
"Ada apa?" Tanya sanga habib kembali menarik kesadaran Aish.
Aish spontan mengangkat kepalanya dan menjawab,"Aneh."
Habib Khalid tersenyum,"Apa yang aneh?"
Aish berpikir sebentar dan kembali berbicara lagi,"Boleh aku tahu...mengapa kak Khalid tidak keberatan ku sentuh sedangkan dengan gadis yang lain, kak Khalid tidak senang?"
Tanyanya dengan jantung berdebar kencang. Entah jawaban apa yang akan diberikan, namun Aish berharap bila itu adalah harapan di hatinya.
Habib Khalid kehilangan senyum di wajahnya dan menatap Aish dengan serius.
"Kamu tidak pernah menyentuh ku." Katanya bernada serius.
"Apa?" Aish kurang mengerti.
"Tapi aku yang menyentuh mu." Balas habib Khalid masih serius.
Aish linglung mendengarnya. Ia merasa bila dirinya saat ini sedang dibawa terbang ke atas awan. Sungguh indah.
"Baiklah, lanjutkan hapalanmu. Ingat, minggu depan Umi akan memeriksanya. Assalamualaikum.".
Sebelum Aish meresponnya, habib Khalid langsung menghilang ke dalam gelapnya malam. Aish melongo kaget, ia sama sekali tidak bersiap melihat kepergian habib dan sejujurnya sangat enggan. Ia masih ingin berbicara dengan sang habib karena ia sungguh sangat merindukannya. Sejak bangun di rumah sakit, ekspresi habib selalu dingin saat melihatnya dan bahkan di pondok kemarin pun, habib Khalid mengabaikannya. Namun malam ini habib Khalid tiba-tiba datang kemudian menyapanya. Meskipun sikap sang habib awalnya dingin, tapi Aish sangat puas kok melihat tindakan lembut habib kepadanya.
Tapi apa maksud habib Khalid mengatakan kata-kata itu barusan?
"Aish?"
Punggung Aish langsung menjadi kaku. Gadis bangun, sejak kapan?
Apakah Gadis melihat dan mendengar percakapannya dengan sang habib barusan?
__ADS_1
Tapi...tapi di sini sangat gelap jadi mana mungkin dia bisa melihatnya. Kecuali menguping pembicaraan- Aish langsung menjadi panik memikirkannya.
"Kamu Aish, kan?" Tanya Gadis lagi.
Aish memejamkan matanya menahan gugup, setelah jauh lebih tenang ia membalik badannya secara alami seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
"Ada apa?" Tanya Aish acuh tak acuh.
Gadis mengernyit. Jadi orang yang berbicara tadi adalah Aish. Tapi mengapa Aish berbicara menghadap ke jendela malam-malam begini?
"Kamu tadi ngomong sama siapa?" Tanya Gadis curiga.
Lebih tepatnya dia merinding ngeri memikirkan banyak kemungkinan. Yah, bisa saja Aish sedang berbicara dengan mahluk tak kasat mata di pondok ini. Kalau enggak, terus ngapain dia ngomong sendirian jam segini?
Mata Aish menyipit,"Enggak ada. Aku cuma lagi ngetes hapalan aku aja."
Gadis enggak percaya. Soalnya dia kebangun gara-gara dengar suara orang nangis. Dan saat bangun, orang pertama yang dia lihat adalah Aish sedang ngomong sendiri di depan jendela. Dia tidak bisa melihat dengan fokus karena tempat tidurnya cukup jauh dari Aish, ditambah lagi lampu kamar tidak menyala sehingga dia tidak tahu siapa lawan bicara Aish. Hanya saja jam segini ngomong di depan jendela, kebetulan jendela menghadap hamparan sawah pondok yang gelap gulita dan percayalah tempat itu selalu terlihat sangat menyeramkan di malam hari karena tidak ada lampu. Maka wajar saja Gadis beranggapan bila Aish agak...aneh..
"Oh, kamu sangat rajin." Ujar Gadis seraya menarik selimutnya untuk tidur kembali.
"Ah...kak Khalid ada-ada saja." Bisiknya sedih seraya mencari mushaf Al-Qur'an nya di atas meja.
Mau tak mau ia harus belajar menghafal agar tidak dimarahi lagi sama habib Khalid!
...*****...
"Kenapa mulutnya terus komat kamit enggak jelas pagi-pagi begini? Apakah kepalanya mengalami masalah karena kecelakaan kemarin?" Bisik Dira aneh.
Setelah melihat sinar matahari pagi ini dia akhirnya teringat jika hari ini dia akan diadili di pondok pesantren. Badannya langsung gemetaran panik dengan isi kepala yang sudah berselancar entah kemana memikirkan kemungkinan yang tidak-tidak.
"Jangan ngomong yang aneh-aneh. Aish lagi ngapalin juz amma. Katanya habib Thalib suka dengan orang yang rajin belajar dan hapal Al-Qur'an." Gisel menoyor kepala Dira gemas.
__ADS_1
Dira mengernyit ngeri,"Luar biasa. Ini baru saja pengejaran dan aku tidak tahu jika mereka nanti benar-benar pacaran."
"Di sini enggak ada namanya pacaran. Kalaupun pengejaran Aish diterima, ujungnya pasti akan langsung menikah." Bantah Gisel masih memandangi wajah fokus Aish yang sibuk bolak-balik menatap mushaf Al-Qur'an di tangannya.
Dira tidak perduli. Mau nikah atau pacaran, semuanya sama-sama tidak terbayangkan. Untungnya dia tidak mudah jatuh cinta dan lebih beruntung lagi, hatinya pemilih. Orang-orang seperti habib Khalid tidak akan ditakdirkan untuknya di dunia ini.
Tok
Tok
Tok
"Assalamualaikum?" Seorang staf masuk ke dalam kamar.
Hari ini tinggal mereka bertiga dikamar sementara teman-teman yang lain pergi ke sekolah untuk belajar. Mereka izin hari ini tidak masuk sekolah karena sidang dari pondok pesantren. Jika tidak sidang, mereka pasti sudah berjamur di kelas sekarang.
"Waalaikumussalam." Dira meneguk ludahnya gugup melihat tamu tersebut.
"Aisha Rumaisha, Dira Klarisa, dan Gisel Permatasari. Kalian dipanggil ke kantor oleh Umi dan Abah." Kata staf pondok pesantren tanpa mengucapkan basa basi terlebih dahulu.
Dira dan Gisel langsung berkeringat dingin. Kali ini masalah yang mereka buat ditangani langsung oleh sang pemilik pondok pesantren.
"Ayo pergi. Kita harus menghadapinya. Ini hanya kesalahpahaman saja." Kata Aish bersikap setenang mungkin dihadapan kedua sahabatnya.
Ia sudah mendengar masalah ini semalam dan secara garis besar, ia menangkap bahwa ini adalah kesalahpahaman. Jadi lebih baik hadapi secepat mungkin agar masalah ini tidak semakin memburuk.
"Datanglah ke kantor secepat mungkin karena Umi dan Abah sudah menunggu." Setelah mengatakan ini staf itu langsung keluar dari kamar.
Dira, Gisel, Aish saling melihat. Mereka sangat gugup sekarang. Tapi ketika melihat keyakinan di wajah Aish, kegugupan mereka berdua akhirnya bisa ditekan. Mereka bisa melaluinya bersama-sama.
"Jangan gugup, kita bisa menghadapinya. Lagipula kita tidak berniat kabur dari pondok pesantren tapi malah dituduh. Jadi katakan saja yang sebenarnya." Kata Aish menghibur kedua sahabatnya.
__ADS_1
Dira dan Gisel mengambil nafas panjang, beberapa detik kemudian mereka akhirnya jauh lebih tenang. Seperti yang Aish katakan, mereka hanya perlu menjelaskannya untuk membantah rumor tersebut. Faktanya, mereka tidak berniat melarikan diri jadi untuk apa merasa takut.
"Benar. Kita hanya perlu mengatakan kebenarannya. Ayo, pergi bersama."