
"Ini... apakah ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Nadira kepada semua orang.
Tapi semua orang masih enggan berbicara meladeni Nadira. Hingga akhirnya 5 menit berlalu, suasana kaku ini masih berlanjut dan Umi tidak bisa menahannya lagi.
"Abah, lebih baik pembicaraan ini ditunda saja. Kasihan Nadira, dia pasti lelah setelah melakukan perjalanan jauh." Kata Umi mencoba menunda pembicara.
Nasifa mengernyit tidak setuju. Umi adalah orang yang paling lembut saat berhadapan dengan Nadira dan dia sudah menebaknya dari awal jika Umi pasti tidak setuju masalah ini dibahas. Sebab ini pasti akan menyakiti Nadira.
"Tidak perlu. Jika dibiarkan berlarut-larut, masalah ini akan semakin sulit diselesaikan." Kata Abah tanpa menoleh ke istrinya.
Umi tahu. Dia kembali menundukkan kepalanya malu dihadapan suaminya sendiri.
"Abah, ada apa ini?" Nadira menatap Abah penasaran.
Abah mengangkat kepalanya menatap putri keduanya dengan ekspresi yang sangat tenang. Siapapun di rumah ini tidak bisa melihat emosi di dalamnya, namun mereka tahu bahwa ini adalah pertanda badai yang akan segera menyerang. Tidak ada yang bisa tersenyum di sini. Bahkan Nadira yang selalu memasang wajah tersenyum pun akhirnya kehilangan senyum saat melihat wajah tenang Abah.
"Apa benar kamu menyukai habib Thalib dan mulai mengejarnya?" Tanya Abah dengan suara tuanya yang rendah.
Nadira tertegun, melirik Nasifa di sampingnya yang sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Dia tahu bahwa Nasifa pasti melaporkannya kepada Abah.
__ADS_1
"Benar, Abah. Aku menyukai habib Thalib dan mengejarnya. Jujur, Nadira sudah mencintainya sejak dulu. Hingga saat ini perasaan itu masih sama. Dan apakah Abah dan Umi tahu? Alasan aku pergi ke Mesir adalah karena ingin mengejar habib Thalib. Aku berjuang sekeras mungkin agar memiliki nilai yang baik dan bisa pergi ke Mesir. Aku ingin pantas dan layak di depan habib Thalib karena itulah aku terbang ke Mesir. Abah dan Umi harus membantu ku berbicara dengan habib Thalib. Aku yakin, dengan kalian, habib Thalib tidak akan menolak ku-"
"Tidak mungkin." Potong Abah dengan mata terpejam.
Sakit rasanya mendengar putri terkasihnya mendambakan seorang laki-laki. Dan alangkah baiknya jika laki-laki itu bukan habib Khalid sejak anak laki-laki itu sangat tabu untuknya. Dia tidak mampu menyentuh ataupun mempengaruhinya karena habib Khalid... adalah orang yang teguh pendirian dan cukup sulit.
"Apa maksud Abah?" Tanya Nadira tidak mengerti.
Matanya mulai memerah di bawah pengawasan semua orang.
"Nadira, sudah Abah katakan dari dulu agar jangan menyukai habib Thalib. Di antara semua habib dan sayid, Abah mempersilakan kamu menyukai siapapun asal jangan habib Thalib. Tidakkah kamu mengingat apa yang Abah selalu katakan selama ini?" Tanya Abah tidak mengerti.
Nadira juga tahu ini tapi dia tidak tahu alasan kenapa Abah melakukan ini.
"Kenapa Abah? Kenapa Nadira enggak boleh sama habib Thalib? Abah lihat sendiri kan habib Thalib merupakan orang yang pekerja keras, mandiri, baik, ramah, hangat, diidolakan banyak orang, dan memiliki wawasan ilmu yang cukup luas. Dan yang lebih penting lagi kita semua satu nasab, Abah? Jadi kenapa Nadira tidak bisa bersamanya? Atau...ini karena kak Nasifa? Kak Nasifa kan sudah menolak pertunangannya dengan habib Thalib dulu jadi harusnya aku diberikan kesempatan kali ini apalagi aku masih belum memiliki tunangan!"
"Kamu salah, dek! Aku tidak pernah menolak pertunangan itu dan aku tidak pernah menolak habib Thalib, tapi habib Thalib lah yang menolak kakak! Dia menolak kakak di hari Abah ingin mengajukan pertunangan itu! Habib Thalib tidak pernah sejak awal dengan pertunangan itu dan bahkan tidak memberikan kakak kesempatan untuk memantaskan diri! Dia tidak menyukai kakak, dek!" Bantah Nasifa dengan suara tercekat.
Dia mencintai habib Thalib, hampir merindukannya di setiap malam. Dia selalu bermimpi menjadi kekasih sang habib, bersanding di dalam sebuah pernikahan. Tapi rasa sakit penolakan itu masih teringat jelas di dalam kepalanya. Habib Thalib begitu kejam, menolaknya tanpa ampun dan langsung menjaga jarak darinya seolah-olah menghindari sebuah wabah. Hati siapa yang tidak terluka?
__ADS_1
Hati siapa yang tidak sakit?
Tapi Nasifa berusaha menahan semuanya sembari berdoa Allah mempertemukannya dengan laki-laki yang mampu menghapus rasa ini terhadap sang habib. Sungguh, dia sangat sakit setiap kali memikirkannya.
"Kenapa... kenapa... bukankah kak Nasifa yang menolak habib Thalib?" Tanya Nadira kosong.
Nasifa berusaha menahan air mata di matanya, tapi sekuat apapun dia menahannya, air mata itu tetap tumpah dan mulai membasahi wajahnya yang pucat.
"Siapa bilang? habib Thalib tidak pernah menerima pertunangan itu sejak awal. Dia menolak kakak dengan tegas apapun yang kakak katakan dan coba lakukan. Keputusannya tidak pernah bisa diganggu gugat. Kakak yang ditolak, dek, bukan kakak yang menolak! Mana mungkin...kakak menolaknya..." Isaknya tertahan berusaha menjaga suaranya yang parau.
Nadira menatap kosong kakaknya, menatap betapa menyakitkan ekspresi kakaknya sekarang menahan sakit. Lalu ada apa dengan angan-angannya selama ini?
Abah menghela nafas berat dan langsung menyela pembicaraan mereka berdua. Kedua putrinya jatuh di lubang yang sama, tidak terbayangkan betapa hancur hati Abah melihat kedua putrinya patah hati di laki-laki yang sama.
"Tidak, Nadira. Ini lah alasan kenapa Abah meminta mu agar jangan jatuh cinta kepada habib Thalib. Bukan karena habib Thalib tidak baik, tidak, dalam hidup ini Abah belum pernah melihat laki-laki yang lebih baik daripada habib Thalib. Dia memiliki semua yang seorang mertua rindukan di dunia ini. Dia adalah laki-laki yang sangat baik. Namun, laki-laki ini sudah memiliki wanita lain di dalam hatinya. Dan penolakannya terhadap pertunangan kakakmu dulu adalah karena wanita ini pula. Dia bilang, hatinya sudah cukup memiliki satu wanita di dunia ini dan dia tidak menginginkan yang lain. Sekarang apalah kamu mengerti mengapa habib Thalib menolak kakakmu dan aku bahkan melarang mu menyukainya?"
Pernyataan ini bagaikan sebuah tamparan untuk Nadira. Dia jatuh bersandar di sofa, menangis terisak tenggelam dalam kesedihannya yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Di sampingnya, Nasifa juga ikut menangis melihat betapa sedih adiknya. Dia beringsut mendekati adiknya dan memeluknya hangat. Mereka berdua menangis bersama untuk berbagi kesedihan. Sesaat, suasana menegangkan tadi langsung digantikan oleh suara isak tangis kedua harta yang paling berharga pasangan suami-istri itu.
Abah melihatnya dengan tidak berdaya dan Umi pun sama tidak berdayanya. Mereka terjatuh dalam kesedihan yang merasuki dada.
__ADS_1