
"Apakah kamu mengatur hidupku?"
Khalisa langsung merasa ngeri. Tubuh rampingnya tersentak kaget mendengar pertanyaan langsung habib Khalid. Yah, apakah dia berani mengatur hidup sang habib?
Bukan hanya untuk seorang habib, tapi orang manapun jelas tidak suka hidupnya diatur-atur oleh orang lain. Ini sangat tabu dan menyinggung perasaan.
Namun Khalisa tidak bermaksud melakukan itu. Dia tidak berani mengatur kehidupan sang habib dan tidak pernah bermimpi untuk melakukannya.
"Tidak, habib. Bukan itu maksudku..." Bantah Khalisa sambil menangis.
Habib Khalid tersenyum datar,"Tidakkah kamu mendengarnya dengan jelas apa yang aku katakan sebelumnya? Siapapun bebas mengatakan apapun tentangku selama dia tidak menyentuh batasku. Terlebih lagi jika berita itu terlalu mengganggu, aku bisa mengklarifikasinya secara langsung. Sampai dengan detik ini, apakah kamu pernah melihatku terganggu dan mulai angkat bicara untuk klarifikasi? Kecuali hari ini, aku belum pernah melakukannya. Artinya apa? Artinya apa yang kamu katakan sudah sangat mengusik kehidupan ku terlepas apa tujuanmu mengatakannya."
Bagaikan disambar petir, Khalisa merasa badannya langsung lemas. Untungnya Meri langsung siaga memegangnya sehingga dia tidak jatuh ke tanah.
Betapa hancur hati yang dirasakan oleh Khalisa dan betapa kejam kata yang diucapkan oleh sang habib. Apakah dia telah membuat sang habib terganggu?
Merasa risih dan terusik?
Khalisa langsung menyesali keputusannya mencari Aish hari ini. Seandainya waktu bisa diputar kembali, dia tidak akan pernah berpikir untuk mencari masalah kepada Aish. Dia tidak akan pernah berpikir untuk mencegat Aish ataupun mengatakan kata-kata itu. Bila waktu bisa diputar kembali...dia sungguh tidak akan melakukan kesalahan yang sama..
"Tolong... maafkan aku, habib..." Mohon Khalisa terisak.
Habib Khalid masih tidak melirik ataupun sekedar melihat ke arahnya. Dia masih berdiri menyamping dengan kepala tertunduk tampak tidak mudah digoyahkan.
__ADS_1
"Selalu ada maaf untuk siapapun, namun tidak ada toleransi terhadap kesalahan yang sama. Aku mohon setelah kejadian ini tidak ada lagi orang lain yang mengatakan bila aku sudah memiliki tunangan. Terima kasih, assalamualaikum."
Setelah mengucapkan salam perpisahan, dia lalu berbalik melewati jalan yang sama tanpa menoleh ke belakang ataupun memperlambat langkahnya. Dan semua orang yang telah mengikutinya juga tidak mengendur. Mereka mengikuti habib Khalid pergi. Dibandingkan dengan Danis yang berani dan dapat mengobrol santai dengan sang habib, mereka semua terkesan terlalu tunduk kepada sang habib sampai-sampai mereka tidak berani terlalu banyak bicara. Habib Khalid kurang suka dengan ketundukan mereka dan diam-diam berpikir akan membawa Danis bila dia berniat keluar dari kantor. Seenggaknya Danis bisa menjadi juru bicaranya bila ada masalah seperti tadi.
Melihat punggung sang habib yang semakin menjauh dari pandangan, akhirnya orang-orang tadinya bersembunyi keluar dan mulai mengerubungi tempat Aish berada. Mereka melihat Khalisa menangis lemas tanpa niat untuk bertanya karena mereka sudah mendengar semuanya. Meskipun mereka pernah kesal dengan Khalisa, itu tidak bisa membuat hati nurani mereka tertutup sepenuhnya.
Mereka tidak setega itu. Jadi mereka menawarkan bantuan kepada Meri untuk membantunya membawa Khalisa pergi.
Wajah Meri sangat buruk. Dia terlihat enggan membantu Khalisa dan yang lebih mengejutkan lagi, dia sama sekali tidak menyalahkan Aish ataupun kedua temannya terhadap masalah ini. Ini sangat tidak biasa.
"Ayo pergi." Ajak Aish kepada Gisel dan Dira.
Dira dan Gisel bersenandung kecil sebagai persetujuan. Mereka lalu pergi ke arah sungai untuk beristirahat karena matahari sudah tinggi. Di sungai suhunya sangat sejuk dan banyak tempat yang membuat nyaman. Mereka langsung betah duduk di pinggir sungai sembari membicarakan masalah tadi.
Bahkan Meri yang pernah mengidolakannya secara buta pun juga enggan tinggal di sini.
"Kamu mau pergi kemana?" Tanya Khalisa sesenggukan.
Meri melihatnya dengan malu. Sungguh bodoh sebelumnya dia pernah mempercayai Khalisa secara buta hanya karena citra baik yang terlihat.
"Aku mau kembali ke sawah, kak. Soalnya teman kamarku pada protes sama aku yang enggak ikut bantuin mereka." Alasannya tidak mengada-ada.
Memang teman kamarnya tadi ada yang protes gara-gara dia terlalu ikut campur dalam masalah Khalisa dan melupakan tugasnya untuk bekerja di sawah bersama teman-teman kamar yang lain.
__ADS_1
Khalisa tidak merasa ada sesuatu yang salah dengan Meri dan mengizinkannya pergi.
Setelah semua orang pergi, dokter Ira akhirnya masuk ke dalam kamar tempat Khalisa beristirahat. Wajahnya sangat muram ketika melihat ke arah Khalisa. Baru saja dia mendengar kabar dari anak-anak pondok yang mengantarkan Khalisa ke sini tadi tentang masalah apa yang dibuat oleh adik sepupunya itu.
Dia pernah berpikir bila habib Khalid mungkin menyukai Khalisa karena mereka sering bertemu, namun setelah mendengarkan masalah yang dibuat oleh adik sepupunya ini dia akhirnya sadar kalau habib Khalid sebenarnya tidak menyukai Khalisa tapi hanya menghormatinya.
Khalisa bukan wanita yang spesial dan itu artinya Khalisa tidak akan bisa mendapatkan hati sang habib, apalagi setelah kejadian ini, Khalisa telah kehilangan peluangnya untuk mendapatkan sang habib.
Berita ini akhirnya memenangkan sebagian hati dokter Ira dan sebagiannya lagi masih menggantung. Sosok cantik Aish yang menawan telah menghantuinya dari kemarin. Dan dia semakin tidak nyaman saat mendengarkan rumor tentang Aish dan habib Khalid yang menyebar baru-baru ini. Dia cemburu, namun tidak bisa berbuat apa-apa karena dia sendiri pun kesulitan bertemu dengan sang habib.
"Kamu membuat masalah lagi untuk habib Thalib, selamat, dia pasti sangat marah kepadamu. Lupakan Kakek dan nenek karena mereka berdua juga tidak akan bisa membantumu berbicara dengan habib Thalib." Katanya dengan nada mengolok yang disamarkan.
Senang rasanya melihat saingan cintanya tumbang satu demi satu. Dan dia semakin senang melihat prestise palsu adik sepupunya ini tidak lagi bersinar seperti dulu. Setidaknya mereka berdua tidak akan dibanding-bandingkan lagi di dalam keluarga.
"Aku...aku enggak tahu, kak, dan aku nyesel. Aku enggak tahu habib Thalib akan datang ke sawah..." Kata Khalisa sedih.
Kakak sepupunya sangat kejam. Hatinya sudah terluka tapi masih saja diolesi garam oleh dokter Ira, bagaimana hatinya tidak bertambah sakit?
Dokter Ira memutar bola matanya bosan dengan kata-kata Khalisa yang terlalu monoton.
"Nyesel sekarang enggak ada gunanya. Sekarang nikmati aja hasil dari perbuatan mu sendiri dan berdoa semoga Paman serta Bibi tidak membenci kebodohan mu!"
"Kak Ira..." Panggil Khalisa mulai menangis lagi.
__ADS_1
Namun dokter Ira mengabaikannya. Dia langsung keluar dari kamar Khalisa dan kembali ke meja kerjanya untuk melanjutkan lagi pekerjaannya yang sempat tertunda.