
Habib Khalid membawa Aish berjalan ke belakang gedung asrama laki-laki. Jalannya agak buruk dan bergelombang, jika tidak memiliki lampu maka dia mungkin sudah lama tersandung. Aish tidak tahu mengapa sang habib membawanya ke sini karena ini adalah gedung asrama laki-laki! Gedung haram yang tabu dipikirkan oleh santriwati apalagi sampai dimasuki. Tak pernah terpikirkan olehnya bahwa suatu hari dia akan masuk ke dalam gedung ini dan itu pun dilakukan di malam hari! Jantungnya berdebar kencang karena gugup.
"Assalamualaikum, habib?" Saat melewati sebuah persimpangan tiba-tiba habib Khalid disapa oleh seorang santri laki-laki yang sedang bertugas.
"Waalaikumsalam. Malam ini aku punya urusan jadi aku akan melewatkan tugas patroli. Bila kalian kekurangan orang, minta bantuan kepada staf pondok pesantren untuk ikut membantu agar kalian bisa istirahat."
"Saya mengerti, habib. Kalau begitu saya permisi dulu untuk melanjutkan patroli sambil memberitahu teman-teman yang lain instruksi habib malam ini." Setelah mendapatkan persetujuan dari sang habib, dia lalu pergi ke jalan yang berlawanan arah.
Beberapa menit berjalan, dia menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke belakang dengan mata penasaran.
"Habib Thalib bawa siapa? Punggungnya seperti seorang wanita, tapi itu tidak mungkin! Siapa tahu itu adalah orang yang membantu habib Thalib mengurus urusan eksternal. Ya, ini tidak mengherankan." Menggelengkan kepalanya mengusir jauh-jauh prasangka buruk tadi, dia kembali melanjutkan langkahnya untuk mencari teman-teman yang lain.
Sementara itu Aish kini tengah berdiri di sebuah pintu kayu, menunggu sang habib membuka kunci. Dia menoleh ke sana kemari, selain pintu yang ada di depannya, Aish yakin tidak melihat pintu lagi di sisi manapun gedung ini. Artinya ini adalah satu-satunya pintu di bagian gedung belakang asrama laki-laki. Aish bertanya-tanya, ruangan apa yang ada di dalam hingga membuat habib Khalid membawanya ke sini.
__ADS_1
Cklak
"Assalamualaikum." Salam sang habib sembari masuk ke dalam ruangan. Mungkin karena menyadari Aish tidak bergerak, dia menoleh ke belakang sembari mendorong pintu terbuka lebih lebar.
Melihat tatapan sang habib, ragu, dia kemudian melangkah ke depan dan langsung dibuat takjub melihat ruangan yang dia masuki. Ruangannya sangat terang. Ada meja kerja lengkap dengan komputer dan berkas-berkas yang tersusun rapi di atas meja. Di depan meja kerja ada sebuah sofa panjang yang digunakan untuk menerima tamu atau bersantai sejenak. Sekilas ruangan ini tidak ada bedanya dengan kantor, namun ada perbedaan, yaitu aneka macam permen dan cemilan di atas meja. Sentuhan formal di dalam ruangan ini tidak terlalu serius ketika mata Aish menangkap deretan bantal-bantal lembut yang biasanya digunakan oleh para wanita. Aish adalah salah satu yang menyukai bantalan lembut dan mengoleksi banyak di kamarnya. Sayang sekali saat dikirim ke pondok pesantren dia tidak bisa membawa semua koleksi bantalannya ke pondok pesantren.
"Ini..." Mata Aish bersinar terang melihat semua barang-barang di ruangan.
Habib Khalid merasa geli. Dengan senyum tertahan dia berkata.
Aish langsung teringat dengan tujuannya dibawa ke sini.
"Tugas apa, kak?" Pipinya memerah terang membayangkan bahwa malam ini dia akan menghabiskan waktu bersama sang habib di dalam ruangan yang sama.
__ADS_1
Jari telunjuk habib Khalid mengarah ke kardus-kardus yang ada di samping meja kerjanya. Di dalam kardus itu ada tumpukan dokumen yang disusun tak beraturan. Ini adalah panen selama sang habib menghilang satu bulanan. Orang-orang pondok pesantren tidak bisa membuat keputusan untuk dokumen-dokumen itu karena sang habib tidak ada di sini. Jadi mereka semua mengumpulkan semua dokumen itu menjadi satu dan menaruhnya di dalam ruangan ini.
"Susun semua dokumen ini menjadi satu bagian sesuai dengan abjad pertama nama orang yang mengirim. Jika kamu tidak bisa menyelesaikannya malam ini, maka kamu akan mendapatkan hukuman yang lain." Ancam sang habib dengan senyuman penuh makna.
Aish meremehkan semua dokumen-dokumen itu. Hanya menyusunnya sesuai urutan abjad, anak TK pun tahu. Ini bukan tugas yang sulit dan bisa diselesaikan malam ini juga. Aish lega mengetahui hukumannya tidak seberat waktu-waktu yang lain. Tapi... Habib Khalid masih belum menjelaskan kesalahan apa saja yang telah dia lakukan hingga harus mendapatkan hukuman!
Huh, ya sudahlah! Aish tidak terlalu memikirkannya lagi karena bisa berduaan saja dengan sang habib dan bahkan sampai menghabiskan malam bersama adalah momen yang sangat berharga di dalam hidupnya.
"Hanya menyusun saja? Aku pasti bisa menyelesaikannya malam ini. Kak Khalid tidak perlu khawatir." Ucap Aish bersungguh-sungguh.
Eh, tapi kenapa senyuman habib Khalid rasanya salah?
"Baiklah, tepati janjimu. Jika ada hal lain yang ingin kamu tanyakan mengenai barang-barang ini, panggil saja aku. Aku akan bekerja di sini mengurus beberapa hal yang belum sempat diurus di luar kota kemarin."
__ADS_1
Habib Khalid duduk di kursi kebesarannya dengan punggung bersandar menatap lurus ke arah Aish. Matanya yang gelap bersinar aneh mengawasi wajah merah Aish yang terlihat sangat mempesona. Aish tampak malu ditatap seperti itu oleh sang habib. Bola matanya bergerak liar berusaha tidak melihat ke arah sang habib.
"Ten-tentu saja. Ini pekerjaan mudah. Aku tidak mungkin mengganggu waktu kak Khalid bekerja." Ucapnya percaya diri.