Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 28.2


__ADS_3

Perlahan pembicaraan mengenai hubungan Aish dan habib Khalid meredup seiring dengan ujian nasional yang semakin dekat. Setiap santriwati yang berada di akhir kelas 12 mulai mempersiapkan diri dengan serius untuk menghadapi ujian nasional. Pelajaran yang mereka pelajari tidak serumit ujian akhir sekolah karena ini hanyalah pelajaran umum. Hari demi hari dilewatkan dengan fokus belajar. Perpustakaan tidak pernah kosong dan selalu dipenuhi oleh para santri dan santriwati yang akan menghadapi ujian nasional. Dan semakin hari pondok pesantren mulai damai. Karena ujian nasional sangat penting, pondok pesantren menginstruksikan agar santri dan santriwati yang tidak terlibat harus mulai menahan diri untuk tidak membuat banyak keributan. Ini dilakukan guna menjaga ketertiban serta konsentrasi para santri dan santriwati yang akan melaksanakan ujian.


Lalu, 1 bulan kemudian. Ujian akhirnya diselesaikan setelah melewati hari-hari melelahkan. Bahkan Dira dan Gisel yang selalu mengabaikan pelajaran dipaksa belajar keras oleh lingkungan di sekitar mereka. Teman-teman kamar yang lain sangat fokus belajar, oh, tidak perlu melihat ke teman-teman kamar yang lain karena cukup melihat Aish saja sudah membuat mereka berdua merasa malu. Aish sangat fokus belajar dan menghafal, tiada hari yang dilewati tanpa dua hal ini. Melihat Aish seperti ini mau tak mau membuat mereka berdua terpacu untuk belajar. Mereka tidak ingin kalah dari Aish. Maka jadilah mereka menghabiskan waktu selama 1 bulan untuk belajar dan menghafal.


"Kapan nilai ujian diumumin?" Hari ini mereka baru saja keluar dari kelas setelah mengikuti ujian terakhir.


Dan setelah hari ini mereka bertiga bebas. Tidak lagi pergi ke sekolah dan menjebak kepala dengan keruwetan pelajaran di pondok pesantren.


Ugh, rasanya sungguh melegakan!


"Nggak tahu, tunggu aja pengumuman dari pemerintah." Kata Aish tidak tahu menahu.


Gisel mengangkat bahunya juga tidak tahu.


"Setelah ini rencana kalian berdua apa? Tinggal di pondok pesantren menunggu pengumuman kelulusan atau pulang ke rumah?" Tanya Gisel.


Dia merebahkan tubuh lelahnya di atas kasur. Padahal pekerjaannya hanya duduk mengerjakan soal, tapi entah kenapa dia merasa bila dirinya telah menghabiskan banyak tenaga seolah-olah melakukan pekerjaan yang sangat berat. Sungguh melelahkan.


"Aku rencananya tinggal di sini dulu sampai kelulusan diumumkan." Sebab dia bingung harus pergi ke mana.


"Kalau kamu, Aish?"


Aish terdiam.


"Aku tidak tahu, aku akan mengikuti keputusan kak Khalid. Kalau kak Khalid mengajakku pergi, maka aku akan pergi dengannya. Tapi kalau kak Khalid tidak mau pergi, maka aku juga tidak akan pergi. Semuanya tergantung dari kak Khalid." Sekarang dia sudah tidak sendiri lagi. Dia sudah memiliki suami di dalam hidupnya. Meskipun mereka belum bersama, tapi ikatan mereka memang benar adanya. Dan karena dia sudah memiliki seorang suami, maka dia tidak bisa bertindak sendiri atau membuat keputusan untuk dirinya sendiri. Sebagai seorang istri yang ingin menjadi istri yang baik untuk suaminya, Aish berusaha melibatkan segala sesuatu dengan sang habib.


Dira tersenyum,"Memang beda dunia kalau orang sudah menikah. Oh ya ngomong-ngomong, katanya kamu setelah selesai ujian nasional akan mengadakan acara pernikahan. Kapan kalian menikah? Apakah kamu tidak perlu mempersiapkannya?" Tanya Dira bingung.


Dia nggak pernah sama sekali mendengar Aish membahas ataupun melakukan persiapan untuk pernikahannya dengan sang habib.


Jangankan Dira, dirinya pun bingung kenapa sang habib belum mengatakan apa-apa sama pernikahan mereka. Setidaknya sang habib akan membicarakan tentang persiapan, mulai dari tanggal pernikahan, tempat pernikahan hingga pakaian yang akan digunakan di hari acara. Tetapi sang habib tidak pernah mengungkitnya. Terkadang Aish berpikir, mungkinkah pernikahan mereka ditunda?


"Aku juga belum tahu-"


"Assalamualaikum?" Nasha masuk ke dalam kamar.


"Waalaikumussalam." Mereka bertiga dan teman-teman kamar yang lain kompak menjawab.


Nasha mengedarkan pandangannya mencari seseorang. Saat matanya menangkap keberadaan Aish, dia langsung tersenyum lebar.


"Aisha Rumaisha, habib Thalib mencari kamu. Beliau bilang hari ini kamu akan pulang bersamanya jadi dia meminta mu untuk mengemasi semua barang-barang kamu." Kata Nasha langsung membuat teman-teman kamar yang lain gempar.


Sekali lagi mereka berdecak kagum sekaligus cemburu melihat Aish memiliki hubungan yang sangat baik dengan sang habib.


"Ah...pulang bersamanya?" Jantung Aish berdegup kencang.


Kenapa habib Khalid tidak mengatakan apa-apa sebelumnya?


Um, mereka memang jarang bertemu karena Aish sibuk belajar dan diminta fokus menghadapi ujian. Sementara sang habib juga memiliki kesibukan yang tidak bisa ditunda. Maka jadilah mereka hanya bertemu sesekali bila sang habib mengambil inisiatif mencari Aish.


"Iya, habib Thalib bilang begitu. Jadi kamu harus kemasi semua barang-barang kamu. Saran ku sih bawa semuanya karena mungkin kamu enggak akan balik lagi ke sini."


Aish terdiam. Dia... tidak akan kembali lagi ke sini maka itu artinya dia akan tinggal dengan sang habib?


"Kenapa diam saja? Ayo kemasi barang-barang kamu. Kami berdua akan membantu kamu." Dira segera membangunkan Aish dari lamunannya.


"Oh... i-iya." Aish merespon dengan linglung.


Barang-barang Aish tidak banyak jadi dia tidak membutuhkan banyak waktu mengemas semuanya. Apalagi dengan bantuan Dira dan Gisel, pekerjaan jauh lebih cepat diselesaikan.


Setelah mengemas barang-barangnya, dia langsung keluar menunju kantor staf pondok pesantren. Dia datang tidak sendiri karena hampir semua teman-teman kamarnya ikut. Mereka sebenarnya ingin menggunakan kesempatan ini untuk melihat sang habib yang sudah lama tidak muncul.


"Kak Khalid!" Panggil Aish kepada sosok laki-laki tampan nan tinggi yang tengah berdiri di samping pintu kantor staf pondok pesantren.


Sang habib mengangkat kepalanya dan langsung bertemu dengan mata aprikot Aish yang bersinar terang. Tampak sangat cantik.


"Kemari lah." Sang habib tersenyum lebar.


Melihat Aish datang membawa tas besar, dia segera pergi mengambil alih beban dan mengangkatnya dengan enteng.

__ADS_1


"Sudah selesai?"


Aish mengangguk malu. Pipinya langsung terasa panas. Tanpa dikatakan pun dia tahu bila pipinya sangat merah sekarang. Makanya dia tidak berani berlama-lama menatap suaminya biar rasa malunya tidak dilihat.


"Sudah, kak. Lalu kemana kita sekarang?"


Habib Khalid membawa tangannya yang bebas melingkari pinggang ramping Aish dan mengundang banyak seruan kaget dari teman-teman kamar yang sedang menonton.


Karena reaksi berlebihan mereka, Aish semakin merasa malu . Rasa-rasanya dia ingin menggali tanah untuk menenggelamkan dirinya sendiri saking malunya.


"Tentu saja pulang ke rumah. Mbah menghubungi aku semalam. Dia memintaku membawa kamu ke sana karena dia sudah sangat merindukan kamu." Jawab habib Khalid tidak perduli dengan reaksi orang-orang di sekelilingnya.


Malahan sejak awal sang habib tidak pernah mengalihkan pandangannya dari istri tercinta. Seolah-olah hanya ada satu wanita di tempat ini, sedangkan sisanya....anggap saja udara, en.


"Mbah.." Aish juga sudah lama merindukan habib Alamsyah dan bibi Arum serta suaminya.


Tapi,


"Kak Khalid tinggal di sana juga?"


Habib Khalid tersenyum lembut.


"Kakak akan mampir sebentar, tapi enggak tinggal karena mereka enggak akan pernah ngizinin, kecuali..." Habib Khalid merendahkan kepalanya berbisik ke telinga Aish. "Aku menikahi kamu, maka bibi Arum tidak akan bisa menghalangi kita."


Wajah Aish langsung merah padam. Dia menundukkan kepalanya menyembunyikan betapa gugup dirinya sekarang. Em, mendengar kata pernikahan dari mulut sang habib memiliki sentuhan tersendiri di dalam hati Aish. Entahlah, rasanya terlalu menggelitik juga...penuh akan harapan.


"Pasti bibi Arum yang ngelarang, kan?"


Bibi Arum memang agak protektif kalau sudah menyangkut Aish. Bayangkan habib Khalid saja harus digeser olehnya. Padahal habib Khalid bukan orang lain, tapi suami Aish. Orang yang sangat dekat dan penting di dalam kehidupan Aish. Kata bibi Arum mereka tidak boleh bersama kalau belum melihat pernikahan mereka dengan kedua bola matanya sendiri.


"Tidak apa-apa, dia seperti itu karena menyayangi kamu." Sebab Aish adalah satu-satunya putri Arumi sehingga membuat bibi Rumi cukup protektif terhadapnya. Selain itu bibi Rumi tidak bisa menyaksikan Aish tumbuh besar dengan matanya sendiri sehingga meninggalkan penyesalan yang dalam. Maka dari itu dia menggunakan kesempatan ini untuk menahan Aish agar jangan pergi untuk memuaskan kerinduannya.


"Ekhem!" Melihat mereka asik berbicara sendiri, Dira tak tahan lagi.


"Oh. Kenapa, Dir?"


"Em, jaga diri baik-baik di sana dan tolong hubungi kami jika butuh bantuan. Sebisa mungkin, kami pasti datang membantu. Dan yah...jangan lupakan kamu di hari pernikahan kamu. Soalnya kami juga mau menjadi saksi di hari bahagia kamu dan habib Thalib." Pinta Dira canggung.


Ngomong sama Aish sih enggak apa-apa, tapi kalau di depan habib Khalid langsung, rasanya agak... canggung.


Hati Aish menghangat.


"Tentu saja. Aku tidak akan melupakan kalian semua. Jadilah saksi di hari bahagia kami. Kak Khalid, boleh'kan?"


Habib Khalid tersenyum.


"Boleh."


Aish senang mendapatkan persetujuan dari suaminya.


"Lalu kapan pernikahan kita dilaksanakan?" Dia sudah tak sabar ingin tinggal bersama dengan habib Khalid.


Jangan bilang setelah pengumuman kelulusan?


Oh, kalau itu sampai terjadi Aish harus menunggu beberapa minggu lagi. Itu sangat menjengkelkan!


Lama-lama dia lumutan karena terlalu banyak menunggu.


Habib Khalid tersenyum simpul.


"Rahasia. Tunggu saja."


Hah, tampannya! Diam-diam Aish bersorak di dalam hati melihat betapa tampan suaminya saat tersenyum.


"Kenapa di rahasiakan, kak? Aku kan mau tahu."


Melihat mereka kembali sibuk sendiri, Dira memutar bola matanya malas. Sudah susah payah menarik perhatian mereka, eh ujung-ujungnya sibuk berdua lagi.


"Kalau sudah saatnya pasti kamu akan tahu. Okay, ayo pergi. Kita bisa ngomongin masalah ini di perjalanan." Ucap habib Khalid sambil melihat jam di pergelangan tangan kirinya.

__ADS_1


"Em...ayo pergi." Dia kemudian menoleh menatap teman-temannya.


"Aku pergi. Kita bertemu lagi...di hari pernikahan kami. Tolong jaga diri kalian baik-baik dan tetap hubungi aku apapun yang terjadi." Pesan ini terutama untuk Dira dan Gisel, kedua sahabatnya yang pernah berjuang bersama-sama dengannya.


Tiba-tiba Dira dan Gisel merasa sedih. Kedua mata mereka tanpa sadar memerah berusaha menahan tangis. Tak disangka hari ini akhirnya datang juga. Mereka melepaskan salah satu sahabat mereka untuk memulai kehidupan baru yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Dan sungguh, hanya Allah yang tahu betapa bersyukurnya mereka ketika melepaskan sahabat mereka bersama laki-laki yang dicintai, laki-laki yang mencintai sahabat mereka dengan ketulusan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Mereka bersyukur, berdoa kepada Sang Maha Kuasa agar kehidupan sahabat mereka selalu dalam lindungan-Nya dan dipenuhi oleh kebahagiaan. Jangan lagi ada tangisan penderitaan di dalam kehidupan sahabat mereka.


"Kamu juga, jaga diri kamu baik-baik. Bila kamu memiliki keluhan atau sesuatu yang ingin dibicarakan, jangan ragu untuk menghubungi kami. Kau tahu bukan kalau kita adalah saudara?" Dira berusaha tersenyum selebar mungkin di depan sahabatnya.


"Benar, Aish. Kami akan selalu ada bersama kamu. Sekalipun kamu telah memulai hidup baru, kami tidak akan meninggalkan kamu. Sekali lagi kita adalah saudara." Wajah Gisel mengkerut menahan tangis.


Hati Aish rasanya tersengat. Bergetar sakit. Baru sekarang dia menyadari bahwa hatinya agak tidak rela berpisah dari kedua sahabatnya ini. Dira dan Gisel, mereka berdua adalah orang yang sangat penting di dalam hidupnya. Di kala dirinya merasa sendiri dan tak berguna, mereka berdua muncul di dalam hidupnya. Menjadi teman di saat sedang menyedihkan, bahagia, galau dan bahkan mereka bertiga membuat banyak masalah di pondok pesantren sampai-sampai membuat nama mereka bertiga di kenal oleh banyak orang.


Sudah beberapa bulan berlalu. Ini hanya persahabatan yang singkat tapi sangat penting dan berharga di dalam hati. Sekalipun singkat, persahabatan ini takkan pernah dilupakan.


"Kalian adalah saudara-saudara ku. Kalian sangat penting untukku. Takkan mungkin diri ini melupakan kalian. Dan bahkan sekalipun aku sudah menikah, aku tidak akan berhenti menghubungi kalian. Hubungan silaturahmi kita tidak akan terputus apapun yang terjadi, aku janji." Janji Aish bersungguh-sungguh.


Gisel akhirnya menangis. Tangisan yang sedari tadi coba dia tahan akhirnya tumpah.


Selama tinggal di pondok pesantren, Aish selalu berperan menjadi kakaknya. Entah membutuhkan uang atau memiliki masalah, Aish selalu ada untuknya. Jadi bagaimana mungkin dirinya tak sedih melihat Aish pergi meninggalkannya?


"Kamu sudah berjanji, maka harus ditepati. Kalau tidak aku akan sangat sedih." Maunya sih ingin melemparkan diri ke dalam pelukan Aish, tapi karena habib Khalid sedang memegang Aish, maka dia dengan sadar diri mengurungkan niatnya.


Aish melihat sang habib, seolah mengerti apa yang dimaksud oleh istrinya, sang habib lalu melepaskan tangannya dari pinggang Aish.


"Pergilah." Bisik sang habib mengizinkan.


Aish mengucapakan terima kasih sebelum bergegas memeluk kedua sahabatnya.


Dia menepuk punggung kedua sahabatnya sembari menahan air mata yang telah berkumpul di pelupuk matanya.


"Jangan menangis, kita pasti akan bertemu lagi." Bisik Aish.


Dira dan Gisel menangis sesenggukan, menganggukkan kepala dengan enggan karena kesulitan berbicara.


"Janji." Bisik Gisel.


Aish tersenyum sedih.


"Janji." Melepaskan pelukan mereka, dia kemudian berkata dengan suara kecil,"Aku menaruh uang di bawah bantal kalian berdua. Jumlahnya cukup untuk kebutuhan sehari-hari kalian selama 3 bulan. Jika uangnya sudah habis, aku kan mengirimkan kalian berdua. Jadi kalian tidak perlu takut lagi kehabisan uang. Terutama untuk kamu, Gisel. Gunakan uang itu untuk memenuhi kebutuhan dan jangan menahan diri. Jika habis, hubungi aku dan minta saja kepadaku. Mengerti?"


Dira dan Gisel terkejut.


"Aish.." Suara Gisel mengeluh.


Lihat, mana mungkin dia rela berpisah dari Aish?


Bahkan setelah memulai kehidupan baru pun Aish masih memikirkan kehidupan mereka berdua.


"Tidak apa-apa, kita ini saudara. Maka perlakukan aku sebagai saudaramu." Kata Aish serius.


Tangisan Gisel dan Dira semakin keras. Mereka memeluk Aish erat sebelum melepaskannya dengan enggan. Menyaksikan Aish di bawa pergi oleh sang habib dengan senyuman lebar penuh kebahagiaan di wajah cantiknya.


"Jaga diri kalian baik-baik." Pesan Aish sebelum pergi.


"Tentu... tentu." Bisik Gisel kembali menangis.


Sementara Dira sudah mulai menenangkan diri. Dia menepuk pundak Gisel untuk menghiburnya.


"Okay, jangan sedih. Lagipula kita bisa bertemu lagi dengannya nanti."


Gisel menganggukkan kepalanya tahu tapi air matanya tidak berhenti keluar.


"Hiduplah dengan baik, inilah yang diminta Aish kepada kita berdua. Jadi, ayo terus tersenyum dan hadapi hari-hari selanjutnya dengan senyuman lebar."


Gisel menggelengkan kepalanya menolak,"Tidak, nanti aku dikira orang gila kalau terus tersenyum."


Dira terdiam.


"Terkadang...kamu menjengkelkan, Gis!"

__ADS_1


__ADS_2