
"Iya, Bu. Terima kasih telah mempercayai aku. Tapi aku takut orang-orang di pasar tidak menurunkan harganya kepadaku. Soalnya aku masih terlalu muda dan belum pernah turun ke pasar untuk membeli barang-barang ini." Dia dan kedua sahabatnya pernah pergi ke pasar, tapi mereka turun untuk membeli makanan saja dan beberapa pakaian.
Mereka tidak pernah membeli sayuran ataupun bumbu. Jadi Gisel agak cemas.
"Kamu tidak perlu gugup. Katakan saja kamu dari pondok pesantren Abu Hurairah, orang-orang tidak akan berani bermain harga dengan kamu. Bukannya bermain harga, tapi mereka malah menurunkan harganya. Orang-orang di pasar memiliki hati yang lembut jadi kamu tidak perlu khawatir." Juru masak menenangkannya.
Dia sengaja meminta Gisel pergi ke pasar. Selain ingin melatih mentalnya, juru masak juga ingin melihat bagaimana Gisel menjaga amanah darinya.
"Ini uangnya, 1 juta. Pulanglah sebelum jam 10." Instruksi juru masak kepada Gisel.
Gisel memegang erat uang dan kertas daftar bahan yang ada ditangannya.
"Iya, Bu. Aku akan segera kembali secepat mungkin."
"Baik, pergilah dengan Laras. Di depan pintu pondok pesantren, sudah ada orang yang menunggu kalian berdua."
Gisel sangat senang bisa pergi bersama Laras. Untungnya itu Laras, karena dia masih canggung dengan orang lain di dapur ini.
"Siap, Bu. Kalau begitu kami pergi sekarang. Assalamualaikum." Laras juga sangat senang disuruh pergi bersama Gisel.
Pasalnya dia juga ingin keluar ke pasar untuk membeli sesuatu.
Setelah mengucapkan pamit kepada juru masak, mereka berdua kembali ke asrama terlebih dahulu untuk mengambil tas ataupun dompet.
Gisel sengaja membawa tas punggung karena di dalam tasnya ada uang pemberian Dira. Dia berencana langsung menabung uang ini setelah pulang dari pasar. Berharap saja semoga Bank tidak terlalu ramai dan Gisel tidak perlu menunggu lama. Takutnya dia tidak kembali sampai jam 10 siang. Dia tidak mau mengecewakan kepercayaan juru masak kepadanya.
Setelah mengemas uang itu dengan baik di dalam tas, dia dan Laras langsung bergegas menuju ke depan pintu pondok pesantren. Untung saja Laras membawa ponselnya sehingga mereka tidak tersandung ketika berjalan di bawah gelapnya malam. Um, ini kasih gelap. Perkirakan 20 atau 30 menit lagi, matahari akan terbit.
"Ayo, dek. Lebih cepat."
Gisel mempercepat langkahnya.
"Iya, kak."
Beberapa menit kemudian mereka akhirnya sampai. Di lobby mereka melihat beberapa laki-laki tengah berdiri. Salah satunya adalah Danis. Dia sedang mengobrol dengan beberapa satpam dan seorang ustad yang sudah tidak asing lagi bagi mereka.
Gisel gugup.
"Siapa yang akan mengantarkan kita ke pasar?" Gisel berusaha tidak menatap ke arah Danis.
__ADS_1
Baru saja pertanyaan ini jatuh, Danis menoleh ke belakang dan menemukan mereka berdua berdiri kebingungan.
"Sudah siap? Ayo berangkat."
"Hah?" Reaksi Laras.
"Apa?" Gisel sama terkejutnya dengan Laras.
Jadi mereka berdua akan pergi bersama Danis?
"Pergi ke pasar. Ayo, sebelum matahari terbit. Kita harus bergegas ke pasar." Kata Danis memperjelas.
Laras dan Gisel saling memandang. Mereka berdua memiliki reaksi yang berbeda. Sementara Laras mulai menghidupkan jiwa jiwa gosip di dalam hatinya, Gisel justru dipenuhi oleh gelombang merah muda.
Apa yang harus dilakukan. Tiba-tiba dia bertemu dengan Danis dan pergi bersama dengan Danis. Walaupun ada Laras di antara mereka berdua, namun tetap saja itu membuat hati Aish berdebar kencang. Di waktu yang sama dia kebingungan. Tidak tahu harus meletakkan tangannya di mana dan kakinya melangkah ke mana. Dirinya salah tingkah.
Berbisik,"Gisel, jika orang-orang di dapur tahu kalau kita pergi sama Danis, mereka pasti akan sangat cemburu. Soalnya kita beruntung banget hari ini. Disuruh ke pasar dan yang mengantarkan adalah Danis. Kita memiliki awal hari yang indah." Ucap Laras tidak memperhatikan perubahan wajah teman sekamarnya.
Gisel hanya menganggukkan kepalanya sembari menunduk untuk menyembunyikan warna merah di wajahnya.
...*****...
Pasar tidak terlalu jauh apalagi ditempuh dengan mobil. Gisel dan Laras duduk di kursi belakang, sementara Danis sendirian di kursi depan. Sepanjang jalan tidak ada yang berbicara. Mereka bertiga canggung di dalam mobil.
Detik demi detik dia lewati dengan debaran jantung yang terus membuat kekacauan di dalam dada. Gisel tidak berani menggerakkan kepalanya menatap ke depan. Sepanjang jalan dia menoleh ke samping, menatap pemandangan subuh yang langka. Karena perlahan-lahan sinar matahari mulai muncul, membuat pepohonan dan tanaman padi yang baru menumbuhkan buah memiliki sinar kemasan di sekeliling mereka.
Tanpa sadar Gisel begitu menikmati. Hatinya menjadi tenang dan damai pada saat yang sama. Memang benar, alam selalu menjadi tempat untuk menenangkan diri yang telah direduksi menjadi tempat kesakitan oleh kehidupan.
"Eh," Gisel termenung.
Dia menyadari kalau kecepatan mobil agak lambat. Ragu, dia diam-diam mengintip Danis lewat spion depan.
Deg
Mata mereka berdua bertemu. Gisel sontak memalingkan wajahnya berpura-pura tidak melihat apa-apa. Tapi rona merah yang mulai mengembang di wajahnya tidak dapat membohongi apa yang dirasakan sekarang.
Rasanya begitu manis.
"Sudah sampai."
__ADS_1
Mereka akhirnya sampai tepat di depan pasar. Setelah memarkirkan mobilnya, Danis, Gisel, dan Laras turun dari mobil bersama-sama.
Gisel memandangi keramaian di dalam pasar. Ini masih sangat pagi. Matahari baru saja terbit. Tapi pasar sudah ramai. Bisa dibayangkan bagaimana ramainya, jika mereka datang agak belakangan.
"Ayo pergi." Danis memimpin jalan di depan dan diikuti oleh Gisel dan Laras.
Awalnya Gisel ingin berjalan di belakang. Tapi Laras melarangnya. Katanya pasar rawan pencuri dan pencopet. Gisel harus berhati-hati karena dia membawa uang sebesar 1 juta di tangannya. Itulah alasan kenapa Laras memintanya di tengah.
Setelah diingatkan oleh Laras, dia tidak menolak lagi. Soalnya dia memegang uang yang lebih besar dari uang dapur ditangannya. Jika dia kehilangan uang itu, dia tidak harus berbicara apa dengan Dira nantinya.
"Ibu bilang apa sama kamu tadi?" Danis berbicara kepada Gisel, namun matanya masih menatap lurus ke depan.
Gisel berusaha menenangkan dirinya setenang mungkin.
"Ibu memberikan kami daftar bahan-bahan dapur yang akan kami beli. Pertama-tama kami harus membeli jagung manis sebanyak 20 kilo. Lalu kentang dan wortel sama-sama 10 kilo, kemudian cabe hijau dan cabe merah sama-sama 2 kilo juga, setelah itu membeli bumbu lainnya seperti bubuk penyedap 5 bungkus dan gula putih, serta merah masing-masing 3 kilo. Selain membeli barang-barang ini, ibu menulis kami akan membeli terasi sebanyak 3 kilo karena dapur semalam sudah kehabisan..." Gisel membacakan daftar itu satu demi satu di depan Danis.
Jadi ketika Danis melihat pedagang sayuran yang dicari, mereka akan langsung ke sana. Dengan bantuan Danis, belanja di pasar tidak menghabiskan terlalu banyak waktu.
Pukul sembilan, semuanya sudah masuk ke dalam mobil. Belanjaan mereka menghabiskan total Rp 906.000 untuk keseluruhan belanja. Kini sisa tinggal 94.000. Gisel memegangnya erat-erat dan tidak berani menggunakannya sepeser pun.
"Ayo pulang." Kata Laras.
Dia juga membeli beberapa makanan seperti mie instan berbagai macam rasa, kue-kue khas pasar, dan gorengan untuk dimakan di kamar nanti. Dia ingin membeli pakaian, tapi uang yang dibawa tidak cukup jadi dia dengan menyesal menahan diri.
Sementara Gisel juga ikut membeli beberapa mie instan dan jajanan yang lainnya sebagai makanan cadangan jika sewaktu-waktu mereka ingin makan. Apalagi tengah malam, seringkali rasa lapar itu datang ketika menjelang tidur.
Belanjanya lumayan banyak. Dia menggunakan uang pribadinya sendiri.
Untuk belanja di pasar dia hampir menghabiskan 200.000. Hatinya agak sakit, tapi saat memikirkan tabungannya yang ada di rekening, dia kembali merasa damai.
Kali ini saja berbelanja dengan boros. Lain kali dia harus menahan diri.
"Ayo pulang ke pondok pesantren. Kita akhirnya menyelesaikan misi." Laras dalam suasana hati yang baik.
Sepanjang berbelanja di pasar, Danis lah yang bertugas membawa barang-barang berat. Sementara mereka berdua hanya membawa sedikit barang dan ringan.
"Um...kak Danis, boleh nggak kita mampir ke bank sebentar?"
Danis meliriknya,"Boleh. Ke bank mana?"
__ADS_1
Gisel lega.
"Bank ini..."