
"Dia sedang tertidur lelap. Mengapa aku merasa dia sangat lucu?" Samar, dalam tidurnya dia mendengar seseorang sedang berbicara.
"Hus, jangan ngomong keras-keras. Bibi bilang kita tidak boleh membangunkannya sebelum dia bangun sendiri. Kasian. Dia pasti begadang semalaman karena terlalu gugup."
Dia mengernyit terganggu dalam tidur. Menggeliat nyaman, perlahan kelopak matanya bergerak tanda bahwa dia telah bangun. Samar, dalam cahaya redup dia melihat wajah kedua sahabatnya. Mereka berdua tersenyum konyol di sampingnya. Dia berpikir bahwa ini pasti mimpi lagi. Mengusap kedua matanya yang mengantuk. Aish heran melihat wajah konyol kedua sahabatnya. Bukannya pergi, malah mereka terlihat sangat nyata.
"Selamat pagi, calon pengantin baru- ups, bukan calon lagi karena sudah lama resmi menjadi pengantin. Bagaimana perasaan kamu sekarang, apakah kamu masih gugup?" Dira mencubit pipi gembil sahabatnya yang masih bengong menatap mereka tanpa mengeluarkan suara.
Belum lama berpisah, Aish terlihat sangat berbeda. Dia jadi lebih gembil, cantik dan yang lebih mencengangkan adalah pesona Aish sepertinya kian meresahkan. Um, entah kenapa Aish terlihat sangat menyenangkan mata dan membuat nyaman sekarang.
"Dira, Gisel? Jadi ini beneran kalian? Aku pikir mimpi tahu!" Aish langsung terduduk di atas kasur dan memeluk mereka berdua dengan kuat.
"Kapan kalian ke sini?"
__ADS_1
Dira dan Gisel tertawa kecil.
"Baru tadi pagi. Setelah sholat subuh tadi kami tiba-tiba dipanggil dan diminta untuk segera berkemas karena jemputan kami sudah datang. Kami berdua kira pernikahan kalian akan segera datang, mungkin satu minggu lagi. Eh tahunya malah terhitung 3 hari setelah ujian selesai, kami berdua sangat kaget. Jadi kamu berdua tapi tidak sempat membuat persiapan apapun dan datang ke sini dengan tangan kosong."
Mereka berdua belum menyiapkan hadiah pernikahan untuk Aish dan datang dengan pakaian ganti saja. Jika mereka diingatkan kapan waktu tepatnya pernikahan Aish, maka mereka pasti sudah membuat persiapan. Bagaimana tidak, yang menikah adalah sahabat terkasih mereka berdua.
Aish tidak memikirkan buah tangan.
"Tidak, kehadiran kalian berdua saja sudah membuatku sangat bahagia. Hei, aku sudah menyiapkan pakaian untuk kalian besok. Ayo lihat." Dengan semangat tinggi, Aish menarik kedua sahabatnya pergi.
"Apa?"
"Bibi bilang kamu harus mandi dan membersihkan diri setelah bangun tidur. Setelah itu turun ke bawah untuk sarapan, barulah kamu bisa membawa kami melihat-lihat." Kata Gisel menjelaskan.
__ADS_1
Karena terlalu bahagia melihat kedua sahabatnya, dia sampai lupa untuk membersihkan diri dulu.
"Kalian belum sarapan, kan?" Ini bukan pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan.
Dira dan Gisel mengangguk jujur. Mereka merupakan orang asing di sini. Sekalipun diperlakukan dengan sangat baik, tetap saja mereka malu untuk berbicara, apalagi sampai ikut sarapan.
"Kami menunggu kamu."
Aish menepuk pahanya kesal.
"Kenapa tidak membangunkan ku tadi biar kalian bisa sarapan?"
Gisel mengeluh,"Mana tega kita bangunin kamu. Kita tahu kamu pasti lelah seharian sibuk dan begadang. Makanya kami diam saja." Selain itu bibi Rumi meminta mereka untuk tidak membangunkan Aish, jadi beraninya mereka tidak mendengar?!
__ADS_1
"Ya Allah...aku enggak selemah itu. Tapi ya sudahlah, kalian tunggu aku di sini. Aku akan mandi dulu. Sementara menungguku, kalian bisa tidur dulu asal jangan sampai ketiduran..."
Dira dan Gisel tertawa. Mereka tanpa canggung naik ke atas kasur untuk rebahan. Badan mereka sebenarnya agak lelah setelah melewati perjalanan panjang.