
Setelah sidang ditutup, semua orang kembali melanjutkan aktivitas yang tertunda hari ini. Namun karena banyak kejutan yang mereka temukan di dalam sidang, pikiran semua orang berlayar membicarakan masalah ini terus-menerus. Entah itu sekumpulan santriwati atau santri, kejutan ini tidak memandang gender. Sebagian besar para santri dan santriwati berebutan ingin bertemu dengan habib Al Alamsyah. Sosok terhormat yang sangat mereka kagumi di dalam hati. Sayang sekali mereka tidak dapat bertemu dengannya untuk sekarang karena habib Alamsyah ingin menghabiskan waktu untuk berbicara dengan cucunya.
Dia memiliki banyak sekali pertanyaan yang ingin ditanyakan kepada Aish. Entah itu tentang masa kecil yang terlewatkan, tentang kehidupan sekolah yang menarik, dan tentang kehidupan sehari-hari cucunya di luar sana.
Semuanya berjalan harmonis kecuali untuk keluarga 4 orang yang saling menyalahkan di sebuah ruangan yang dikhususkan untuk para tamu.
"Aira enggak mau berhenti dari pondok pesantren..." Aira menangis sesenggukan menolak pergi.
Baru saja Ayah mengatakan bahwa konsekuensi masalah ini yang paling fatal adalah mengeluarkan Aira dari pondok pesantren bila tak mau dibawa ke jalur hukum. Ini adalah keputusan yang sangat diharapkan setelah masalah yang dibuat oleh Aira di pondok pesantren.
__ADS_1
"Mau nggak mau kamu harus keluar dari pondok pesantren. Ayah kira Abah tidak mau menampung kamu lagi di sini karena masalah yang kamu buat sangat fatal. Ya Allah, Aira, apa yang kamu pikirkan ketika melakukan kejahatan ini? Beraninya kamu menjebak seseorang, apalagi orang itu adalah habib Thalib! Dia merupakan orang yang tidak bisa kita singgung karena identitasnya yang spesial!" Ayah tidak habis pikir dengan isi kepala putrinya.
Aira tertunduk menangis.
"Aira suka sama habib Thalib... Aira mau nikah sama dia.." Karena kesukaannya ini membuat dirinya buta dan mengambil jalan yang salah.
Ayah mengacak rambutnya kasar,"Ayah tahu kamu suka dengannya, tapi kenapa harus menggunakan jalan ini!" Teriak Ayah marah.
"Mas, cukup! Apakah kamu tidak melihat bila putri kita sedang menangis? Dia saat ini tidak baik-baik saja jadi jangan menambah masalah yang membebani Aira lagi!" Bunda pun tak tahan melihat putrinya terus-menerus di hardik oleh Ayah.
__ADS_1
Ayah balas menatap Bunda garang.
"Oh, terus aja manjakan dia. Lihatlah anak yang kamu besarkan dengan baik, dia telah mempermalukan kita di depan banyak orang orang dan di depan orang-orang besar. Tidak hanya mempermalukan kita, tapi dia juga berani menjebak seorang habib dan memfitnah kakaknya sendiri untuk kesalahan yang tidak pernah dilakukan. Mengapa dia harus melakukan ini kepada Aish? Padahal dia memiliki semuanya. Aku lebih banyak menghabiskan waktu dengannya, memanjakan dia, menuruti keinginannya dan menjunjung namanya kemanapun aku bertemu dengan teman-temanku. Perlakuan ini sangat kecil dimiliki oleh Aish. Tapi kenapa Aira masih saja cemburu kepadanya?! Aku sangat muak dengan drama ini. Dan demi Allah aku menyesal karena mataku selama ini tertutup sehingga hanya bisa melihat sisi Aira sedangkan mengabaikan sisi putriku yang lain. Sekarang Allah telah membalasku, Dia perlihatkan buah dari kelalaianku. Aku sangat malu memiliki putri serakah seperti dia!" Teriak Ayah marah.
"Mas!" Bunda sangat shock mendengar sumpah suaminya.
"Apa? Apakah dia belum cukup membuat mu dipermalukan? Sekarang kemasi barang-barangnya di asrama. Aku tak mau tahu, hari ini dia harus angkat kaki dari pondok pesantren!" Ucap Ayah memerintah. Tak perduli seperti apa ekspresi menyedihkan Aira sekarang, Ayah tidak lagi merasa kasihan.
"Ayah.." Panggil Aira tak percaya.
__ADS_1
Ayah memalingkan wajahnya dan langsung keluar dari dalam ruangan. Dia pergi mencari Abah untuk membicarakan masalah tindak lanjut hukuman yang akan dijalani oleh putrinya.