
Mereka berdua sepakat mengirimkan surat Al-fatihah kepada sahabat mereka yang digondol oleh seorang habib. Lihatlah betapa berbaktinya mereka sebagai sahabat, tidak mengambil sikap bijak untuk tidak menolong Aish, tapi mereka juga mengirimkan surat Al-fatihah yang dirindukan oleh banyak penghuni ku- oh, tepatnya oleh seluruh umat muslim di dunia ini. Yah... itu...
"Jangan mikirin alam lain kamu. Ini udah malam dan kita tinggal beberapa biji di asrama, situasinya pasti jauh lebih sepi dan menegangkan daripada malam-malam sebelumnya." Sebelum Dira terus menghayal, Gisel buru-buru menutup mulutnya sambil berdoa di dalam hati agar makhluk gaib yang lewat tidak mengambil kesempatan untuk iseng kepada mereka berdua, manusia-manusia yang terlahir dengan hati yang murni juga lugu.
"Iya-iya, aku berhenti ngomong nih." Dira menepis tangan Gisel dari melihatnya.
Untung mereka makan pakai sendok sehingga tangan Gisel yang membekap mulutnya tidak mengandung bau mencurigakan.
"Eh, ngapain kamu di sini?" Masuk ke dalam kamar, Dira melihat Gadis tengah berdiri di depan lemari Aish.
__ADS_1
Dia langsung menegur Gadis hingga membuatnya berjenggit kaget. Gadis sangat panik dan tanpa sadar mengambil langkah mundur menjauh dari lemari Aish. Sikapnya yang mencurigakan terus terang membuat Dira dan Gisel curiga. Apalagi ketika mengingat kecurigaan saat Gisel kehilangan tabungannya, mereka tanpa sadar membangun kewaspadaan kepada Gadis.
"Aku nggak ngapa-ngapain." Gadis mengontrol ekspresi wajahnya seperti tidak terjadi apa-apa.
Gisel tidak percaya.
"Terus ngapain kamu berdiri di depan lemari Aish? Tau nggak gelagat kamu tuh aneh banget." Ucap Gisel blak-blakan.
Wajah Gadis langsung memerah merasa malu diperhatikan oleh banyak pasang mata. Perasaan dicurigai oleh teman-teman kamar yang lain terasa sangat jelas di hati. Sekilas mata teman-temannya memiliki prasangka kepada dirinya.
__ADS_1
"Aku ke lemari Aish cuma mau berkaca dan meminjam pelembab bibir, soalnya bibir aku pecah-pecah karena kering." Gadis berkilah, membuat alasan yang masuk akal.
Memang benar bahwa bibir Gadis terlihat agak kering dan pecah-pecah. Kondisi memang membutuhkan bantuan dari pelembab bibir, tapi baik Gisel dan Dira tidak mempercayainya. Bahkan walaupun benar, mereka berdua tetap tidak menyukainya karena perilaku Gadis terkesan lancang.
"Kalau kamu ingin meminjam, tunggu dulu Aish kembali dan jangan sembarangan menyentuh barang-barang orang. Bukankah kamu pernah belajar adab sebelumnya bahwa tidak sopan menyentuh barang orang sebelum meminta izin. Jika kamu menyentuhnya tanpa izin itu sama saja kamu ingin mencurinya sekalipun kamu berniat hanya meminjam saja." Tangkas Dira membuat Gadis merasa dipermalukan.
Teman-teman kamar yang lain juga memiliki pendapatan yang sama dan tidak menyalahi Dira karena terlalu terang-terangan. Di sini kita berbicara tentang adab. Sentuh barang orang jika kamu diizinkan dan lupakan jika tidak. Apabila pemilik barang masih belum pulang, maka tunggu saja dan jangan menyentuh.
Ini adalah pelajaran dasar yang diketahui oleh semua orang, anak TK pun tidak luput dari hal sedasar ini.
__ADS_1
"Kalian berdua terlalu berlebihan. Apa salahnya memegang? barang itu juga ujungnya aku kembalikan. Lagi pula kita semua adalah teman sekamar. Untuk masalah sekecil ini kita tidak perlu saling memperhitungkan atau merasa sungkan untuk meminjam barang. Reaksi kalian berlebihan dan kalian sangat pelit pada teman kamar sendiri."