Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 13.12


__ADS_3

"Kak Nasifa kenal gadis yang bernama Aish, enggak?"


Nadira tidak tinggal di asrama seperti kakaknya, Nasifa. Umi bilang dia lebih baik tinggal di rumah saja karena Umi ingin lebih banyak dekat dengan Nadira. Umi rindu setelah berpisah bertahun-tahun lamanya dan ingin menghabiskan banyak waktu dengan putrinya yang lain.


"Tahu, kenapa memang?" Nasifa setelah makan dari kantin menyempatkan diri pulang ke rumah untuk mengambil keperluannya.


Tak disangka di jalan dia bertemu dengan adiknya yang juga sedang dalam perjalanan ke rumah.


Nadira ragu membicarakannya. Karena menurutnya masalah ini adalah termasuk aib untuk Aish.


"Oh, lalu orang seperti apa Aish itu setahu kak Nasifa?"


Nasifa tidak merasa aneh dengan pertanyaan adiknya. Lagipula yang menanyakan Aish kepadanya tidak hanya satu orang, tapi banyak, kok. Dan dia sama sekali tidak merasa bosan mengulangi semua penjelasannya.


"Aish adalah gadis yang kak Thalib rekomendasikan langsung ke pondok pesantren satu bulan yang lalu, dek. Kakak enggak tahu alasan pastinya kenapa kak Thalib melakukan ini, karena semenjak tinggal di sini kakak enggak pernah ngeliat atau dengar kak Thalib rekomendasikan seseorang untuk masuk ke dalam pondok pesantren." Di depan orang lain, Nasifa tidak akan mengungkapkan fakta ini karena ini adalah rahasia habib Khalid.


Tapi adiknya berbeda. Dia bukanlah orang lain dan tidak masalah untuk mengetahuinya. Lagipula dengan kepribadian Nadira, dia tidak mungkin menyebarkan masalah ini ke semua orang.


Nadira terkejut. Dia sangat terkejut mendengarnya. Fakta bahwa habib Khalid merekomendasikan Aish langsung ke pondok pesantren adalah sesuatu yang tidak pernah diduga. Belum lagi berita yang temannya beritahu di kantin tadi, Nadira menyimpulkan jika Aish memang sengaja membuat masalah untuk menarik habib Khalid. Pasalnya habib Khalid sendiri yang membawanya masuk ke sini?


Maka harusnya dia merasa besar kepala, kan?

__ADS_1


"Habib Thalib sendiri yang merekomendasikan? Kakak enggak bohong, kan?" Nadira agaknya ragu untuk percaya.


Orang sekelas habib Khalid, bagaimana mungkin bisa mengenal Aish?


Dari cerita orang-orang saja Nadira menangkap bila Aish adalah anak kota yang dipaksa masuk ke pondok pesantren oleh keluarganya. Lalu bagaimana habib Khalid mengenalnya?


Memeluk buku-buku ditangannya. Nasifa merasakan hembusan angin malam yang menyapu kulit wajahnya. Sejuk dan menyegarkan, perjalanan ke rumah rasanya jauh lebih santai.


"Aku enggak bohong karena Abah sendiri yang ngomong ke aku kalau kak Thalib lah yang merekomendasikan Aish langsung ke sini." Bantah Nasifa tidak memperhatikan ekspresi adiknya.


Nasifa mengepalkan tangannya gugup.


"Oh...kalau Abah yang ngomong, maka kemungkinan besar itu benar. Lalu apa kak Nasifa tahu apa hubungan mereka berdua?"


"Kakak enggak tahu karena Abah enggak ngomong apa-apa soal itu. Kak Thalib juga enggak pernah ngomong apa-apa soal masalah ini."


Nadira tanpa sadar menghela nafas panjang. Maka Aish sama sekali tidak punya hubungan apa-apa dengan sang habib. Kekhawatirannya tadi sia-sia. Tapi tetap saja, Aish adalah orang yang mengancam dan selalu mengganggu habib Khalid. Selama ada Aish, maka habib Khalid tidak akan tenang di pondok pesantren.


Tapi untuk sekarang ini tidak penting karena fokusnya saat ini adalah kakaknya, Nasifa.


"Kak Nasifa, enggak sepantasnya kakak manggil habib Thalib tanpa gelarnya. Apakah kakak lupa jika saat ini kakak sudah bertunangan?" Nadira tidak puas.

__ADS_1


Nasifa sering memanggil habib Khalid dengan panggilan intim seolah-olah hubungan mereka cukup dalam. Sejujurnya, dia cemburu karena Nasifa bisa memanggil habib Khalid dengan panggilan seakrab itu. Sedangkan dirinya tak mampu karena dia belum pernah berbicara dan bertemu langsung dengan sang habib. Dulu, dia selalu melihat sang habib dari balik layar dan tanpa bisa menyapa seperti yang Nasifa lakukan.


"Tahu kok. Kak Thalib bilang aku bisa menganggapnya sebagai kakak dan tidak pernah keberatan dengan panggilan ku selama ini."


Sejak tahun itu, Nasifa merasa sangat sedih dan patah hati. Dia sangat enggan melepaskannya karena saat itu sang habib adalah cinta pertamanya. Dia pikir mereka tidak akan berbicara lagi, tapi siapa yang mengira jika sang habib malah menganggapnya sebagai seorang adik. Dan sebaliknya, atas izin habib, dia juga bisa memanggil sang habib sebagai kakaknya.


Nadira cemberut,"Iya, tapi kalau di dengar sama orang lain, mereka pasti akan salah paham dan berdampak buruk untuk hubungan kakak dengan tunangan kakak sendiri." Katanya tak tahan.


Bagaimana mungkin kakaknya masih bersikap akrab setelah tidak bertemu habib 16 tahun lamanya?


Dan bagaimana mungkin dia masih bersikap akrab setelah sebesar ini?


Orang-orang pasti salah paham jika mendengarnya.


Nasifa memutar bola matanya heran.


"Tapi kamu bukan orang lain. Kakak enggak mungkin ngomong begini di depan orang lain."


Nasifa tahu aturannya dan dia juga tidak ingin mencoreng nama baik sang habib dengan memunculkan skandal. Tidak, dia bukan orang yang seperti itu. Adiknya tidak perlu risau soal itu harusnya.


"Oh.." Sayangnya aku sering salah paham dengan kakak. Batin Nadira tidak bisa mengucapkannya.

__ADS_1


Bersambung...


Up rajin mulai besok.


__ADS_2