Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 27.5


__ADS_3

"Mereka berdua kasian banget. Belum masuk cambukan ke 20, mereka berdua tumbang dan jatuh pingsan. Jujur sih, sebenarnya kasihan melihat mereka berdua disiksa dengan pukulan sesakit itu." Di lorong asrama pondok pesantren, dia mendengar orang-orang membicarakan masalah tadi siang.


Pembicara mereka sangat menarik rasa penasarannya. Mau tak mau dia menghentikan langkahnya dan menepi di kursi tunggu depan kamar tetangga. Kemudian dia berpura-pura duduk sambil menundukkan kepalanya menghindari pandangan orang. Yang orang luar lihat dia sedang membaca buku pelajaran, tapi nyatanya saat ini kedua kupingnya berdiri tegak mendengarkan apa yang orang-orang di sekelilingnya bicarakan.


"Aku juga kasihan, tapi ini adalah sangsi yang harus mereka dapatkan karena melanggar hukum." Yang lain menimpali dengan nada suara bijak.


"Tapi ini terlalu berlebihan enggak buat mereka? Mereka berdua kan khilaf, kenapa pondok pesantren enggak kasih keringanan saja untuk mereka berdua karena biar bagaimanapun juga mereka adalah manusia."


Dia mendengus tak senang dengan komentar ini. Kedua tangannya mengepal ingin mengatakan sesuatu untuk membalas perkataan wanita itu, tapi suara bijak itu lebih dulu berbicara.

__ADS_1


"Baiklah mereka berdua memang manusia, karena itulah kamu kasihan kepada mereka. Lantas bagaimana dengan korban kejahatan mereka berdua? Nama baik mereka dicoret dan belum lagi trauma psikologis yang dirasakan oleh mereka atas kejahatan ini. Mampukah semua itu dikembalikan seperti semula hanya dengan kata belas kasihan karena mereka adalah manusia? Jika kita berpikir seperti itu, lalu kenapa ada hukum di dunia ini? Dan jika maaf bisa menyelesaikan semua permasalahan, lalu kenapa harus ada hukum di dunia ini? Memaafkan semua kejahatan yang dilakukan oleh penjahat atas nama kemanusiaan, maka rasa sakit yang dihadapi oleh korban kejahatan bukanlah kemanusiaan? Sungguh, aku tak setuju dengan jalan pikiran kamu. Ini tidak benar. Seperti keputusan yang pondok pesantren buat untuk mereka berdua, hukuman ini sebenarnya cukup layak untuk mereka karena kejahatan yang mereka perbuat juga tidak kecil. Ini fitnah, kita semua tahu betapa berat bobot dosa ini. Maka kejahatan yang besar memiliki timbal balik hukuman yang setimpal pula?" Apa l yang dikatakan sangat masuk akal dan jelas, bahkan 'dia' yang sedang menyimak pembicaraan diam-diam menganggukkan kepalanya setuju dengan jalan pikiran sang pembicara.


"Gisel, kamu ngapain di sini?" Seseorang tiba-tiba memanggilnya.


Dia mengangkat kepalanya menatap seorang gadis yang kini tengah berdiri di depannya. Gadis ini adalah teman kamarnya.


"Oh, iya. Aku..." Menundukkan kepalanya untuk mencari alasan, matanya langsung berbinar ketika melihat buku di atas pangkuannya.


"Oh...kamu rajin banget sekarang. Aku kira apa yang Dira sama Aish bilang itu bohong kalau kamu pergi ke perpustakaan untuk meminjam buku. Eh tahunya kamu beneran pergi."

__ADS_1


Ah, dia tidak pernah melihat Aish dan Dira sejak berpisah tadi siang. Mengingat perpisahan tadi siang, dia merasa malu.


"Kamu mau balik ke kamar? Samaan yuk, aku juga mau balik soalnya." Gisel mengalihkan topik pembicaraan.


"Lho, kamu enggak baca di sini lagi?"


Gisel menggelengkan kepalanya. Dia bangun dari duduknya dan menarik gadis itu berjalan menuju kamar mereka.


"Aku udah bosan. Ngantuk baca buku terus."

__ADS_1


"Ah, baca buku memang agak membosankan kalau dipaksain."


__ADS_2