
Aish menggelengkan kepalanya membantah.
"Kenapa aku harus marah? Lagipula itu adalah hukuman untuk kami dan kamu tidak seharusnya ikut campur." Melihat waktu di jam dinding kamar asrama, Aish lalu bangun dari duduknya.
"Okay, sudah waktunya makan malam. Ayo pergi sebelum kita kehilangan tempat strategis." Aish menepuk punggung kedua temannya dan Siti.
Gisel dan Dira tidak tahu permasalahan diantara mereka berdua karena kemarin semua orang masih baik-baik saja. Akan tetapi karena Aish ingin pergi maka mereka juga akan pergi, mereka juga tidak akan bersikap akrab lagi dengan Gadis setelah melihat Aish menjaga jarak.
Di samping itu mereka pada awalnya tidak serek. Bukan karena Gadis miskin atau bersikap kasar, bukan karena itu. Alasan sederhananya yah karena Gadis melanggar janji. Itu saja. Selebihnya mereka tidak akan membuat kontak lebih lagi.
"Yuk Siti." Dira menarik Siti berdiri.
Siti tidak membantah. Dia berdiri dan berjalan melewati wajah Gadis yang telah membiru malu.
Gadis berdiri termangu di tempat menatap ubin keramik di kamar dengan perasaan campur aduk. Ada penyesalan karena telah menolak membantu Aish tadi pagi. Karena jika dia tidak membuat alasan, maka orang yang kini mengikuti Aish bukanlah Siti tapi dirinya!
Dia bukanlah orang yang serakah tapi tidak munafik. Baru berteman beberapa hari saja Aish sudah memberikannya uang 1 juta, apalagi jika dia terus bertahan mengikuti Aish kemana-mana, uang sekolahnya pasti terjamin. Tapi lihat sekarang. Siti lah yang mendapatkan keistimewaan itu!
"Gadis, kenapa kamu enggak ikut pergi sama mereka?" Seorang gadis mengajukan pertanyaan ketika melihat Gadis ditinggal pergi.
Karena sudah waktunya makan malam. Orang-orang mulai melepaskan buku dan kitab mereka untuk bersiap-siap pergi ke kantin.
Gadis menggelengkan kepalanya lesu.
"Kayaknya Aish marah sama aku." Katanya sedih.
"Marah kenapa?"
Orang-orang di kamar tidak tahu bila Gadis pernah berjanji untuk membantu Aish membersihkan kamar mandi.
__ADS_1
Gadis tersenyum kecut.
"Aku juga enggak tahu."
Gadis itu mengangkat salah satu alisnya merasa aneh.
"Aish adalah orang yang baik. Dia enggak mungkin marah tanpa alasan." Kata gadis itu.
Gadis itu mempercayai dan bahkan mengagumi kebaikan hati Aish. Kecuali sikapnya yang masih kasar, hampir semua orang di kamar setuju bila Aish adalah orang yang baik. Buktinya Gadis dan Siti diberikan hadiah yang cukup besar, bahkan teman-teman di kamar juga kebagian makanan. Padahal mereka tidak saling mengenal namun Aish tidak sungkan untuk berbagi.
Gadis hanya tersenyum tipis dan tidak mengatakan apa-apa.
...***...
Mereka makan dengan cepat dan lahap. Tidak ada drama atau kejadian yang menggangu malam ini. Kantin sangat tertib dan damai. Biasanya kantin santriwati akan membuat keributan bila Ustad atau habib Khalid berkunjung. Tapi malam ini sangat berbeda karena tak satupun dari orang-orang yang datang berkunjung.
"Aku udah enggak tahan lagi. Aish, kamu enggak mau ngomong apa-apa soal Gadis ke kita?"
Setelah Siti pergi dengan teman kamar yang lain, Dira langsung membuka suaranya untuk bertanya. Pasalnya dia telah menahan pertanyaan ini dari tadi pagi dan sudah tidak tahan lagi. Jiwa gosipnya bergejolak dan ingin segera dihempaskan.
"Dia bukan orang yang baik, jadi jauhi saja." Kata Aish to the point.
Tapi terlalu singkat!
"Serius? Kamu tahu darimana?!" Gisel kaget.
"Iya, Aish! Kita berdua enggak ada ngeliat tingkahnya yang aneh-aneh." Seru Dira sama kagetnya.
Aish tersenyum miring.
__ADS_1
"Di kantin, apa kalian enggak ngeliat ekspresi anak-anak yang duduk dengannya? Mereka jelas-jelas tidak menyukai kita."
"Aku nyadar. Tapi bukannya hampir semua orang enggak suka sama kita sejak bertengkar dengan wanita bermuka dua itu?" Yang Dira maksud adalah Khalisa.
Khalisa memiliki banyak pengagum dan fans di sini jadi setelah pertengkaran itu mereka dimusuhi banyak orang.
"Aku juga enggak memikirkan masalah ini sebelumnya. Tapi setelah kejadian di kamar mandi aku mulai memikirkannya." Aish masih belum menjelaskannya.
Dia sengaja memotong-motong penjelasannya agar Dira dan Gisel semakin penasaran.
"Eh, gimana-gimana maksudnya?" Gisel geregetan.
Aish tertawa terbahak-bahak. Dia memukul pundak mereka tampak sangat puas. Ketika melihat wajah sembelit mereka berdua, Aish merasakan sebuah kepuasan yang sangat menyenangkan!
"Ngomong, meong!" Desak Dira.
"Kita penasaran banget, Aisha!" Keluh Gisel bersemangat.
"Okay, ini mau ngomong." Mengambil nafas panjang seiring dengan tawanya yang mulai mereda, dia lalu berbicara."Saat kita bertengkar dengan Khalisa, aku tidak sengaja melihat Gadis dan Siti diantara kerumunan. Gadis tampak sedang bersembunyi dari kita dan tidak mau ikut campur sedangkan Siti berbicara di sampingnya. Aku menebak bila Siti terlihat sedang membujuknya agar dia datang membantu kita karena matanya sempat beberapa kali melirik ke arah kita tapi kayaknya Gadis enggak mau dan terus mundur diantara kerumunan. Aku pikir itu hanya dugaan acakku saja dan berpikir bila Gadis akan datang menghampiri kita begitu masalah selesai. Tapi sampai kita masuk ke dalam klinik, dia tidak datang dan malah bersikap tidak tahu apa-apa ketika kita kembali ke asrama. Dari sanalah aku mengkonfirmasi bila dia tidak bisa diajak berteman. Daripada mengajaknya pergi aku lebih baik memaksa Siti untuk ikut bersama kita karena meskipun Siti orangnya cuek, dia tidak bermaksud jahat kepada kita dan malah sempat ingin membantu kita." Jelas Aish kepada mereka berdua.
Itulah alasan mengapa Aish langsung mengubah sikapnya di depan Gadis. Dia tidak ingin mengekspos langsung sikap pura-pura Gadis dan lebih memilih untuk menjauhinya secara perlahan. Siapa yang tahu bila Gadis ternyata sangat peka dan ingin menempeli mereka kemana-mana seolah dia sudah masuk ke dalam lingkaran Aish. Padahal bagi Aish dia hanyalah kenalan yang tidak sengaja dia temukan di pondok pesantren ini.
"Oalah, jadi dia bukan orang yang baik! Pantas aja kamu enggak mau dia nemenin kita ke pasar tadi pagi." Seru Dira akhirnya mengerti.
"Tapi Aish kenapa aku berpikir jika Gadis aneh yah. Kemarin kan sikapmu masih baik-baik aja tapi kenapa hari ini dia berbeda? Dan aku juga ingat dengan baik kalau kita enggak pernah bertengkar ataupun ada masalah sama dia. Jadi kenapa sikapnya tiba-tiba berbeda?" Gisel tiba-tiba merasa perubahan Gadis agak aneh.
Pasalnya mereka tidak pernah melakukan sesuatu yang aneh kepadanya dan malah mereka bertiga dengan murah hati memberikan beberapa hal kecil untuknya. Dengan kebaikan itu normalnya orang akan tersentuh dan tidak akan memiliki niat buruk.
Jadi aneh saja melihat Gadis seperti ini.
__ADS_1