Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 18.8


__ADS_3

Dert


Dert


Dert


Ponsel Ayah bergetar ada panggilan masuk dari kantor. Ayah mengernyit heran karena tak biasanya kantor menelpon jam segini. Melihat kantor menelpon jam segini, Ayah menduga bila telah terjadi sesuatu di kantor. Karena jika kebutuhan orang kantor tidak akan menghubunginya.


"Hallo, ada apa?" Kata Ayah saat menjawab telepon.


Beberapa detik kemudian wajah Ayah langsung menjadi pucat pasi kehilangan warna. Matanya melotot tak percaya mendengar apa yang dikatakan oleh orang di seberang sana.


"Ada apa ini?" Gumam Ayah dengan bibir gemetaran.


Ayah menurunkan tangan yang memegang ponsel dengan lemah. Matanya menatap kosong seolah kehilangan jiwa. Perubahan warna wajah Ayah membuat semua orang yang ada di dalam ruangan panik. Mereka cemas dan mulai merasakan sebuah perasaan buruk.


"Ada apa, mas? Kenapa wajah mas sangat pucat?" Bunda mengguncang pundak suaminya ketakutan.


Pikiran semua orang langsung berselancar. Mereka takut ada sesuatu yang terjadi di rumah karena di rumah hanya ada kakek dan nenek saja.


"Iya kak, kakak kenapa? Apa Ibu dan Ayah baik-baik saja di rumah? Apa mereka mengalami kecelakaan di rumah? Aku sudah bilang kan' sebelumnya kalau kita harus bawa mereka juga ke sini. Mereka sudah tua dan mereka nggak bisa ditinggalin sendirian di rumah." Bibi Dinda langsung mengkhawatirkan kedua orang tuanya yang ada di rumah.


Nenek ingin ikut ke sini tapi kakek menolak. Kakek bilang dia lebih suka tinggal di rumah daripada berpergian jauh. Mereka semua juga mengerti bahwa kondisi Kakek tidak mendukung berpergian jauh jadi karena itulah mereka tidak keras kepala membawa Kakek keluar.


"Tidak.... Orang yang menelpon bukan dari rumah tapi dari kantor." Ayah berbicara dengan linglung, lalu kepalanya terangkat menatap wajah-wajah adik dan ipar iparnya.


Dia kemudian berbicara,"Ayo berkemas dan pulang ke rumah." Katanya seraya bangun dari duduknya dan bergegas mengambil barang-barang yang ada di dalam kamar.


Semua orang tidak mengerti apa yang terjadi dengan Ayah karena dia hanya mengatakan bahwa itu telepon dari kantor dan tidak menjelaskan apa isinya.

__ADS_1


"Mas, masa kita pulang jam segini? Mas ini kan udah malam sedangkan perjalanan kita bolak-balik dari kota sini ke rumah kurang lebih 4 jam! Ini sudah larut malam, mas!" Bunda menarik tangan Ayah agar berhenti mengamati barang-barangnya.


Suaminya terlihat panik tapi dia tidak tahu mengapa suaminya tiba-tiba begini.


"Iya, kak. Ini sudah larut malam. Kenapa kita tidak pulang besok saja sesuai dengan rencana awal?" Bibi Dinda merasa jauh lebih baik setelah mengetahui bahwa rumah baik-baik saja.


Ayah sangat kesal dia, menggaruk kepalanya kasar tidak tahu harus mengatakan apa kepada keluarganya. Masalah ini sangat penting dan dia berharap detik ini juga bisa kembali ke kota dan membantu perusahaannya.


"Jangan menunda perusahaan kita mengalami masalah!" Ayah tidak tahan lagi.


Bawahannya tadi menelpon bila perusahaanya mengalami masalah. Ini masalah yang sangat besar dan harus segera diselesaikan, jika tidak imbasnya akan sangat besar untuk perusahaan mereka.


Setelah mendengar perkataan Ayah, semua orang tidak lagi membujuk Ayah untuk tinggal. Barulah mereka merasa panik dan cemas pada saat yang sama.


"Tidak bisa ditunda sampai besok?" Tanya bibi Melati cemas.


"Pulang sekarang. Tidak ada penundaan. Kalau kalian ingin tinggal, maka tinggallah tapi aku harus pulang. Ini menyangkut perusahaan keluarga kita." Kata Ayah acuh tak acuh.


...*****...


"Umi, dimana Nadira?" Aira bertanya sopan kepada Umi dengan nada yang lembut.


Setelah berhasil mengirim dokumen kepindahan, Umi langsung membawa Aira pulang ke rumah dan memintanya menginap semalam sebelum pindah ke asrama besok. Aira sangat puas dengan perhatian Umi kepadanya dan kian bertekad menjalin hubungan lebih baik lagi.


Jika bukan karena kebaikan Umi mengizinkannya masuk ke pondok, Aira mungkin masih bersekolah di kota hingga hari ini.


"Setelah sholat isya, biasanya anak pondok akan mengaji dan setor hapalan di masjid sebelum makan malam. Sebentar lagi jam 9, Nadira pasti ada di stan makanan sekarang. Tunggu setengah jam lagi, Nadira pasti pulang." Jawab Umi sambil mengelap meja makan.


Mereka berdua baru saja selesai makan malam dan sedang membersihkan meja makan. Tidak ada orang lain di rumah ini selain mereka berdua.

__ADS_1


"Kehidupan pondok pesantren sangat hidup, suasananya juga sangat damai di sini, pantas saja kak Aish sangat betah di sini hingga tidak menelpon ke rumah." Tutur Aira berpura-pura polos.


Dengan sengaja dia membuka kesalahan Aish kepada Umi.


Umi tiba-tiba menghentikan gerakan tangannya mengelap meja makan.


"Apa hubungan keluarga kalian tidak baik? Soalnya Umi sempat mendengar apa yang terjadi tadi pagi diantara kalian berdua."


Benar saja, Umi langsung terpancing. Aira suka ini.


Aira berpura-pura canggung di depan Umi dan menjawab dengan malu-malu,"Kak... Aish tidak pernah menyukai aku, Umi. Aku...aku juga paham kok kenapa dia tidak menyukaiku. Aku ini adiknya yang lahir dari Ibu yang berbeda, kak Aish selalu menganggap bahwa aku adalah benalu di rumah itu. Bahkan kakek juga... tidak menyukai ku karena kak Aish, tapi aku-"


"Kamu siapa?!" Tanya seorang gadis tidak bersahabat.


Gadis itu berjalan ke ruang makan dengan kain mukena dan mushaf Al-Qur'an di pelukannya. Kedua mata besarnya menatap Aira dengan tatapan menyelidik yang sarat akan perasaan tidak ramah.


"Nadira, yang sopan, Nak! Ini adalah Aira, gadis yang Umi bicarakan semalam." Umi menarik tangan Nadira dan mendorong punggungnya agar mendekat dengan Aira.


Aira tersenyum manis,"Selamat malam?" Sapanya sopan.


Namun reaksi Nadira sangat buruk. Dia melepaskan tangan Umi dan mundur beberapa langkah dari Aira.


"Jadi ini gadis yang Umi bicarakan semalam?" Menatap Aira dengan tatapan menyelidik, Aira tidak nyaman ditatap seperti itu.


"Kenapa dia sangat bertolakbelakang dengan apa yang Umi ceritakan? Umi bilang dia gadis yang cantik, baik, cerdas, dan berbudi luhur, tapi apa yang aku lihat sekarang? Kurasa Aish jauh lebih cantik dan lebih baik darinya. Umi, aku enggak mau berteman dengan orang seperti dia. Dari perkataannya tadi saja aku tahu bahwa dia adalah gadis yang tidak baik." Ucap Nadira blak-blakan tanpa memperdulikan ekspresi sembelit di wajah Aira.


Umi menatap putrinya tidak percaya,"Nak, bagaimana bisa mengatakan itu?" Ini sangat tidak sopan.


"Maaf, Umi. Tapi aku enggak mau berteman dengan dia. Cara bicaranya sudah menunjukkan orang seperti apa dia ini. Daripada berteman dengannya, aku lebih suka berteman dengan Aish!" Ucap Nadira teguh.

__ADS_1


Rahang Aira langsung jatuh sejauh-jauhnya. Apa-apaan ini! Mereka baru saja bertemu dan Nadira sudah langsung merendahkannya!


__ADS_2