
Jantung Nasifa berdegup kencang. Dia panik dan cemas mendengar apa yang baru saja habib Khalid katakan. Tanpa bertanya pun dia tahu jika sang habib sedang marah kepadanya. Sungguh, bila dia tahu akan begini akhirnya maka lebih baik dia tidak pergi saja hari ini agar tidak mengundang kemarahan sang habib.
"Habib Thalib, maaf. Aku tidak bermaksud membawa Nadira bersamaku. Umi... Umi bilang tak bisa pergi dan meminta adikku sebagai penggantinya." Nasifa meminta maaf, berharap sang habib mendengarkan dan memaklumi alasan mengapa adiknya ikut.
"Lho...kok...habib Thalib keluar?" Nadira bertanya bingung melihat habib Khalid di luar mobil.
Dia sama sekali tidak menyadari kepanikan kakaknya di belakang karena fokusnya saat ini tertuju pada sang habib.
Habib Khalid tidak memperdulikan mereka di luar dan meminta Paman Man agar segera berangkat ke kota.
Paman Man mengangguk sopan dan langsung menjalankan mobil pergi menjauh dari pondok pesantren. Paman Man sama sekali tidak memperhatikan ekspresi dua orang di dalam mobil karena tugasnya hanya mengantarkan mereka saja dengan selamat sesuai dengan amanah sang habib.
"Kak Nasifa, kenapa habib Thalib enggak jadi anterin kita?" Tanya Nadira marah bercampur perasaan sedih.
Padahal dia sangat menantikan pagi ini dari semalam. Dia sangat senang mengetahui bila dia bisa ikut ke kota bersama Nasifa dan sang habib. Untuk pagi ini dia begadang semalaman mencari tempat-tempat yang bagus di kunjungi di kota yang akan mereka datangi. Dia sudah mendaftar banyak tempat menarik dan berharap bisa datang ke sana bersama sang habib. Tapi lihatlah sekarang, semuanya menjadi mimpi.
"Kakak udah bilang kak, dek, kalau habib Thalib enggak akan setuju kamu ikut di sini karena yang dia setujui adalah kakak menemani Umi pergi dan bukan kakak menemani kamu pergi! Sekarang lihat, habib marah sama kakak!" Keluh Nasifa sedih.
Setelah ini mungkin dia tidak bisa lagi bersikap akrab dengan sang habib seperti biasanya lagi.
Nadira tahu juga kesalahannya tapi dia tidak percaya sang habib marah kepadanya gara-gara ini. Karena dia percaya bahwa sang habib bukanlah orang yang seperti itu.
"Kak Nasifa enggak boleh numpahin kesalahan sama aku..." Kata Nadira sedih dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Melihat adiknya seperti ini, Nasifa tidak tahu lagi harus berbicara apa. Dia mengusap wajahnya marah dengan kelakuan adiknya yang masih tidak sadar diri juga. Dan benar saja firasat yang dirasakan hari itu saat mengetahui kepulangan Nadira.
Adiknya pasti pulang karena habib Khalid dan ingin mengejarnya. Ya Allah, harus berapa kali lagi Nasifa menjelaskan bahwa habib Khalid tidak bisa diganggu. Daripada mengganggu sang habib, lebih baik Nadira segera menjalin pertunangan dengan habib lain agar tidak membuat kesalahpahaman seperti ini.
"Terserah." Nasifa bersandar marah di kursinya sambil memalingkan wajahnya menatap ke arah luar jendela.
Nadira menggigit bibirnya sedih. Dia juga merasa bersalah melihat kepergian habib Khalid tanpa mengucapkan sepatah katapun untuk menyapanya. Dia sedih dan kecewa, karena semua rencananya hari ini terpaksa dikubur dalam mimpinya.
__ADS_1
Sementara suasana di dalam menjadi tegang, sang habib, objek yang menjadi ketegangan langsung masuk ke dalam pondok pesantren setelah melihat mobilnya menghilang dari pandangan matanya.
Dia masuk ke dalam staf kantor untuk memeriksa beberapa tugas yang tadinya diserahkan ke orang lain gara-gara rencananya pagi ini mengantar Umi ke kota. Tapi karena tugas mengantar dibatalkan, maka semua tugas-tugas yang sempat diserahkan ke orang lain harus diambil lagi olehnya.
Habib Khalid memeriksa beberapa dokumen dan memanggil staf-staf pondok pesantren yang lain untuk berdiskusi kegiatan hari ini. Beberapa tempat yang perlu direnovasi harus segera diobservasi sebelum memulai proyek perbaikan agar dananya cukup dan sesuai dengan tujuan proyek.
"Habib, apakah aku boleh meminta waktumu sebentar?" Sapa seorang laki-laki tinggi berkulit sawo matang.
Laki-laki ini bernama Anshori, salah satu staf kedisiplinan asrama laki-laki yang akan lulus tahun ini dan rencananya akan melanjutkan pendidikan ke Yaman atau ke Mesir.
"Boleh. Ada apa?" Tanya habib Khalid seraya menghentikan tangannya membalik-balik dokumen pondok.
Anshori sangat mengagumi sang habib entah karena keturunannya atau karena perilakunya yang rendah hati juga luas akan ilmu agama. Bagi santri-santri di pondok pesantren, habib Khalid adalah idola mereka dan orang yang sangat mereka banggakan. Secara alami orang-orang sebaik habib Khalid ingin mereka jodohkan dengan keluarga ataupun kerabat dekat agar bisa memiliki hubungan silahturahmi yang dekat.
"Habib, kakakku sudah mengirim proposal kepadamu. Jika dihitung dari hari ini, aku yakin jika proposal kakakku sudah 8 hari ini dikirim tapi masih belum mendapatkan kejelasan. Habib, bagaimana tanggapan mu terhadap proposal yang kakakku kirimkan?" Tanya Anshori dalam bahasa yang santun dan sikap yang baik tanpa ketidaksabaran sedikitpun.
Habib Khalid menatapnya lurus tanpa berkedip,"Apa aku harus menanggapi setiap proposal yang datang?" Tanya habib Khalid rendah.
Anshori merasa bila habib Khalid tidak menyukai topik pembicaraan ini. Namun jika dia tidak bertanya, kakaknya di rumah pasti akan membuat masalah untuknya.
Habib Khalid mengangguk ringan.
"Kamu harus tahu bahwa menanggapi proposal seorang akhwat sama saja menerima proposalnya. Jadi aku tidak perlu menjelaskan apapun lagi kepadamu."
Jawabannya sudah jelas. Proposal kakaknya ditolak. Anshori tiba-tiba merasa sedih memikirkannya. Dia bisa membayangkan kakaknya pasti hati di rumah saat mendengar berita ini. Dan dia juga yakin jika kakaknya di rumah pasti menangis histeris karena habib Khalid adalah satu-satunya lelaki yang berhasil membuatnya jatuh hati.
"Kenapa, habib? Kakakku adalah wanita yang sangat cantik, berperilaku baik, dan insya Allah ilmunya pun juga cukup luas. Dia harusnya cukup menarik untuk habib." Tanya Anshori mempertanyakan kenapa habib Khalid menolaknya.
Padahal kakaknya adalah wanita yang sangat cantik dan luar biasa baik. Bagi Anshori, kakaknya adalah wanita terbaik di dunia ini dan oleh sebab itu dia berharap bila kakaknya dapat menemukan laki-laki yang layak. Maka habib Khalid lah orang yang paling layak untuk kakaknya.
Habib Khalid menatapnya datar dan menjawab dengan nada yang datar pula,"Maaf, aku sudah cukup dengan satu amanah dan aku tidak berniat untuk poligami dalam hidup ini."
__ADS_1
Anshori langsung tercengang. Apa maksud habib mengatakan ini?
Apakah sang habib sudah menikah?
Tanpa memberikan penjelasan tambahan, habib Khalid langsung berbalik bersama dokumen pondok di tangan. Dia memanggil staf dan santri agar mengikutinya ke halaman depan pondok untuk memulai observasi.
"Ya. Di sini perlu tambahan-"
"Tolong....tolong, ada santriwati yang melarikan diri!" Diskusi mereka terpaksa berhenti ketika mendengar suara seseorang meminta pertolongan.
"Lho, ini kan sayid Khalif."
Orang yang datang meminta pertolongan ternyata seorang sayid yang bernama Khalif. Dia adalah keturunan Rasulullah Saw yang masih berjuang menuntut ilmu dan belum bisa mendapatkan gelar habib. Sebab keturunan Rasulullah Saw tidak sembarang mendapatkan gelar habib. Mereka harus sekolah tinggi dan memiliki ilmu yang luas, lalu menyebarkannya ke masyarakat agar ilmu nya bermanfaat untuk banyak orang.
Habib Khalid melepaskan dokumen di tangannya dan menatap kosong pada anak laki-laki yang masih berteriak nyaring di halaman pondok pesantren.
Anak laki-laki ini adalah kenalan tapi mereka belum pernah saling menyapa.
"Ada apa?" Seorang santri datang menghampiri Khalif.
"Itu..kak...aku melihat tiga santriwati melarikan diri dengan motor orang. Mereka sepertinya ingin kabur dari pondok pesantren." Kata Khalif dengan nafas terengah-engah lelah berlari.
Tiga santriwati?
Jantung habib Khalid langsung berdebar kencang. Dia berharap bila mereka bukanlah orang-orang yang dia pikirkan. Hanya saja ketiga orang ini suka sekali membuat masalah sehingga dia ragu apakah ketiga orang itu mungkin saja mereka?
"Apakah salah satu santriwati memakai jilbab hitam dan gamis hijau muda?" Tanya habib Khalid langsung menerobos keramaian.
Khalif melihat habib Khalid dengan pandangan tidak ramah. Jelas ada keluhan samar di dalam matanya kepada sang habib. Tapi habib Khalid sama sekali tidak perduli karena fokusnya saat ini adalah memikirkan dia.
"Ya. Aku melihatnya pergi bersama dua lainnya." Kata Khalif jujur.
__ADS_1
Habib Khalid tertegun,"Ke arah mana?"
"Ayo aku tunjukkan." Khalif langsung memimpin jalan di depan.