa."
Bohong bila Aish tidak terkejut setelah mengetahui siapa Mamanya. Dalam hidup ini dia tidak pernah menyangka jika suatu hari dia akan mendapatkan kejutan sebesar ini. Karena yang dia tahu Mama adalah orang biasa dan keluarganya pun biasa. Selain itu tidak ada cerita-cerita ataupun jejak yang Mamanya tinggalkan jadi Aish tidak pernah berpikir sejauh ini. Tidak sampai Kakek menceritakan semuanya, barulah dia tahu. Tapi memangnya kenapa kalau tahu?
Ini tidak seperti dirinya akan mendapatkan nasab itu atau seolah keluarga Mamanya akan mengakui dirinya.
...*****...
Aira berdecak kesal karena pekerjaan yang dia kerjakan tidak ada putus-putusnya. Setiap kali dia menyelesaikan suatu pekerjaan, Umi ataupun yang lainnya akan memintanya mengerjakan pekerjaan yang lain. Dia sangat marah. Jika terus seperti ini, kapan dia bisa melaksanakan rencananya?
"Ugh, habib Thalib juga kemana? Kenapa aku belum pernah melihatnya. Apakah dia belum datang? Kalau belum, terus siapa tamu yang ada di ruang tamu sekarang?" Gumamnya sambil mengelap barang-barang yang ada di dalam rumah.
__ADS_1
Setelah membereskan halaman samping, Umi memintanya untuk mengelak barang-barang yang ada di sekitar rumah ini. Awalnya Aira senang karena dia bisa pergi ke dapur, tapi setelah setengah jam bekerja tanpa jeda dia menyesalinya. Tidak ada bedanya dia dengan pembantu. Lebih baik tidak usah datang ke sini jika akhirnya akan seperti ini.
"Eh..." Matanya langsung berbinar terang ketika melihat habib Khalid keluar dari sebuah ruangan.
"Habib Thalib?" Sapa Aira sembari meletakkan kain lap di atas meja dan buru-buru menghampiri sang sang habib.
Habib Khalid menghentikan langkahnya. Lalu dia melirik Aira, sedetik kemudian dia memalingkan wajahnya acuh tak acuh.
"Habib Thalib juga ikut acara sore ini, yah? Sejak kapan habib Thalib ada di rumah ini? Kenapa aku tidak melihat habib Thalib datang di halaman depan?" Tanya Aira penasaran.
Dia sengaja melembutkan suaranya selembut mungkin di hadapan sang habib. Wajahnya yang cantik memerah, dengan senyuman manis di wajah, penampilannya memberikan ilusi bahwa dia adalah wanita yang rapuh dan lemah lembut.
Namun sayang sekali, habib Khalid tidak tertarik.
"Lewat pintu belakang." Jawab sang habib tanpa menoleh ke arahnya.
__ADS_1
Masih tersenyum lembut,"Oh...jadi lewat pintu belakang ternyata. Pantesan aku tidak melihat habib Thalib di depan." Kemudian dia teringat tadi siang Umi memintanya untuk membersihkan halaman belakang tapi dia menolak karena halaman belakang bau amis. Ada kolam ikan lele di halaman belakang sehingga udaranya berbau amis. Aira merasa jijik dan membuat alasan untuk membersihkan halaman samping. Ternyata dia telah melewatkan sesuatu yang sangat penting dan dia menyesalinya. Jika dia tahu habib Khalid akan lewat pintu belakang maka dia akan berjemur dan mengabaikan rasa jijik untuk membersihkan halaman belakang. Dia sangat menyesalinya sekarang.