Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 25.2


__ADS_3

Gisel tersenyum kecut. Sinar di matanya meredup menyembunyikan rasa pahit di dalam hati dan penyesalan yang kembali mencuat. Kata orang seorang wanita yang telah cacat dalam artian memiliki jejak kehidupan yang buruk apalagi sampai kehilangan kehormatan tidak akan disukai oleh laki-laki. Sejahat apapun laki-laki, senakal apapun mereka di dalam masyarakat, dan sebejat apapun yang mereka lakukan kepada seorang wanita, mereka tetap mengharapkan membangun sebuah rumah tangga dengan wanita yang baik tentunya. Mereka berpikir bahwa Ibu untuk anak-anak mereka lebih pantas berasal dari wanita baik-baik daripada wanita yang suka berkelana entah ke mana. Karena mereka telah memikirkannya dengan serius kalau istri mereka kelak akan menjadi madrasah pertama untuk anak-anak.


Ini bukan sesuatu yang aneh, sudah umum terjadi di dalam masyarakat. Setiap kali mengingatnya, Gisel berpikir getir.


"Yah, ngomong-ngomong kedua orang tuamu sedang dalam perjalanan ke sini. Abah tadi menelpon agar mereka segera datang untuk mengurus masalah ini di pondok pesantren." Suasana kelam di hati Gisel lebih ringan saat memikirkan bagaimana reaksi kedua orang tua Aira besok saat dipersidangan nanti.


Pada saat itu Gisel ingin mengatakan kepada Ayah bahwa inilah hasil kerja kerasnya membesarkan Aira dan mengesampingkan Aish. Apakah Aira masih bisa tertawa?

__ADS_1


"Sungguh?" Aira sangat senang mendengarnya.


Gisel tersenyum tapi bukan lagi disebut senyuman, karena senyumannya tidak sampai ke dalam mata,"Yah. Kalau tidak salah malam ini kalian akan mengadakan reuni bersama."


"Alhamdulillah. Ya Allah aku senang mendengarnya. Aku berterima kasih kepada Abah karena masih memikirkanku di dalam situasi ini. Aku sangat ketakutan dan membutuhkan pelukan dari Ayah serta Bunda. Dukungan dari mereka merupakan bantuan terbesar yang dapat menenangkanku saat ini. Lalu di mana Abah dan Umi? Aku ingin berterima kasih kepada mereka."


"Mereka sedang sibuk dan tidak bisa diganggu. Ah... Sekarang aku sudah menjawab pertanyaan kamu, jadi aku bisa keluar. Assalamualaikum."

__ADS_1


"Waalaikumsalam. Gisel, tolong jaga kak Aish agar dia jangan terlalu sedih. Katakan kepadanya bahwa masih ada laki-laki di luar sana yang lebih pantas untuk dirinya." Pesan Aira perihatin.


Dengan enggan Aira membiarkan Gisel keluar dari kamar. Tapi meskipun enggan, ada rasa kepuasan tersendiri di dalam hati. Akhirnya apa yang dia inginkan terwujud.


"Habib Thalib kini menjadi milikku. Oh, kak Aish... Tolong maafkan diriku karena memiliki habib Thalib sepenuhnya. Tidak ada akhir yang paling baik kecuali aku menikah dengan habib Thalib. Maka kamu harus bersabar karena aku tidak akan melepaskan habib Thalib. Meskipun kamu menggigit jari sampai berdarah, tak kuizinkan dia berpaling melihat ke arah kamu karena dia cuma bisa melihat ke arah ku. Hahaha... Sekarang semuanya berjalan sesuai dengan rencana. Ayah dan Bunda juga turut ikut campur. Jadi habib Thalib tidak bisa mengelak dan pada akhirnya mau tidak mau, dia harus menikahiku." Badannya pegal-pegal dan lemah karena efek obat terlarang yang diminum. Tapi semua rasa tidak nyaman di dalam tubuh, tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan kebahagiaan di dalam hati. Dia puas, sangat puas. Tidak sabar menunggu hari esok.


Bersambung...

__ADS_1


Up serius besok, insyaa Allah


__ADS_2