Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 11.1


__ADS_3

Aish buru-buru membuka jendela hingga kepalanya menonjol keluar. Melihat ke kanan dan ke kiri, ia tak menemukan sang habib. Padahal barang-barang ini baru saja habib letakkan beberapa menit yang lalu dan langsung menghilang tanpa bersuara.


Bibir Aish manyun. Ia ingin bertemu dengan habib Khalid tapi tidak pernah mendapatkan kesempatan. Biasanya ia akan bertemu sekali atau atau dua kali dalam sehari, tapi hari ini mereka tidak pernah bertemu. Dan Aish hampir saja menduga bila sang habib memang sengaja menghindarinya. Akan tetapi semua pikirannya ini langsung terhempas kan tatkala ia menerima barang-barang ini dari sang habib.


"Dasar," Bibir manyun nya perlahan membentuk garis senyuman.


"Kak Khalid jail..." Matanya sekali lagi melihat goresan indah di atas kertas kecil.


Tak mau membuangnya, Aish memegang kertas itu hati-hati dan menaruhnya ke dalam kotak tasbih dengan hati-hati pula. Setiap barang-barang pemberian habib Khalid harus dijaga dengan hati-hati sebab itu semua sangat berharga untuk Aish.


"Beres. Tinggal simpan deh di dalam lemari." Ucap Aish bersenandung kecil.


Ia membuka pintu lemarinya dan menaruh kotak tasbih itu di atas sarung hijau habib Khalid. Di samping sarung hijau itu terlipat rapi sarung tangan sebelah kanan yang habib Khalid pinjamkan kepada Aish beberapa waktu lalu. Lalu di sisi lemari Aish menyusun buku-buku pemberian habib Khalid agar tidak mudah rusak. Sesekali Aish akan memegang buku itu dan memaksakan diri untuk membacanya, meskipun ia tahu betul bila ilmu yang ada di dalam buku-buku itu sangat sulit dicerna.


Habisnya Aish belum pernah mempelajari pelajaran bahasa Arab atau segala sesuatu yang berhubungan dengan tulisan Arab di sekolah dulu. Bukan karena ia tidak mau tapi karena kurikulum sekolah umum sangat berbeda dengan pondok pesantren.


"Okay, saatnya makan!"


Menutup lemari pakaiannya, ia kembali naik ke atas kasur dengan semangat juang yang tinggi. Sebelumnya ia tidak berselera makan karena dalam suasana hati yang buruk, tapi sekarang setelah habib Khalid mengirimkannya makanan, Aish jadi berselera makan lagi deh.


"Wah...nasi kuning!" Aish langsung gembira melihat isi kotak bekalnya.


Melihat nasi kuning, Aish langsung teringat dengan kotak bekal yang pernah seseorang berikan kepadanya. Waktu itu isinya juga nasi kuning dan masih hangat!


"Tapi kok kak Khalid tahu yah kalau aku enggak makan ke kantin?" Gumam Aish heran.


Enggak mungkin kan habib Khalid pergi ke kantin untuk mengawasinya?

__ADS_1


Lagian santriwati di kantin ada ribuan orang. Siapapun pasti akan sulit mencari kenalan karena mereka semua rata-rata menggunakan baju yang sama persis.


"Kalau kak Khalid emang sengaja nyariin aku gimana?" Wajah Aish langsung memerah.


Ia malu sendiri dengan apa yang ia pikirkan. Tersipu, ia menangkup wajahnya yang panas dengan kedua tangannya sendiri. Menepuk pipinya yang merah merona agar segera kembali normal dan membuang jauh-jauh semua pikiran gilanya.


"Jangan mikir yang macam-macam, Aish! Ayo makan sebelum Dira dan Gisel kembali. Kalau mereka kembali, makanan kamu pasti langsung raib!"


Dira dan Gisel adalah penggila makanan sejak datang ke pondok pesantren. Apalagi saat melihat nasi kuning, perut mereka yang kenyang sontak menambah ruang baru lagi untuk nasi kuning. Hei, nasi kuning adalah godaan yang besar untuk banyak orang.


"Bismillah." Aish mengambil sesuap besar nasi ke dalam mulutnya.


Begitu nasi itu masuk, mata Aish langsung terbelalak kaget. Aish menatap tak percaya pada bekal nasi di atas pangkuannya. Mata aprikot nya yang jernih perlahan mulai berkaca-kaca menahan air mata.


"Khak...Khallid...." Mulutnya yang penuh berbicara.


Jika kedua sahabatnya melihat Aish seperti ini, mereka pasti sudah sakit perut karena tertawa. Tapi sayangnya Aish hanya sendirian di kamar dan tidak ada yang tahu segemas apa wajahnya sekarang.


Menunduk menatap nasi kuning di dalam kotak bekalnya, Aish memegang kotak bekal itu erat-erat.


Tak pernah berubah pikirnya. Nasi kuning yang sama, wangi yang sama, dan rasa yang sama. Aish sudah merasakannya dan ia yakin tidak mudah untuk melupakannya.


Menghangat, ada harapan samar yang mengembang kembali di dalam hatinya disela-sela kebingungan hatinya.


Jadi semua bekal itu dikasih sama kak Khalid? Apa artinya sejak masuk ke pondok pesantren kak Khalid sudah mengikuti ku? Apa sejak awal datang ke pondok pesantren kak Khalid sudah mengetahui ku? Maka semua kebaikan yang kak Khalid berikan kepadaku bukanlah suatu kebetulan belaka, tapi kenapa? Kami hanya sebatas kenalan tapi kenapa kak Khalid melakukan semua ini kepadaku? Batin Aish bingung.


Bolehkah?

__ADS_1


Matanya beralih menatap hamparan langit di luar jendela. Dengan pipi melotot, ia berdialog batin dengan Sang Pemilik Langit.


Ia adalah manusia biasa, terbiasa dalam dosa yang tiada habisnya. Sedangkan sang habib, tempat hatinya melabuhkan harapan adalah manusia yang lahir dari darah yang mulia dan selalu terhujani rahmat Sang Kuasa. Sekilas, mereka tak bisa bersanding sebab yang satu kotor dan yang lainnya bersih lagi suci. Mereka tidak selaras.


Lalu bagaimana jika hatinya menolak melepaskan sang habib disaat ia menyadari betul bahwa mereka tak mungkin bersama?


Mungkinkah?


Mungkin... mungkin Sang Maha Romantis sudi mempersatukan sang habib yang terlahir mulia dengan wanita biasa lagi kotor, Aisha Rumaisha?


"Hah.." Aish menghela nafas panjang.


Menarik pandangan sendunya menatap kembali kotak bekalnya yang tersisa setengah dari porsi pertama.


Aish menelan makanan terakhir di dalam mulutnya, menyesap air minum di botol dan kembali merenung.


"Aish, jangan berpikir terlalu jauh.." Tersenyum kecut,"Takutnya ini hanya angan-angan mu saja." Lalu membawa sesuap besar nasi ke dalam mulutnya.


Aish diam-diam merutuki dirinya sendiri yang bodoh dan suka berpikir jauh. Akibatnya suasana hati yang baru saja membaik kini kembali memburuk. Aish kesal dengan dirinya sendiri yang selalu mempermainkan diri sendiri.


Jika begini terus, hidupnya tidak akan pernah bahagia!


...****...


"Bagaimana kabar mu di sana, dek? Kakak pikir kamu akan menjadi warga negara sana karena terlalu lama tinggal di sana." Goda Nasifa kepada adiknya, Nadira, yang baru saja pulang dari bandara.


Mereka kini berada di dalam kamar Nadira yang sebelumnya dibiarkan kosong karena sang pemilik tinggal di negeri lain.

__ADS_1


Rencananya kamar ini akan dibersihkan 6 bulan kemudian setelah Nadira mengkonfirmasikan kepulangannya. Namun, rencana tersebut terpaksa berubah karena Nadira tiba-tiba mengabarkan sudah di perjalanan pulang. Keluarga panik. Mereka tergesa-gesa membersihkan kamar Nadira tanpa membuat persiapan kejutan yang lain. Untuk menyambut kepulangan Nadira, keluarga besar berkumpul di rumah dan membuat berbagai macam makanan yang disukai oleh Nadira untuk menebus kerinduan Nadira terhadap rumah.


__ADS_2