Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 21.12


__ADS_3

Wanita cantik itu berdiri sendu memandangi pemandangan di luar jendela. Di tangan ramping wanita itu terdapat sebuah foto dua gadis cantik yang tengah tersenyum menghadap langsung ke mata kamera. Ini adalah foto 30 tahun yang lalu saat di mana dia dan gadis itu tenggelam dalam masa remaja yang indah. Begitu banyak pilihan yang datang menanti, begitu banyak tangan yang terulur menunggu, ada banyak ketidakpastian juga pilihan dari yang baik. Namun di antara semua pilihan itu ada satu kemungkinan yang tak pernah dipikirkan oleh mereka berdua dan menjadi bumerang, penghancur hubungan baik yang telah terjalin bertahun-tahun lamanya.


Mereka adalah orang yang spesial ditakdirkan untuk bersama dengan orang yang spesial pula. Sewajarnya wanita seperti mereka berakhir dengan nasab yang sama untuk menjaga garis keturunan. Mereka tidak diizinkan bersanding dengan laki-laki biasa karena bisa memutuskan hubungan nasab.


Ajaran ini telah melekat jauh di dalam kepala mereka tapi suratan takdir tak ada yang mengetahuinya. Seperti yang terjadi 20 tahun yang lalu.


"Apa yang sedang kamu pikirkan? Sekarang kita sudah ada di sini, kamu bisa melihatnya sepuas mungkin." Laki-laki tinggi berkacamata yang diduga sebagai pelayan berjalan mendatangi wanita itu, merangkul wanita itu ke dalam pelukan hangatnya.


Wanita itu tersenyum kecut. Dia mengangkat kepalanya menoleh ke arah laki-laki itu,"Habib, wajahnya persis sekali dengan kakakku. Sama seperti kakakku, dia terlahir cantik di dunia ini dan aku dengar, dia juga memiliki temperamen yang kuat dan keras kepala. Aku... Pertama kali aku bertemu dengannya kemarin, aku hampir mengira dia adalah kakakku. Kakakku yang masih remaja. Aku sangat sedih." Ucapnya berbicara mengungkapkan perasaan hatinya sekarang.


Ternyata laki-laki yang diduga sebagai pelayan itu adalah seorang habib, suami dari wanita ini.


"Jangan sedih. Aish jauh lebih baik sekarang daripada kabar buruk yang kita dengar di rumah. Dia memiliki senyuman yang manis sama seperti almarhumah kakak. Ketahuilah, kakak pasti senang melihat Aish tumbuh dengan baik dan sehat hingga sebesar ini. Dia bangga karena Aish menjadi gadis yang kuat dan cantik." Sambil berbicara habib meraih foto yang ada di tangan istrinya itu dan memegangnya bersama-sama, menatap wajah cantik gadis menawan yang tengah tersenyum lebar di dalam foto.


Saat itu dia masih remaja dan memiliki kekaguman kepada istri yang ada di dalam pelukannya sekarang. Namun Arumi, atau sebut saja Mama Aish adalah gadis yang tidak mudah didekati. Dia sangat keras kepala dan protektif terhadap adiknya sendiri saya nggak butuh perjuangan besar untuk bisa mendekati istrinya sekarang.

__ADS_1


"Kak Arumi membuat pilihan yang salah. Bukankah Abah dan Umi telah mengatakan kepadanya bahwa dia harus menikah dengan habib Zakir, tapi dia menolak kesempatan baik itu hanya untuk laki-laki yang menelantarkannya. Aku... Padahal aku sudah berkali-kali mengatakan kepadanya bahwa jalan yang dia pilih memiliki banyak tantangan dan masalah, aku juga istirahat terang-terangan mengatakan bahwa laki-laki itu tidak mencintai kak Arumi. Tapi kak Arumi tidak mempercayai apa yang kukatakan dan tetap kukuh bersama dengan laki-laki itu. Lalu apa yang terjadi? Keluarga kecewa kepadanya hingga kak Arumi memutuskan untuk tidak pernah kembali lagi ke rumah, dia tahu bahwa semua orang kecewa kepadanya tapi dia tidak bisa melepaskan laki-laki itu. Pernikahan yang kak Arumi impikan itu hanyalah semu belaka, rumah tangganya hancur ketika baru dimulai dan Aish... Memiliki kehidupan yang sulit di rumah itu. Jika tidak ada perjanjian itu, maka Aish pasti sudah lama kembali ke rumah yang seharusnya." Setiap kali mengenang masa-masa itu, hatinya terasa panas terbakar amarah. Belum ridho hati ini mengingat kepergian kakaknya yang mengenaskan. Hanya untuk perasaan cinta sesaat, Arumi pergi meninggalkan keluarga dan memilih tinggal dengan laki-laki itu, laki-laki yang tidak pernah menganggap dirinya sendiri dan mencampakkannya untuk wanita lain. Imbasnya, Aish adalah korban yang masih tersakiti hingga detik ini.


Bila Arumi masih hidup mungkin dia tidak akan pernah mengambil pilihan yang sama lagi, terjebak dalam cinta yang putus asa hingga membayangi rantai luka di dalam hati Aish.


"Tenanglah... Rumi, itu semua sudah menjadi masa lalu. Yang terpenting sekarang adalah kita akhirnya bisa bertemu dengan Aish. Dia kini telah dewasa, kamu bisa bertemu dan berbicara leluasa dengannya untuk mengenang masa-masa yang kamu lalui bersama Mamanya. Dan kamu juga bisa membawa dia pulang untuk bertemu dengan keluarga yang lain. Tidakkah anak-anak kita dan anggota keluarga yang lain penasaran ingin bertemu dengan Aish?"


Rumi tersenyum tipis,"Bagaimana jika dia tidak menyukai kita, habib? Dia pasti bertanya-tanya mengapa kita tidak pernah mencarinya selama waktu itu dan mengapa kita baru bisa mencarinya sekarang? Dia sudah dewasa. Dia memiliki banyak pikiran dan tebakan mengapa kita baru peduli kepadanya sekarang?" Tanyanya ragu.


Dia punya keraguan bahwa Aish mungkin tidak mudah didekati. Ditambah dengan luka di masa lalu, dia mungkin tidak terlalu mempercayai ikatan keluarga lagi.


Rumi menutup matanya merenungi apa yang dikatakan oleh sang suami. Dalam diam dia mengangguk, memahami apa yang coba disampaikan oleh sang suami kepadanya. Saat itu memang janji sudah dibuat, dan pihak laki-laki jauh lebih berhak daripada mereka. Jadi mereka tidak bisa melakukan apa-apa terhadap Aish.


"Aku mengerti. Hanya saja aku bingung kenapa aku tidak melihat Aish dari subuh tadi di masjid? Aku hanya melihat kedua sahabatnya di masjid tapi tidak dengannya. Dan saat di kantin tadi pun aku memperhatikan bahwa Aish tidak datang bersama kedua sahabatnya untuk sarapan, aku bingung ke mana anak itu pergi? Padahal aku yang berbicara dengannya." Bingung Rumi bertanya-tanya ke mana Aish menghilang.


Padahal semalam dia kesulitan tidur memikirkan bagaimana cara mendekati Aish dan memulai pembicaraan yang baik dengannya.

__ADS_1


Mendengar kebingungan sang istri, habib lantas tertawa kecil dan semakin menambah kebingungan sang istri.


"Kamu bertanya dia ke mana? Tentu saja dia bersama dengan habib Thalib. Anak itu sejak di jalan kemarin tidak berhenti memikirkan keponakan tersayang kita, dia pasti sudah tidak sabar bertemu dengan Aish. Dan begitu bertemu, Aish langsung diculiknya." Habib menggelengkan kepalanya tidak berdaya.


Selain kagum dengan darah muda yang sedang menggebu-gebu, dia juga merasa heran dengan kesabaran yang ditanggung oleh habib Khalid dalam hubungan ini. Belum pernah dirinya bertemu dengan laki-laki yang seserius habib Khalid, dengan kesetiaan yang sangat besar terlepas dari waktu dan jarak, habib mengagumi ketabahan dan kesabaran di dalam hati habib Khalid dalam hubungan ini.


"Ugh, bagaimana bisa dia menculik Aish? Dia tidak boleh melakukannya." Kesel Rumi memikirkannya saja.


Habib mengusap punggung istrinya pelan sebagai bentuk penghiburan,"Dia boleh, sudah waktunya karena Aish sudah berusia 18 tahun. Harusnya kamu bangga karena dia mampu menjaga Aish hingga detik ini. Padahal menurut waktu, dia sah-sah saja melakukannya.


Ini adalah kenyataan pahit bahwa Aish telah dibawa pergi begitu mereka bertemu. Rumi menyesalinya.


"Aku tahu...aku tahu! Aku hanya asal bicara saja." Ucapnya jengkel yang sekali lagi mengundang gelak tawa dari suami.


"Yah, kamu sedang asal bicara."

__ADS_1


__ADS_2