
"Aish! Aish! Bibi masih ingin berbicara denganmu! Aish tunggu-"
Tud
Telepon telah terputus. Wajah bibi langsung menjadi gelap. Dia menatap marah layar ponselnya yang sudah tidak tersambung lagi dengan Aish. Kesal, ia meletakkan ponselnya di atas meja dengan kasar hingga menimbulkan bunyi suara yang nyaring.
Bibi merenggut tidak senang. Hatinya sangat tidak puas dengan penolakan Aish. Sebagai orang tua, ia merasa Aish telah meremehkan posisinya dan menganggap kata-katanya adalah lelucon.
"Ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba marah?" Tanya Paman ketika melihat wajah muram bibi yang seterang pantat panci.
Seolah-olah ada orang yang berhutang uang kepada bibi, namun belum kunjung dilunasi.
"Aish enggak mau, mas! Anak ini sangat sulit diatur dimana pun dia berada. Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi untuk anak ini." Jawab bibi menjelaskan ketidakpuasannya kepada sang suami.
Paman menggelengkan kepalanya juga ikut tidak senang mendengarnya.
"Apakan kamu tidak bilang akan menggantinya?" Tanya paman masam.
Bibi tersenyum sinis,"Aku enggak cuma bilang, tapi aku juga tekankan kalau akan mengganti uangnya dengan bunga tambahan. Tapi dia menolak dengan alasan tidak ingin meminjamkannya kepada siapapun!" Keluhan bibi kepada Aish tiada habisnya.
__ADS_1
Menurutnya Aish masih terlalu kecil untuk memegang uang sebesar itu dan menurutnya uang itu harus digunakan dengan benar dulu hingga akhirnya Aish dewasa serta sudah bisa memegang uang. Namun Aish tidak mau bekerja sama.
Dia malah menolak habis-habisan apa yang bibi tawarkan dengan alasan klise.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Proyek tidak bisa ditunda lagi." Kata paman mendesak bibi.
"Aku enggak tahu, mas. Aku juga enggak mau proyek kita tertunda." Kata bibi cemas.
Mereka berdua lalu berpikir keras tapi tidak menemukan cara yang relevan untuk mengatasi masalah mereka sendiri. Meminjam uang adalah solusi terbaik dan mereka sudah mencobanya di beberapa saudara, ada yang berhasil dan ada pula yang tidak berhasil.
Uangnya memang didapatkan tapi masih belum cukup untuk menutupi kekurangan proyek.
"Baiklah."
Mereka berdua kemudian keluar dari kamar untuk mencari Ibu. Kebetulan Ibu sedang duduk di taman belakang bersama dengan Aira dan Bunda. Entah apa yang mereka bicarakan hingga membuat Aira tersenyum malu-malu di samping nenek.
"Ibu?" Panggil bibi kepada nenek.
Nenek menoleh ke belakang. Putri dan menantunya datang ke sini mencarinya, nenek mengira mereka ingin membicarakan sesuatu.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya nenek lemah.
Akhir-akhir ini cuaca agak tidak bersahabat untuk kesehatannya yang sudah tidak muda lagi.
Bibi dan paman tidak menghindari Aira serta bundanya saat membicarakan tentang keuangan mereka sebab mereka berdua adalah keluarga dekat, tidak perlu ditutupin.
"Ibu seharusnya sudah mendengar jika kami kekurangan dana untuk membiayai proyek kami baru-baru ini. Rencananya usaha kami akan dibuka pada akhir tahun nanti, tapi dengan catatan dan harus cukup. Akan tetapi sampai dengan saat ini kami masih kekurangan dana untuk usaha kami." Kata bibi memulai.
Baik Aira dan Bunda sama-sama diam menyimak pembicaraan tanpa niat untuk menyela.
Nenek juga sudah mendengar masalah ini tapi dia tidak berdaya.
"Masalah ini, aku sudah tahu. Uang yang kalian butuhkan sangat besar, tapi aku tidak bisa membantu kalian." Kata nenek lemah.
Dia sudah tua dan lebih banyak menghabiskan hari tuanya bersama anak, cucunya. Setiap uang yang masuk ke dalam sakunya adalah alokasi dari anak-anaknya. Meskipun semua uang itu ditabung, jumlahnya tidak akan mampu menutupi celah dana yang dibutuhkan bibi.
"Bu, aku juga tahu ini. Maksud ku membicarakan ini dengan Ibu adalah agar Ibu membantu kami berbicara dengan Aish. Dia memegang tabungan Mamanya-"
"Tidak!" Potong kakek marah.
__ADS_1