Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 20.6


__ADS_3

Fani melihat Aira aneh,"Kamu nggak tahu? Habib Thalib baru aja pulang dengan seorang wanita yang diduga calon istrinya. Kepulangannya dengan wanita itu membuat pondok pesantren kembali ramai. Topik pembicaraan ini kini sedang dibicarakan di mana-mana. Aku kaget kamu nggak tahu apa-apa tentang masalah ini."


Sementara itu Aira masih termenung mencerna informasi besar yang dikatakan oleh Fani baru saja.


"Habib Thalib datang dengan calon istrinya?" Tanyanya tidak yakin.


"Iya, kata orang dia sangat cantik. Jika kamu tidak percaya, datanglah ke rumah Umi dan lihat sendiri."


Apa ini?


Kenapa tiba-tiba sebuah rumor menyebar bahwa sang Habib membawa calon istrinya pulang.


Bagaimana bisa ini terjadi? Habib Thalib hanya bisa menikah denganku. Dia tidak boleh menikah dengan wanita lain! Tapi... Tapi aku memikirkan bagaimana keadaan kak Aish sekarang. Dia pasti sakit hati mendengar kabar ini dan aku ingin melihat seperti apa wajah sombong itu lagi. Apakah dia masih bisa menatapku dengan tatapan angkuh menjijikan itu? Atau dia kini sangat malu karena rumor yang dia ciptakan sendiri tidak mempan! Aku sangat bahagia memikirkannya! Batin Aira merasa puas di tengah-tengah sakit hatinya.


Tidak apa-apa jika rumor itu benar, dia masih memiliki berbagai macam cara untuk merebut hati sang Habib dari wanita itu!

__ADS_1


...*****...


Malam datang dengan cepat dan kamar yang Aish tinggali terlihat sangat sepi karena sebagian besar teman-teman kamarnya pulang ke rumah. Kini bersisa 15 atau 17 orang dan rencananya sebagian dari mereka juga akan pulang besok. Sedangkan sebagian nya lagi memutuskan untuk tinggal di pondok pesantren.


Malam ini mereka semua berkumpul dan bicarakan banyak hal sedangkan Aish, Dira dan Gisel kita memiliki mood untuk bicara. Mereka bertiga rebahan di atas kasur masing-masing. Jika Dira dan Aish satu ranjang maka Gisel sendirian karena Siti sudah pulang.


"Ayo ke kantin, semua orang sudah pergi ke kantin. Tinggal kita bertiga yang tersisa di kamar ini."


Mereka bertiga sudah diajak pergi ke kantin bersama-sama oleh teman kamar yang lain. Namun karena Aish sedang bad mood dan tidak ingin makan, maka Dira dan Gisel tidak tega meninggalkannya.


"Ayo pergi. Aku juga lapar." Aish kasihan melihat kedua sahabatnya yang harus menahan diri gara-gara dirinya.


"Agak sepi, ya." Kata Dira sambil melihat sekeliling.


"Lebih damai kalau begini." Sahut Gisel santai.

__ADS_1


Beberapa menit berjalan, mereka akhirnya bisa melihat stan makanan yang terang benderang. Sudah banyak orang di dalam tapi tidak seramai malam-malam biasanya.


"Assalamualaikum?"


Mereka bertiga tidak menyangka berpapasan di jalan dengan Habib Thalib. Habib Thalib datang bersama wanita itu dan laki-laki tinggi yang dikira sebagai pelayan.


"Waalaikumsalam." Jawab mereka bertiga.


Ketika Aish melihat wanita itu berdiri dekat dengan sang habib, dia langsung memalingkan wajahnya menatap ke bawah. Kedua tangannya mengepal erat dibalik kain gamis, menutupi betapa rumit perasaannya sekarang.


"Sudah lama tidak bertemu. Bagaimana kabar kalian bertiga sekarang?" Sang habib bertanya dengan senyuman ramah di wajah tampan tanpa celanya.


Bila biasanya wajah Aish akan mengembangkan warna merah setiap kali bertemu dengan sang habib, namun saat ini rona itu menguap entah ke mana digantikan oleh ekspresi datar. Bukan masalah kembali menjadi dirinya yang dulu, tidak apa-apa, tidak ada yang hilang juga.


"Alhamdulillah baik, habib. Kami akan pergi ke stan makan jadi kami tidak akan mengganggu waktu habib. Kami pergi, assalamualaikum." Di hadapan sang habib Dira tidak berani bersikap sok kuat tapi masih bisa mencari alasan untuk melarikan diri. Soalnya dia kasihan melihat sahabatnya yang murung di sebelah.

__ADS_1


"Tunggu." Habib Khalid menghentikan mereka pergi. "Aku juga bertanya kepadamu, tapi kenapa diam saja?" Sambungnya berbicara kepada Aish.


Dira dan Gisel langsung menahan nafas. Jangan sampai Aish kesurupan di sini pikir mereka berdua.


__ADS_2