Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 16.11


__ADS_3

Aish langsung tersentak mendengarnya. Ia mengangkat kepalanya kaget melihat sang habib. Kata kecewa itu begitu melekat di dalam hatinya hingga ia lupa bila pipinya masih sakit. Untuk sejenak, Aish membuka mulutnya terkejut tapi tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun yang keluar dari bibirnya. Lehernya seolah tercekik dan tidak mampu membuat suara apapun. Pembelaan yang tadinya berkobar di dalam hatinya segera menguap entah kemana digantikan oleh keterkejutan, cemas, juga panik. Sebab habib Khalid belum pernah mengatakan kata-kata berat ini kepadanya.


"Aku..." Aish meremat kuat tangannya menahan sesak.


"Bukan dari pondok pesantren... maksudku tempat ini sangat baru bagiku dengan segala aturan dan aktivitasnya. Dulu...aku biasa hidup santai di kota dan tidak pernah mendalami agama, tapi setelah datang ke sini aku tidak langsung terbiasa karena semuanya sangat aneh. Aku... juga berusaha menghapal tapi kemampuan ku tak sejauh itu-"


"Jangan membuat pembelaan." Potong habib Khalid tidak senang.


Aish kembali tercekat. Ia menatap habib Khalid takut dengan segala pemikiran gila di dalam kepalanya.


"Kak Khalid..." Panggilnya memohon.


"Tidakkah kamu ingin mengejar ku?" Tanya habib Khalid kepadanya.


Aish tidak ragu-ragu dalam masalah ini dan menganggukkan kepalanya dengan panik sebagai jawaban kuat. Tapi habib Khalid sama sekali tidak terhibur dengan keseriusan di wajahnya. Bukannya tersentuh, tapi dia malah menyiramkan air dingin ke atas kepala Aish.


"Lalu berusahalah. Salah satu caranya adalah belajar dengan rajin dan terus menghapal, jika kamu seperti ini terus maka... bukankah ini terlalu mengecewakan?"


Akh, hati Aish rasanya perih. Habib Khalid terus saja mendesaknya belajar!


Belajar!


Belajar!


Dan belajar!


Harusnya habib Khalid tahu betapa sulitnya beradaptasi di tempat ini dan betapa sulitnya ia memahami pelajaran di sini. Di tempat ini, ia harus belajar bahasa Inggris, belajar bahasa Arab, dan menghapal Al-Qur'an!


Ia harus melakukan banyak upaya besar dalam waktu satu bulan!

__ADS_1


Satu bulan!


Jika bukan karena ada habib Khalid di sini, Aish pasti sudah lama kabur dari tempat ini!


"Jangan menangis. Aku tidak akan luluh." Suara sang habib dingin.


Aish tidak menyadari bila dirinya sedang menangis. Ia mengangkat tangannya untuk menyeka wajahnya dengan buru-buru. Setelah mendengarkan apa yang sang habib katakan barusan, ia tidak tahu harus mengatakan apa lagi karena apa yang keluar dari mulutnya mungkin hanya pembelaan saja untuk dirinya.


Tapi, ugh!


Kenapa air mata sialan ini terus mengalir padahal ia tidak ingin menangis di depan sang habib. Ia tidak ingin terlihat lemah di depannya!


Sungguh.


Aish terus mengusap wajah basahnya hingga sebuah tangan besar menghentikan gerakan tangannya. Ia sontak mengangkat kepalanya menatap sang pemilik tangan. Entah sejak kapan sang habib berdiri tepat di depan jendelanya dengan tangan terulur panjang menyentuh tangannya.


"Apakah rasanya menyakitkan?" Tanya sang habib kepada Aish.


"Sakit..." Bisik Aish kembali menangis.


Habib Khalid merasa tidak berdaya,"Maaf, tapi ini demi kebaikan mu." Ujarnya merasa bersalah.


Dia awalnya bertekad untuk mengabaikan Aish sembari menekannya agar belajar dengan serius. Tapi semua pertahanan diwajahnya perlahan tergerus melihat wajah menyedihkan Aish.


Aish menangis di depannya, pasti hatinya sangat sakit sampai-sampai tidak menyadari air matanya sudah meleleh. Habib Khalid melihatnya dengan rasa sakit yang sama, dia sungguh tidak berdaya dan memutuskan untuk menghilangkan kepura-puraan nya.


"Aku... juga minta maaf sudah mengecewakan kak Khalid. Ini...aku berjanji akan lebih serius lagi menghapal besok." Kata Aish berjanji dengan rasa penyesalan yang kuat.


Ia pikir habib Khalid akan mengasihaninya, tapi ternyata ia salah karena sang habib malah semakin menekannya.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu pertama-tama hapalkan dulu juz amma. Minggu depan aku sendiri yang akan meminta Umi memeriksa hapalanmu, bagaimana?"


Aish langsung meneguk ludahnya pahit,".... Apakah harus?"


Habib Khalid memiringkan kepala masih menatap kearahnya dengan senyuman...miring? Apalah Aish salah lihat?


"Harus. Untuk saat ini, berusahalah semampu yang kamu bisa dengan catatan jangan malas. Jika kamu berhasil menyelesaikan apa yang aku minta, kamu akan mendapatkan sebuah hadiah." Janjinya dengan senyuman bermakna.


Mendengar kata hadiah, pikiran Aish langsung melambung tinggi.


"Hadiah apa?" Tanyanya antusias.


Tangan habib Khalid melepaskan tangannya, lalu bergerak menyentuh pipi kanannya yang masih basah oleh air mata Aish. Mengusapnya lembut, ia merasa bila tangan sang habib sedang membujuk pipinya yang sakit agar jangan membuat masalah lagi. Debaran jantung Aish langsung menggila di dalam dada, perlakuan yang begitu lembut ini serta sentuhan manis ini, Aish menjadi linglung memikirkannya. Ia bertanya-tanya di dalam hati, mengapa sang habib tidak segan menyentuhnya tapi pada saat yang sama sang habib sangat enggan menyentuh gadis ini lain?


Mengapa sang habib melakukan ini kepadanya dan mengapa tidak kepada yang lain?


Ah, apapun alasannya Aish masih senang mengetahui bahwa ia adalah satu-satunya gadis yang bisa disentuh oleh sang habib. Selain daripada itu, ia tidak perduli. Tapi bertanya juga tidak ada salahnya, kan?


"Karena itu hadiah, maka sudah sewajarnya aku merahasiakan nya darimu." Ujar habib Khalid membuyarkan lamunan Aish.


"Kak Khalid..." Ragu, tangan Aish terangkat menggantung di udara.


Di bawah cahaya bulan malam, bulu matanya yang panjang bergetar ringan menunjukkan betapa gugup dirinya saat ini.


"Hem?" Habib Khalid merendahkan suaranya, sangat candu dan manis di dalam hati Aish.


Terpesona, tangan yang sempat ragu kini kembali bergerak ke atas, perlahan-lahan jari jemari rampingnya menyentuh punggung tangan sang habib yang ada di pipinya. Mata aprikot Aish berkilat gugup memperhatikan ekspresi di wajah sang habib. Samar, di bawah pantulan cahaya bulan Aish melihat bila sang habib menatapnya dengan sorot yang begitu lembut. Mata gelap itu memberikan sebuah ilusi bila ia adalah satu-satunya gadis yang bisa masuk ke kedalaman mata tersebut. Ilusinya begitu nyata dan Aish merasa bahwa semuanya memang harus seperti ini. Yah, seperti-


"Ah." Aish terkejut.

__ADS_1


Tangannya tiba-tiba dibalik oleh sang habib dan digenggam dengan lembut. Tercengang, Aish menoleh melihat genggaman tangan mereka. Tangan besar nan kuat itu merangkul tangan kecilnya, menyebarkan perasaan hangat hingga ke dalam hatinya. Seakan-akan ada hujan bunga aneka warna yang mulai membanjiri jiwanya saat ini. Begitu halus. Tangan habib Khalid tidak memiliki guratan kasar namun menyisakan jejak kapalan di ujung-ujung jari khas seorang pekerja keras yang selalu berhubungan dengan pulpen atau benda tulus lainnya. Kapalan ini mungkin sudah ada bertahun-tahun lamanya karena agak tebal, tapi meskipun begitu Aish tidak merasa aneh ataupun tidak nyaman menyentuhnya. Justru sebaliknya, ia merasa senang karena bisa menyentuh dan merasakan tangan habib Khalid dengan jelas serta hati-hati.


__ADS_2