
"Masya Allah ternyata kalian saling mengenal? Beruntung sekali kamu direkomendasikan langsung oleh habib Thalib masuk ke pondok pesantren ini." Teman-teman yang lain berseru kagum dan akhirnya mengerti kenapa habib Khalid cukup dekat dengan Aish di pondok pesantren beberapa waktu ini.
"Seperti yang kalian katakan aku benar-benar beruntung. Berkenalan dengan habib Khalid adalah anugerah yang Allah subhanahu wa ta'ala berikan kepadaku. Dan aku sangat mensyukurinya." Ucapnya rendah hati.
"Kalau begitu Aira, nanti kalau kita ketemu sama habib Thalib kami akan mengutusmu sebagai juru bicara karena kamu adalah satu-satunya orang di kelas kita yang paling dekat dengan habib Thalib." Ketua kelas yang sedari tadi dia menyimak pembicaraan akhirnya angkat suara.
Senyuman Aira langsung membeku. Di bawah pengawasan mata semua orang dia terpaksa menganggukkan kepalanya,"Tentu saja aku akan membantu kalian ketika bertemu dengan habib Thalib nanti." Janjinya berangan-angan.
...*****...
Kerbau sudah mulai membajak sawah dan para petani yang disewa oleh pondok pesantren juga ikut bekerja. Di sisi sawah Aish, Dira dan Gisel juga turun membantu. Mereka bertiga bekerja bersama-sama membantu membersihkan sawah dari sampah-sampah yang masuk ke dalam sawah melalui saluran air. Sampah-sampahnya tidak banyak tapi yang melelahkan adalah keberadaan mereka yang sulit ditemukan. Mereka harus menyisir sepetak luas sawah untuk mencari sampah-sampah itu. Untuk mencarinya mereka harus berjalan sambil menunduk untuk meraba-raba dasar lumpur. Tidak lupa juga sebuah keranjang bambu anyaman yang harus mereka tarik sepanjang mencari sampah. Sejujurnya ini adalah pekerjaan yang mudah tapi saat yang bersamaan setelah menjengkelkan karena mereka terpaksa bersentuhan dengan lumpur di bawah teriknya matahari. Bukan rahasia lagi bahwa mereka bertiga sangat membenci lumpur, kebencian mereka terhadap lumpur semakin mendarah daging bila disatukan dengan teriknya sinar matahari yang membakar kulit. Tapi mereka bertiga tidak bisa mengeluh jika tidak ingin menambah hukuman lagi.
"Ugh, kayaknya aku tadi nginjek sesuatu yang licin deh!" Gisel menunduk kaku tidak berani menggerakkan kakinya.
Aish langsung gugup mendengarnya.
"Kamu injak belut mungkin?" Kata Aish ragu.
Melihat wajah pucat sahabatnya, Dira dengan iseng berjalan ke samping Gisel ingin menakut-nakutinya.
"Bukan belut kali, tapi ular. Aku pernah denger dari para petani di desa kalau di sawah itu banyak ular berkeliaran. Apalagi di dalam lumpur, ularnya pasti licin-licin dan galak-galak. Kalau nggak salah namanya-"
"Dira, ihhh! Jangan bercanda. Aku takut tahu!" Gisel berteriak tidak senang sambil menatap Dira dengan ekspresi cemberut di wajahnya.
Aish juga ikutan ngeri mendengar perkataan Dira. Karena Dira, dia jadi ragu melangkahkan kakinya.
"Dir, please. Bukan saatnya bercanda."
"Iya nih Dira, bercandanya nggak lucu banget." Sahut Gisel masih marah.
Dira tersenyum simpul,"Siapa yang bercanda sih? Kalau nggak percaya kalian tanya aja habib Thalib." Tentang Dira masih iseng.
__ADS_1
Aish dengan ragu-ragu melihat ke arah habib Khalif yang kini sedang berdiri di pinggir sawah mengawasi kedua petak sawah yang sedang digarap oleh mereka dan Khalif. Ekspresi habib Khalid terlihat sangat serius seakan tidak bisa diganggu. Melihat ini, Aish ragu bertanya.
Seakan merasakan tatapan Aish, habib Khalid memalingkan wajah melihat ke arahnya. Wajah tampan habib Khalid sontak tersenyum dan menatap Aish dengan mata bertanya.
Wajah Aish langsung menghangat, dia refleks memalingkan wajahnya tidak berani menatap sang habib lagi.
"Jangan dengerin Dira, dia pasti bohong." Kata Aish berusaha menghilangkan rasa malu di wajahnya.
Dira terkekeh puas dan ingin berbicara lag. Tapi saat dia membuka mulutnya, tiba-tiba Dia merasakan sebuah benda licin bergerak cepat melewati punggung kakinya. Sekilas Dira merasakan bahwa benda itu memiliki tekstur yang licin dan pasti mahluk hidup, tapi dia tidak tahu makhluk hidup apa itu. Mungkinkah itu belut, atau bisa jadi ular.
Ular?
"Argh!!" Dira spontan melemparkan dirinya ke samping, tepatnya dia ingin memeluk Aish.
Tapi Aish sangat ketakutan melihat pergerakannya yang tiba-tiba dan tanpa sadar memiringkan tubuhnya menjauh dari Dira.
Karena kesulitan bergerak di atas lumpur, Aish tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya dan..
Brugh
"Kalian kenapa..." Gisel langsung menutup mulutnya menahan ledakan tawa. Apalagi saat melihat wajah mereka berdua sekarang sudah dipenuhi oleh cairan lumpur, perutnya sakit menahan tangan hingga akhirnya dia melepaskannya juga.
"Hahahaha... Kalian berdua ngapain sih mandi lumpur di sini?" Ucapnya mengolok-olok.
Kepala Dira langsung pusing. Terutama saat merasakan rasa aneh dan berpasir di dalam mulutnya. Bangun dari atas lumpur, dia menatap ngeri pakaiannya yang sudah sepenuhnya kotor.
"Ah... Apa ini?" Dia buru-buru memuntahkan lumpur yang tidak sengaja masuk ke dalam mulutnya.
"Ya Allah, Dira... Sumpah kamu tuh lucu banget!" Gisel sampai duduk puas tertawa.
Dira mengambil nafas panjang sebelum menghembuskannya. Di dalam kepala dia terus menekankan bahwa anggap saja ini sebagai ajang untuk melatih kesabarannya.
__ADS_1
"Astaghfirullahaladzim...astaghfirullahaladzim...astaghfirullahaladzim. Ya Allah tabahkan lah hati hamba-Mu ini. Luaskan hati hamba agar bisa memaafkan kesalahan dua teman tidak berguna hamba ini." Dira melambungkan doa dengan ekspresi bijak di wajahnya.
"Harusnya aku yang ngomong gitu. Kenapa kamu tiba-tiba melempar diri kamu ke aku?" Aish bangun dengan susah payah dan segera menuntut dia pelaku yang menyebabkannya jatuh.
Untungnya keadaan Aish jauh lebih baik daripada dia. Meskipun dia terjerembab ke lumpur, tapi untungnya wajahnya terselamatkan dan hanya pakaiannya saja yang kotor.
Dira dengan kaku menoleh ke Aish,"Kenapa kamu menghindar?" Tanyanya sedih.
"Kalau aku nggak menghindar, aku pasti ada di surga sekarang." Ucap Aish berusaha menahan kedutan di mulutnya.
Soalnya... Penampilan Dira terlalu... Dia tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Tapi satu yang pasti, tiap kali melihat wajahnya yang sehitam lumpur, Aish sangat ingin tertawa.
Dira memutar bola matanya malas,"Iya di surga, kamu sekarang-"
"Yo gorila betina, hari ini kamu terlihat jauh lebih cantik dari sebelum-sebelumnya." Suara nakal Khalif menginstruksi kata-kata Dira.
Entah sejak kapan Khalif berdiri di pinggir sawah melihat betapa konyolnya penampilan Dira saat ini. Sungguh ini sangat memalukan. Dira memiliki keinginan untuk menggali lubang di bawah kakinya dan menyembunyikan wajahnya dari Khalif.
Kenapa harus ada manusia ini, sih? Batin Dira mengeluh.
Sejak diperingatkan oleh teman kamarnya agar jangan menyebut atau menjelek-jelekkan Khalif dengan kata-kata tidak senonoh, Dira akhirnya mencoba menahan diri mulutnya agar masa depannya di akhirat tidak bermasalah.
"Aku memang cantik apapun yang aku lakukan jadi jangan heran." Ucap Dira dengan nada culasnya yang tidak bersahabat.
Khalif tidak marah dengan sikap culas Dira, bukannya marah dia malah berpikir bahwa Dira sangat lucu. Yah lebih lucu lagi kalau Dira melakukan atraksi seperti yang dilakukan gorila pada umunya di kebun binatang.
"Iya, aku tahu kok kamu selalu cantik. Tapi ngomong-ngomong kapan kamu atraksi lagi di kebun binatang? Serius, aku pengen lihat kamu atraksi lagi terutama dengan penampilanmu yang istimewa hari ini. Yakin deh, yang nonton pasti banyak banget." Khalif mengatakan kata-kata mengejek ini tanpa berkedip sekalipun.
Dia penasaran melihat reaksi Dira. Biasanya Dira akan meledak-ledak sama seperti yang gorila betina lakukan ketika anaknya direbut.
Ini sangat menarik.
__ADS_1
"Pftth.." Aish dan Gisel menahan tawa mendengar teman mereka dianiaya.
Kepala Dira langsung berasap antara malu dan marah,"Hei, bebek Mandarin! Jadi cowok kok hobi banget sih ngurusin urusan cewek?"