Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Season II: Senandung Rindu (12)


__ADS_3

"Sampai jumpa bibi cantik!"


Panggilan ini segera membuat semua orang tercengang. Kepada siapa sebenarnya Sina memanggil. Mereka curiga panggilan ini di alamatkan kepada Gisel, soalnya Sina paling akrab sama Gisel. Tapi bukankah Sina memanggil Gisel dengan sebutan kakak cantik?


Maka alamat bibi cantik pasti ditujukan kepada orang lain kan?


"Kepada siapa dia memanggil?" Seseorang bertanya gugup.


Ayu menimpali,"Intinya bukan sama Gisel. Soalnya dia manggil Gisel dengan sebutan kakak cantik." Kata-kata Ayu membuat beberapa orang menjadi lebih gugup.


Jika bukan untuk Gisel, lalu kepada siapa?


Laras memutar bola matanya jengah. Bertanya-tanya apakah orang ini bodoh atau berpura-pura bodoh?


Jelas-jelas perubahan nama ini terjadi setelah Danis mengatakan sesuatu kepada Sina. Apakah mereka tidak bisa menebaknya?


"Kenapa bukan Gisel? Semua orang tahu Sina paling dekat sama Gisel. Sejak awal dia terus-menerus menempeli Gisel. Sekalipun kita bisa bercanda dengannya, tapi dia tidak mau kita sentuh apalagi gendong. Bahkan seseorang yang tidak tahu malu sampai memaksa Sina untuk datang kepadanya. Menjanjikan ingin membeli permen, nyatanya permen tidak boleh dimakan oleh Sina. Huh, berpikirlah secara logika. Kalau bukan Gisel lalu siapa di antara kita? Cuma Gisel yang dekat sama Sina dan cuma Gisel yang memiliki hubungan baik dengan Sina. Sisanya tidak dikenali." Laras secara terang-terangan menyindir Ayu.


Heran saja melihatnya menargetkan Gisel di mana-mana. Padahal Gisel tidak pernah menyinggung ataupun menyakitinya. Tapi entah kenapa Ayu selalu melemparkan mata permusuhan kepada Gisel, bersikap seolah-olah Gisel pernah berhutang banyak kepadanya.


"Jangan asal membuat kesimpulan kak Laras." Pipi Gisel menjadi panas.


Dia juga memiliki pemikiran yang sama. Um, kegirangan. Tapi itu wajar saja kan, dia dan Cina saling mengenal. Dan... Dan dia sama Danis memiliki hubungan yang cukup baik. Maka seharusnya...um, Gisel tidak bisa mengatakannya.


"Apa maksudmu menyindirku? Apakah aku pernah mencari masalah kepadamu?" Ayu bertanya emosi kepada Laras.


Laras tidak takut. Walaupun Ayu adalah pekerja tetap di pondok pesantren dan dia masih magang, pondok tidak akan membeda-bedakan mereka. Selain itu mereka berasal dari angkatan yang sama. Bedanya Ayu lebih dulu masuk 1 tahun lebih cepat daripada Laras. Karena Laras sempat pulang kampung selama satu tahun.


"Nah, sekarang aku yang balik bertanya sama kamu. Apa salah Gisel sama kamu sehingga kamu menargetkannya di mana-mana. Dia tidak pernah menyinggung kamu, jangankan menyinggung kamu, mengenal namamu saja tidak. Jadi mengapa kamu selalu mencari gara-gara kepadanya? Sama seperti tadi, niatnya ingin mengadukan Gisel kepada Danis tapi yang ada malah kena semprot sama Danis. Apakah kamu nggak malu karena terik kamu tidak berguna di depan Danis?"


Kata-kata ini bagaikan sebuah tamparan di wajah Ayu. Di depan semua orang Laras berbicara secara lantang, mempertanyakan dirinya yang selalu menargetkan Gisel dan secara terang-terangan menertawakan kegagalannya tadi ketika berbicara dengan Danis.


Ayu sangat marah. Wajahnya menjadi merah padam karena marah. Kedua tangannya saling meremas karena harga dirinya di rendah, yah, dipermalukan di depan banyak orang sama dengan direndahkan. Itulah yang dia pikirkan.


"Kamu bertanya apa salahnya? Menurut kamu siapa yang tidak kesal melihatnya mendapatkan perlakuan baik dari ibu sementara dia tidak bekerja keras! Lalu dia mendekati Danis-"


"Apa matamu mengalami masalah atau kepalamu yang mengalami masalah? Beraninya kamu mengatakan ibu tidak adil. Jelas-jelas Gisel mendapatkan semua perhatian itu karena kerja kerasnya dilihat oleh ibu. Jika Gisel tidak bekerja keras seperti yang kamu bilang, maka ibu pasti akan mengabaikannya. Tapi ibu melihat kerja kerasnya, makanya dia diperlakukan dengan baik. Dan selain itu, masalah Danis. Matamu yang mana melihat dia mendekati Danis sendiri? Jelas-jelas mereka berdua dipertemukan secara tidak sengaja dan perilaku Gisel juga tidak aneh. Dia tetap menjaga jarak sesuai dengan batasan di antara orang yang bukan mahram. Ketika mereka berbicara, Gisel juga menundukkan kepalanya seperti kita dan tidak sok sok mengadu di depan Danis, seolah-olah dirinya akan diperhatikan saja jika mengadu." Ucap Laras menyela.


Laras sama sekali tidak memberikan wajah kepada Ayu. Memang benar semua orang agak cemburu melihat Gisel diperlakukan baik oleh juru masak. Tapi mereka bisa berpikir jernih. Mereka melihat bagaimana Gisel selama ini bekerja keras. Dia tidak terlalu bersahabat dengan dapur, gerakan tangan yang memotong sayuran, memotong bawang, mengaduk masakan di dalam panci agak kaku karena belum terbiasa. Namun yang mereka sukai adalah Gisel pantang menyerah. Karena dia tahu bahwa dirinya belum terbiasa dengan dapur dia berusaha melakukan pekerjaan ini dan itu agar tangannya bisa telaten, dalam artian dia terbiasa.


Semua orang mengakui. Secara alami mereka tidak masalah dengan perlakuan juru masak kepada Gisel yang agak spesial. Mereka tidak masalah tapi beberapa orang menganggapnya masalah.


"Laras, bagaimana kamu bisa berkata seperti itu-"


"Kamu jelas sedang cemburu dan iri kepada adikku." Suara seseorang memotong ucapan Ayu.


Jantung Gisel berdegup kencang. Dia sontak menoleh ke belakang, ketika di matanya menangkap keberadaan Dira, air mata langsung meleleh dan tumpah ruah dari matanya, membasahi pipinya yang agak tirusan.

__ADS_1


Dira datang memakai baju gamis elegan bersama beberapa orang di belakangnya yang tengah memegang barang.


"Dira!" Teriak Gisel rindu sambil berlari cepat menghampiri sahabatnya.


Mereka baru berpisah beberapa hari yang lalu, namun entah kenapa Gisel sangat merindukannya. Seolah-olah mereka sudah lama berpisah.


"Hei, jangan menangis. Aku nggak suka lihat kamu nangis." Dira sedih melihat sahabatnya menangis tepat di depannya.


Matanya basah. Namun dia berusaha menahan diri agar tidak menangis. Dia di sini ingin mengucapkan pamit kepada sahabatnya karena hari ini dia akan terbang ke Australia bersama keluarga kakeknya. Mungkin... Satu atau dua tahun dia akan kembali, atau mungkin 10 tahun lagi... Dan kemungkinan besar dia tidak akan pernah kembali ke sini karena keluarganya bilang mereka akan menetap di luar negeri dan menjalankan bisnis di sana.


Gisel tahu di memalukan. Namun apa yang harus dia lakukan, rasanya dia sangat bahagia melihat sahabatnya datang ke sini setelah sekian lama merindukannya. Mungkin terdengarlah berlebihan, tapi siapapun orang yang berada di posisinya, tumbuh tanpa orang tua dan biasa hidup tersisihkan di dalam keluarga yang lain, tidak punya saudara dan bahkan para sepupu menjauhi, dunia seolah menolak keberadaannya. Tapi dengan kedua sahabatnya, Aish dan Dira. Dia merasa lebih hidup, merasa dibutuhkan, dan memiliki tempat untuk bersandar.


Siapapun itu yang ada di posisi Gisel, mereka pasti memiliki perasaan yang sama.


"Aku sangat senang kamu kembali. Aku sangat bahagia." Pengakuan Gisel membuat hati Dira semakin sakit.


"Aku juga sangat senang ke sini. Tapi ngomong-ngomong, kita belum bertemu baru beberapa hari tapi kamu sudah kurusan. Dan kenapa kamu tidak memberitahuku kalau ada orang lain yang sedang mengintimidasi kamu! Kamu tahu sendiri kan kalau aku dan Aish nggak suka melihat orang lain menggertak kamu! Pasti rasanya sakit, kalau sakit bilang sama kami. Biar kami yang memberi pelajaran kepadanya!" Mengingat perdebatan antara Laras dan Ayu tadi, Dira semakin marah.


Dia tahu kalau kehidupan Gisel tidak akan baik di pondok pesantren karena aibnya sudah tersebar. Namun meskipun begitu dia masih berharap kalau adiknya ini memiliki tempat di sini, mau bagaimanapun ini adalah pondok pesantren, tempat orang-orang menuntut ilmu. Seharusnya Gisel mendapatkan posisi yang baik karena hati orang-orang di sini tidak seperti orang-orang di luar sana. Dia memiliki kepercayaan ini. Namun ketika mendengar perdebatan kedua orang ini tadi gara-gara Gisel, hatinya langsung terbakar amarah.


"Nggak, Dir, nggak! Mereka cuma salah paham aja." Gisel tidak ingin membuat keributan di sini.


Baginya selama dia mengabaikan Ayu, hidupnya akan baik-baik saja.


"Kamu adalah sahabatnya, Gisel? Nama kamu Dira'kan? Gisel sudah mengatakannya kepadaku kalau dia memiliki dua sahabat yang memperlakukannya seperti saudara sendiri. Sekarang kamu ada di sini, aku berharap kamu dapat membantu Gisel. Karena beberapa hari ini dia sering ditargetkan oleh Ayu. Dan parahnya lagi tadi pagi, Ayu menuduh Gisel menggunakan dana dapur untuk berbelanja. Padahal dia belanja menggunakan uangnya sendiri dan aku melihat dengan kedua mata kepalaku sendiri bahwa Gisel memiliki banyak tabungan, jadi mana mungkin dia menggunakan dana dapur yang tidak seberapa." Karena Laras tidak bisa menghadapi Ayu yang keras kepala, maka dia menggunakan kesempatan ini untuk menarik Dira agar menyelesaikan masalah ini.


"Beraninya kamu bilang ini cuma salah paham aja, jelas-jelas dia mengakui kalau kamu selama ini diintimidasi. Kalau kamu begini terus, aku akan mengadu kepada Aish biar kamu tahu rasa." Amel Dira tak puas kepada sahabatnya.


Gisel langsung terdiam mendengarkan. Namun hatinya menghangat. Dia merasa manis atas perhatian sahabatnya.


"Dan kamu, apa masalahmu kepada adikku? Hanya karena dia diperlakukan baik oleh atasan kalian kamu merasa tidak senang? Kalau begitu bekerja keras lah. Jangan hanya menonton dan menghakimi adikku. Kalau kamu memang mampu, kamu pasti mendapatkannya. Tapi kamu dasarnya tidak mampu jadi kamu tidak mendapatkan perhatian itu. Tapi adikku berbeda, aku tahu dia orang yang pekerja keras dan aku percaya apa yang dikatakan oleh orang ini tentang adikku sebab aku sangat mengenal adikku. Tapi aku simpulkan dari cara kamu berbicara dan cara kamu memandang adikku, kamu jelas sedang cemburu dan iri. Seperti kata pepatah umum, iri dan cemburu tanda tidak mampu, dan kamu adalah buktinya." Ucap Dira arogan menatap Ayu dengan tatapan tajam.


Perangainya jelas, dia akan menyerang siapa saja yang menyerang adiknya.


Ayu langsung menciut. Selain kata-kata Dira terlalu arogan, penampilan Dira dan orang-orang di belakangnya mengatakan kepadanya bahwa Dira adalah orang yang tidak mudah disinggung. Apalagi Ayu adalah anak kampung dari keluarga biasa-biasa saja. Mana mungkin dia berani menyinggung orang besar.


Dan selain itu dia telah mendengar tentang persahabatan mereka bertiga. Agaknya dia takut Gisel membawa masalah ini ke Aish, istri sang Habib yang selalu menjadi pembicaraan para santriwati di pondok pesantren.


Dia takut Aish akan mengadu ke pondok pesantren. Tapi setelah dipikir-pikir persahabatan mereka tidak mungkin sedalam itu. Buktinya kenapa Gisel sendirian di sini sedangkan Aish dan Dira pergi meninggalkannya!


Dia sangat percaya diri!


"Maaf saja telah membuatmu marah. Aku tidak cemburu. Aku hanya tidak menyukai sikapnya yang suka mencari muka di depan atasan kami dan di depan Danis. Sesama wanita-"


"Sesama apa? Hei, aku saja yang sepupunya kak Danis tidak mengatakan apa-apa tentang kedekatan mereka, lalu kamu hanya orang luar tiba-tiba sok menghakimi kedekatan mereka? Kamu pikir diri kamu siapa? Apakah kak Danis perlu mendengarkan opini kamu atau yang simpel aja deh, apakah kak Danis mengenal kamu?" Potong Dira mendominasi.


Kata-katanya langsung membuat semua orang tercengang tak terkecuali Gisel. Mulutnya terbuka lebar tak mempercayai apa yang baru saja dia dengar dari Dira.

__ADS_1


Sepupu?


Lalu kenapa Dira tidak pernah menceritakan masalah ini kepadanya?


Gisel bingung sekaligus sedih.


"Apa... Kamu sepupunya Danis?" Ayu merasakan lututnya lemah.


Dira tersenyum dingin,"Ya, jadi jangan bermimpi memasuki keluarga kami. Kami tidak menerima orang seperti kamu." Ucapnya meremehkan.


"Lain kali kamu mengganggu adikku lagi, kamu akan berurusan dengan Aish. Oh, asal tahu saja. Aku juga akan meminta kak Danis mengawasi adikku di sini. Jika kamu berani macam-macam, kamu bisa memikirkannya." Ancam Dira serius.


Lalu dia menoleh melihat wajah kaku Gisel di sampingnya.


"Ayo Gisel, bawa aku ke kamar asrama kamu. Waktuku tidak banyak." Kata Dira sedih.


"Oh...iya, iya. Ayo pergi. Kak Laras aku izin membawa mereka yah?"


Laras buru-buru mengangguk. Mana berani dia lancang menolak Dira masuk ke dalam asramanya. Memikirkan sikap kata-kata tajam yang dilemparkan ke Ayu tadi, badannya langsung berbulu ketakutan.


"Pergi, pergilah. Kalian bisa berbicara sepuasnya di dalam."


Setelah mendapat persetujuan dari Laras, dia membawa Dira beserta rombongannya masuk ke dalam asrama.


Tapi orang yang Dira bawa hanya bisa menunggu di luar kamar, sementara Dira dan Gisel berbicara di dalam kamar.


"Kenapa kamu diam saja ditindas?" Dira tak suka.


Jujur saja, dibandingkan dia dan Aish, karakter Gisel adalah orang yang pasif dan tidak mudah marah. Sementara dia dan Aish suka meledak-ledak kalau marah.


"Aku pikir cepat atau lambat dia akan berhenti menggangguku." Kata Gisel malu.


Dira memutar bola matanya.


"Kamu memang malas." Kata Dira menebak.


"Aku nggak males, tapi aku nggak mau mencari masalah." Apalagi sudah tidak ada mereka berdua yang melindunginya di sini.


"Itu sama aja. Ngomong-ngomong, kamu nggak perlu takut sekarang karena aku sudah meminta kak Danis untuk mengawasi kamu selama tinggal di pondok pesantren."


Gisel penasaran.


"Jadi kak Danis benar-benar sepupu kamu?"


Dira mengangguk sedih. Pantas saja ketika pertama kali masuk pondok pesantren, dia sering ditargetkan oleh Danis. Sudah begitu dia sering kena semprot sama Danis, padahal kesalahannya sepele. Pernah berpikir kalau Danis melakukan itu untuk menarik perhatiannya, tapi pikiran itu langsung ditampik saat melihat Gisel sepertinya tertarik kepada Danis.


"Iya, dia sepupu dari keluarga mamaku. Aku juga baru tahu setelah pulang kemarin ketika pertemuan keluarga diadakan. Kalau mereka tidak memberitahuku soal ini, maka aku benar-benar tidak tahu tentang hubungan darahku dengan kak Danis. Cek, kami berdua sangat tidak mirip. Dia adalah orang yang mendominasi sementara aku adalah gadis yang lembut."

__ADS_1


__ADS_2