
"Doamu sangat baik, tapi pikirkanlah bagaimana perasaan istri pertama habib Thalib nantinya? Setidaknya milikilah hati nurani sedikit saja, dan pikirkan bila kamu yang ada di posisi wanita itu. Aku tidak ingin menjadi munafik bahwa Islam memang menghalalkan menikahi banyak wanita, tapi sebagai seorang wanita juga coba pikirkan bagaimana perasaan wanita pertama itu bila kamu ingin masuk ke dalam rumah tangganya. Semua wanita di dunia ini pasti tidak ingin melihat suami mereka bersanding dengan wanita lain apalagi sampai bermesraan di satu ranjang, rasanya pasti begitu sakit. Namun kamu di sini begitu mudahnya berdoa kepada Allah untuk dijadikan sebagai yang kedua, ketiga, atau keempat? Sungguh, menurutku kamu adalah wanita yang kejam. Semoga Allah menjauhkan habib Thalib dari wanita seperti kamu." Dira, yang sedari tadi menyimak pembicaraan mereka akhirnya angkat bicara dan melepaskan perasaan tertekan di dalam hati.
Ada apa dengan menikahi satu istri?
Bukankah di dalam Islam itu jauh lebih baik daripada menikahi banyak istri tapi tidak bisa berlaku adil secara fisik dan batin?
Hei, tidak ada yang bisa berlaku adil di dunia ini sekuat apapun manusia itu mencoba sebab keadilan hanya Allah yang memilikinya. Jadi dari daripada merusak diri sendiri untuk hawa nafsu yang berlebihan maka kenapa tidak cukup dengan satu saja?
Satu amanah itu sudah sangat besar, loh. Hanya dengan satu istri seorang suami memiliki banyak sekali ujian di dalam rumah tangganya. Dan dengan satu amanah ini pula kehidupan rumah tangga bisa jadi tidak terlalu mulus. Lalu mengapa menambah wanita lain di dalam bahtera rumah tangga?
Akan sangat luar biasa bila semua istri damai dan tidak memendam kebencian kepada masing-masing saingan cinta, tidak saling menjatuhkan anak yang lahir dari wanita saingan cinta, dan tidak saling mencumburui untuk kasih sayang suami yang lebih condong kepada wanita manapun. Lihatlah, betapa berat cobaan pernikahan ini bila memiliki lebih dari satu.
Dan selain itu rata-rata orang di zaman ini menikahi banyak wanita tanpa mengikuti syarat yang seharusnya.
"Dir, kamu ngapain sih ngomong? Ilmu agama kita masih cetek dalam urusan begini jadi diam aja walaupun kita nggak setuju!" Gisel menarik lengan Dira kesal karena apa yang dia katakan telah menarik banyak perhatian santriwati di depan.
Jelas opini ini menimbulkan banyak pro dan kontra di antara mereka semua. Ada yang mendukung juga ada yang tidak mendukung. Ini adalah hal yang sangat wajar.
Dira merenggut tak suka, apa yang dikatakan memang benar kok. Dan dia juga sangat membenci pernikahan yang tidak cukup memiliki satu ratu di dalamnya.
"Ayo pergi." Aish menarik tangan Dira dan Gisel pergi sebelum mendengarkan komentar-komentar dari para santriwati.
Dia menarik mereka berdua mengikuti kemana habib Thalib dan wanita itu pergi.
__ADS_1
"Lain kali nggak usah ngomong apa-apa kalau nggak mau digebukin sama mereka!" Di jalan Gisel masih saja menggurui Dira agar belajar menutup mulutnya dan tidak mengundang kemarahan banyak orang seperti tadi.
"Aku nggak suka sama pemikiran mereka. Apa semudah itu merusak hubungan rumah tangga orang lain? Apa sesama wanita tidak memiliki simpati di dalam hatinya?" Ucapnya sendu ketika memikirkan dia telah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya.
Sampai dengan hari ini baik Papa ataupun Mama tidak datang mengunjunginya. Bahkan untuk mengklarifikasi apa yang Dira dengar hari itu saja mereka sepertinya sangat enggan datang. Setiap kali memikirkannya hati Dira langsung berdenyut sakit.
"Wanita yang egois tidak akan memiliki simpati di dalam hatinya. Ini adalah jawaban yang paling valid. Dengar teman-teman, aku tidak mengatakan bahwa kalian harus pergi bila menemui situasi ini di dalam rumah tangga kalian, tapi jika kalian benar-benar memiliki situasi di dalam rumah tangga kalian dan kalian tidak sanggup menjalani rumah tangga yang menghadirkan wanita lain di dalamnya, maka menyerah saja. Allah tidak marah kalian melepaskan pernikahan itu. Daripada menimbulkan penyakit hati dan menjadi orang yang pembenci, tidak apa-apa meninggalkan pernikahan itu. Kalian harus ingat ini." Setelah sekian lama bungkam terhadap topik masalah ini Aish akhirnya akan bicara.
Mamanya dulu juga merupakan wanita yang diduakan di dalam pernikahannya sendiri. Dan dari jatuhnya Mama depresi Aish membayangkan bahwa pernikahan seperti itu sangat berbahaya, tidak hanya menyakiti fisik tapi juga batin yang sangat berbahaya.
"Aku setuju apa- Eh, habib Thalib tuh." Gisel langsung membalik pundak Aish agar melihat ke arah yang ditunjuk.
Habib Khalid berjalan menuju rumah Umi sembari tertawa dengan wanita itu. Entah apa yang wanita itu katakan, tapi setiap kali dia berbicara habib Thalib akan tertawa. Selain itu tas jinjing yang dibawa oleh wanita tadi kini telah berpindah tangan ke habib Thalib. Sedangkan wanita itu tidak membawa apa-apa di tangannya.
Sahabatnya ini sangat menyukai sang habib hingga rela melakukan perubahan besar-besaran terhadap dirinya sendiri. Dan semua perubahan itu dia lakukan hanya untuk sang habib.
"Ayo kembali." Aish tersenyum pahit.
"Kamu nggak mau ketemu sama habib Thalib dulu? Siapa tahu ini hanya kesalahpahaman saja." Bila tidak ingin sahabatnya kecewa.
Aish menggelengkan kepalanya.
"Dia lelah. Nanti kalau sudah waktunya pasti ketemu kok." Pada kenyataannya Aish langsung minder melihat wanita itu dan dia juga malu dengan dirinya sendiri yang tidak sehebat wanita itu.
__ADS_1
"Baiklah. Kalau memang ketemu, kalian pasti akan bertemu juga." Gisel berusaha mengerti perasaan sahabatnya yang sedang tidak mood.
...*****...
"Aira, kamu akan pulang?" Fani datang menyapa dengan barang-barang di tangannya.
Dia juga akan kembali ke rumahnya.
Aira mengangguk jangan senyuman manis di wajah.
"Bunda telepon kemarin. Dia bilang aku harus pulang karena orang-orang rumah merindukanku." Jawab Aira dalam suasana hati yang baik.
Dia sangat puas. Saat menelpon kemarin tak satu pun dari orang-orang rumah yang menanyakan tentang kabar Aish. Mereka tidak peduli apakah Aish pulang atau tidak karena semua orang tidak memiliki harapan kepada Aish.
"Lalu bagaimana dengan kakakmu?"
Aira mengangkat bahu lemah,"Dia masih marah dan tidak mau pulang ke rumah."
"Ohhh... Ngomong-ngomong hari ini sangat hidup di pondok pesantren. Aku tidak menyangka habib Thalib pulang ke pondok pesantren setelah sebulan menghilang tanpa kabar." Fani berkata dengan nada tidak berdaya.
Jika tidak pulang maka dia bisa melihat sang habib, alangkah baiknya itu. Tapi dia harus pulang karena orang tuanya sudah minta.
Tangan Aira yang sedang melipat pakaian-pakaiannya langsung membeku. Dia menata Fani dengan mata terbelalak kaget,"Habib Thalib sudah pulang?" Matanya langsung bersinar terang.
__ADS_1