
Akhirnya perhatian habib Khalid dan Aish berhasil ditarik olehnya. Dia menatap mereka dengan ekspresi rumit di wajahnya. Entah itu interaksi atau bagaimana sikap habib Khalid kepada Aish, dia tidak bodoh untuk tidak menyadari bahwa ada sesuatu di antara mereka berdua. Maka rumor yang beredar baru-baru ini mengenai Nadira sebenarnya salah, kan?
Tidak mungkin habib Khalid menginjakkan kakinya diantara dua perahu. Nah, tapi bisa saja mungkin kalau sang habib ingin poligami. Toh, banyak habib yang poligami karena tidak cukup memiliki satu sarifah di hati dalam hidupnya. Ck, memikirkannya kadang membuat hati sedih karena istri pertama pasti melalui hari-harinya dalam luka kecemburuan.
"Itu...aku sudah mempertimbangkannya untuk untuk tidak pindah tugas ke asrama, habib." Ujar Dimas setelah menenangkan suasana hatinya.
Aish tidak merasa ada sesuatu yang salah dan menganggap bila Dimas terlalu rendah hati.
"Kenapa? Kamu tidak perlu takut aku merasa direpotkan. Faktanya kamu pantas dipindah tugaskan sembari melatih dirimu sebelum benar-benar magang di pondok pesantren." Ujar habib Khalid masih dengan senyuman yang sama di wajah tampan tanpa cela nya.
Dimas tertegun, dia menunduk kepalanya malu sambil mengelus lengan kirinya berpikir. Dari apa yang habib Khalid katakan, dia tidak bisa menolak tawaran sang habib dalam artian ini sudah diputuskan tanpa ada ruang untuk mundur. Dimas tidak merasa bersyukur dengan keputusan ini dan malah menyalahkan sang habib atas keputusan egoisnya. Tapi setelah mendengar maksud sang habib, dia tiba-tiba memahami bahwa ini demi kebaikannya sendiri. Jika dia magang di sini nanti, maka beberapa tugas bisa dijalankan dengan mudah.
"Terima kasih, habib. Alhamdulillah, aku berjanji akan menjalankan tugas dengan serius di asrama nanti." Dimas tersenyum lega karena rencananya satu langkah di depan.
Habib Khalid mengangguk ringan.
"Sama-sama. Sekarang kamu bisa kembali menjalankan tugasmu di sini."
Dimas merasa diusir tapi tidak mengatakan apa-apa selain ketidaknyamanan di hatinya. Mengangguk sopan kepada sang habib, dia mengucapkan sama tulus sebelum berbalik melanjutkan tugasnya yang sempat tertunda.
"Lain kali jangan terlalu dekat dengan laki-laki lain." Kata habib Khalid rendah setelah melepaskan Dimas.
Bola mata Aish bergetar ringan. Dia bertanya-tanya apakah sang habib cemburu?
Hatinya gelisah dengan harapan yang tidak disamarkan di matanya.
"Kenapa, kak?"
__ADS_1
Habib Khalid telah kehilangan senyum di wajahnya.
"Orang lain akan salah paham dan dapat mengundang prasangka buruk." Katanya tanpa senyum.
Jantung Aish berdebar kencang. Ia langsung memalingkan wajahnya ke bawah karena tak sanggup lagi menatap bola mata gelap sang habib yang menyihirnya. Aneh, suatu kali ia merasa bila mata ini sangat mempesona dan indah, tapi kali ini ia merasa bila mata gelap itu... agaknya berbahaya.
Seolah-olah cahaya gelap itu ingin memenjarakannya, memasukkan dirinya ke dalam tempat yang gelap dan tak berujung hingga dirinya tidak bisa melarikan diri. Perasaan ini sangat mengerikan.
Aish menggelengkan kepalanya kesal karena tiba-tiba jadi paranoid sendiri.
"Lalu orang-orang juga akan salah paham dengan kita, kak, karena aku terlalu dekat denganmu." Kata Aish masuk akal.
Habib Khalid tersenyum acuh tak acuh, tampak lembut dan dingin pada saat yang bersamaan.
"Lalu salah paham. Bukankah aku sudah mengatakannya?"
"Ingat, kamu sedang mengejar ku sekarang. Dan kamu baru saja mengatakannya tadi siang tapi sepertinya kamu ingin menyerah secepat ini?" Pengingat habib sambil tersenyum yang bukan lagi disebut sebagai senyuman.
Aish tidak menyadarinya karena matanya masih betah melihat ke bawah- bukan betah sebenarnya, tapi lebih tepatnya ia masih tidak kuat berhadapan langsung dengan sang habib jadi lihat saja ke bawah.
"Tidak! Tidak! Tidak! Aku enggak nyerah kok, kak. Aku masih ingin mengejar!" Bantah Aish panik sembari mengangkat kepalanya menatap sang habib.
Ekspresi wajahnya yang panik dengan pipi kemerahan sangat menggemaskan juga manis, tangan habib Khalid tiba-tiba gatal ingin mencubit daging lembut itu.
"Yah, aku pikir kamu mulai merindukan hukuman dariku." Kata habib Khalid dengan wajah yang kembali melembut.
Aish sekali lagi dibuat terpesona olehnya. Ia merasa bila hatinya telah berkali-kali dijatuhkan oleh sang habib. Hanya dengan modal tersenyum saja, habib telah berhasil membuatnya meleleh seperti karamel, apalagi jika habib melakukan sesi yang lebih dari ini. Aish tidak bisa membayangkan betapa manis dirinya saat itu.
__ADS_1
"Tidak....aku masih ingin mengejar dan aku juga tidak akan pernah berhenti sampai aku berhasil mendapatkan kak Khalid." Bisik Aish malu-malu.
Pipinya sangat panas sekarang setelah membuat pernyataan berani ini. Ia tidak tahu mengapa, tapi berada di dekat habib seringkali membuat dirinya di luar kendali. Aish sangat gugup juga gelisah.
"Hahaha.." Aish terkesiap.
Matanya berbinar terang ketika melihat dan mendengar tawa ringan dari pujaan hatinya. Betapa candu, suara tawa habib Khalid sangat menyenangkan di dalam hatinya. Ia tidak pernah tahu sebelumnya jika melihat seseorang tertawa adalah sebuah hidangan manis yang menggelora untuk jiwanya, dan ia bahkan tidak pernah tahu jika mendengar seseorang tertawa merupakan candu yang jauh lebih nikmat daripada seteguk madu.
Mengapa Aish baru mengetahui dan menyadarinya sekarang?
"Apa... apakah ada yang lucu, kak?" Tanya Aish hati-hati setelah menunggu tawa habib Khalid mereda.
Puas tertawa, habib Khalid kembali ke dalam tampilannya yang lembut dan ramah. Sungguh manis, pikir Aish.
"Yah, kamu sangat lucu." Jawab habib Khalid mengakui.
Dipuji lucu oleh sang habib, Aish langsung jadi salah tingkah. Bola matanya berputar ke mana-mana karena ia tiba-tiba tidak memiliki keberanian untuk menatap mata sang habib. Ugh, rasanya memalukan.
Namun Aish bertanya-tanya, menurut habib bagian mana dari dirinya yang lucu? Akan baik-baik saja kalau menyangkut tingkahnya tapi akan berbahaya jika menyangkut wajahnya. Ia tidak suka wajahnya lucu tapi ia lebih suka bila wajahnya terlihat cantik untuk habib!
Semester Aish sibuk berperang dengan lilitannya sendiri, Dira dan Gisel, kedua sahabat yang telah lama dilupakan keberadaannya berdiri ragu di depan kantin. Pasalnya mereka akan membayar tagihan tapi yang memegang uang adalah Aish dan saat ini posisi Aish sedang melakukan pendekatan. Sebagai sahabat yang baik dan pengertian, mereka tidak bisa mengganggunya.
"Kak, jumlah semuanya 344 ribu." Penjaga kantin berbicara dengan sopan.
Gisel dan Dira saling melihat. Mereka berdua tidak punya uang sepeser pun di kantong. Untuk Gisel sendiri, dia sudah kehilangan uang sehingga tidak punya uang sedangkan Dira, yah dia menyesal tidak membawa uang saat keluar dari asrama tadi.
"Gimana, kak?" Tanya penjaga kantin itu lagi.
__ADS_1