
Gisel dan Dira juga sangat terkejut. Keturunan Rasulullah Saw, orang yang paling mulia dimuka bumi ini, bukankah identitas habib Khalid terlalu luar biasa?!
"Benar, tidakkah kamu merasa jika aura yang dibawa oleh sang habib sangat istimewa?" Tanya Siti tersenyum.
Senang juga berbagi ilmu dengan Aish dan kedua sahabatnya.
Sebelum Aish berbicara, Gisel dan Dira lebih dulu mengangkat suara.
"Auranya jauh lebih kuat. Matanya sangat jernih dan hitam, aku selalu merasa terkekang saat memandanginya." Kata Dira jujur.
Gisel juga mengungkapkan apa yang dia rasakan selama ini,"Benar, habib Thalib memiliki aura yang sanga meneduhkan juga, tapi aneh, setiap kali aku memandanginya, mataku selalu tidak tahan seperti ada yang membatasi."
Perasaan Dira dan Gisel sama, mereka memang suka berada dekat dengan sang habib dan tanpa mereka sadari, ada perasaan kagum yang timbul di hati. Hanya saja setiap kali mereka mencoba memandangi wajah sang habib, mata mereka agak tertahan seolah-olah ada di dinding yang membatasi.
"Jangan kaget, rata-rata kita juga merasakannya. Mungkin karena kita bukan mahram sang habib. Dan mungkin juga ini adalah keinginan hati sang habib sehingga Allah mengatur hijab diantara kita semua sehingga kita tidak bisa memandangi habib Thalib berlama-lama." Kata Siti menjelaskan dengan santai.
Lagipula rahmat Allah selalu menyertai sang habib dan Siti percaya bahwa batasan yang mereka rasakan adalah hijab yang Allah berikan untuk menghalangi mata-mata lancang mereka.
"Tapi aku..." Tidak merasakannya. Batin Aish.
Justru sebaliknya, entah kenapa kedua matanya selalu ingin memandangi wajah sang habib dan bahkan betah berlama-lama memandangi sang habib. Ia tidak memiliki rasa batasan di dalam hatinya seperti yang mereka bicarakan.
Ini aneh, kan?
"Kamu kenapa, Aish?" Tanya Dira.
Aish buru-buru menggelengkan kepalanya.
"Bukan apa-apa. Aku hanya merasa bila kak- ah, habib Thalib adalah orang yang sangat luar biasa." Kata Aish setengah berbohong.
Keturunan Rasulullah Saw, manusia yang paling Allah cintai di muka bumi ini, bukankah jarak mereka terlalu jauh?
Sangat jauh.
"Benar, keturunan Rasulullah Saw adalah orang-orang yang sangat luar biasa." Siti juga setuju.
Aish tersenyum kecut. Ia memandangi mobil Van hitam yang masih dikerubungi banyak orang tanpa ada tanda-tanda pengurangan, bertanya-tanya apakah gadis mulia itu ada hubungannya dengan sang habib?
Ah, jika ada, maka ia benar-benar tak memiliki jalan untuk perasaan manis dihatinya ini.
"Ayo pulang. Aku agak lelah dan ingin rebahan sebentar." Ajak Aish seraya menarik pandangannya menjauh dari mobil Van hitam itu.
Gisel dan Dira tidak merasakan ada sesuatu yang salah dengan Aish sebab sikapnya sangat normal, seperti biasanya, agak cuek.
...***...
__ADS_1
Sesampai di asrama, Aish langsung merebahkan diri sambil memejamkan matanya untuk mengistirahatkan suasana hati yang sedang tidak bahagia.
Mungkin ada lelah juga penuh harapan, sebab ia selalu merasa bila habib Khalid memberikan sikap yang berbeda kepadanya. Lain daripada yang lain sehingga membuat Aish melayangkan sebuah ilusi bila sang habib juga memiliki perasaan kepadanya.
Namun, setelah mendengar penjelasan Siti mengenai identitas mulia sang habib, Aish jadi merasa suam-suam kuku. Mungkinkah sang habib, keturunan sang kekasih Allah jatuh cinta kepadanya yang bergelimang dosa?
"Hah...aku rindu, Mama." Bisik Aish merindu.
Di saat seperti ini satu-satunya orang yang ingin Aish ajak bicara adalah Mamanya.
"Aish, ke kantin, yuk." Ajak Dira dan Gisel setelah berganti pakaian.
Aish menggelengkan kepalanya lemah.
"Kalian pergi aja, perutku lagi enggak nyaman." Bohong Aish tidak ingin bergerak.
Dira dan Gisel langsung cemas.
"Apa karamnya masih belum reda, juga? Ini sudah tiga hari, lho." Biasanya kan kram akibat datang bulan tidak akan lama.
Aish menggelengkan kepalanya lemah.
"Enggak sakit, kok. Cuma enggak nyaman aja." Kata Aish membuat alasan.
"Syukurlah, kalau begitu kamu istirahat di sini aja, Aish. Nanti kami akan mengambil jatah makan siang mu di kantin."
Aish mengangguk ringan.
"Terima kasih." Ucap Aish lega.
Setelah itu Dira langsung menarik Gisel keluar dari kamar.
"Kamu kenapa sih?" Tanya Gisel aneh.
Dira memutar bola matanya malas.
"Kamu enggak lihat apa suasana hati Aish sedang down? Besok adalah hari kematian Mama Aish, makanya Aish enggak mood ngapa-ngapain." Kata Dira menjelaskan.
"Oh..." Gisel lupa.
Padahal mereka membicarakannya semalam. Memang besok adalah hari kematian Mama Aish dan biasanya Aish akan pergi menemui Mamanya. Namun karena mereka jauh mungkin membuat suasana Aish jadi turun.
"Aku enggak mikir ke sana." Kata Gisel malu.
Dira menggelengkan kepalanya tidak habis pikir.
__ADS_1
"Udah, habis ini kita jangan cerewet lagi sama Aish. Biarin dia nenangin diri sendiri." Kata Dira memberikan solusi."Yuk pergi, nanti kita enggak kebagian spot bagus lagi di kantin."
Gisel geli,"Dasar, yuk."
****
Aish memejamkan matanya berharap bisa memasuki dunia mimpi. Namun sekeras apapun ia mencoba, matanya masih tidak bisa diajak bekerja sama. Aneh, biasanya saat sedang galau atau tertekan seperti ini, ia mudah sekali tertidur.
"Hah...aku enggak bisa tidur." Gumam Aish seraya bangun dari tidurnya.
Ia duduk termenung di atas kasur, beberapa detik kemudian ia menggeser badannya mendekati lemari pakaiannya. Membuka lemari dan mengeluarkan kotak tasbih pemberian sang habib.
Memegang kotak itu ditangan, Aish merabanya penuh kasih sebelum membukanya dengan hati-hati, seakan kotak itu adalah harta hidupnya yang paling berharga.
"Hum..." Wanginya masih menyegarkan seperti sebelumnya.
Aish takut tasbih ini akan kehilangan wanginya bila terlalu lama terpapar udara.
"Kak Khalid..." Gumamnya rindu.
"Di dunia ini aku selalu sendirian setelah Mama pergi, kecuali kakek, aku tidak punya siapapun yang perduli. Bahkan keluarga Mama tidak sehangat kakek dan seringkali mengabaikan ku. Ma...lalu aku bertemu dengan kak Khalid. Mama tahu sendiri kan kalau image aku di depan orang itu buruk banget makanya jarang ada yang mau temenan sama aku. Tiap kali ketemu orang, mereka pasti membanding-bandingkan aku sama Aira. Mereka bilang aku anaknya suka buat masalah dan enggak bisa dijadikan teman. Seringkali kesan orang-orang sama aku segitu buruknya. Tapi kak Khalid beda, Ma. Kak Khalid orangnya baik banget....baik banget sama aku. Dia enggak pernah ngeliat aku aneh atau bilang kalau aku cewek enggak benar. Enggak, Ma. Dia orangnya baik banget. Saking baiknya aku sampai takut kalau semua ini hanya mimpi aja." Aish menundukkan kepalanya. Berbicara dengan sang Mama seolah-olah ia ada di sampingnya.
"Iya, Ma... Aish setakut itu..."
Termenung bingung, ia menggigit bibirnya seolah memikirkan sesuatu.
"Tapi Mama jangan khawatir sama, Aish, soalnya Aish sekarang udah punya sahabat. Enggak cuma satu, Ma, tapi dua! Mereka orangnya ngeselin banget tapi Aish sayang banget sama mereka. Dan bila...bila Aish enggak bisa sama kak Khalid, mungkin hari-hari Aish enggak terlalu kesepian karena masih ada mereka berdua dan kakek. Yah...kak Khalid enggak apa-apa kalau...." Aish terdiam lagi.
Lidahnya seolah kelu mengucapkan kata-kata pilu selanjutnya.
Tuk
Tuk
Tuk
Suara jendela Aish diketuk. Aish terkejut. Ia sontak menoleh ke belakang dan tiba-tiba menemukan sebuah kantong plastik putih di jendela.
Ragu, Aish lalu mengambil kantong plastik putih itu dan melihat isinya.
Ada kotak bekal lengkap dengan sebotol air putih dan vitamin. Di atas kotak bekal itu ada sebuah catatan kecil yang ditulis dengan guratan huruf yang indah. Tanpa bertanya pun Aish tahu siapa yang menulisnya.
"Jangan suka bicara sendiri, nanti jin ifrid di samping kamu bisa naksir, lho." Baca Aish penuh harap.
Beberapa detik kemudian,"...." Mulutnya berkedut tertahan setelah mencerna baik-baik apa yang tertulis di catatan kecil itu.
__ADS_1