Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 22.7


__ADS_3

"Ugh, apakah ada sesuatu yang aneh di wajahku?" Aish menepuk pipinya yang masih hangat.


Seingatnya, dia tidak melakukan hal-hal yang aneh dengan habib Khalid. Jadi wajahnya baik-baik saja' kan?


Menggelengkan kepalanya gelisah, begitu masuk ke dalam gedung asrama dia langsung berbelok menuju kamar mandi. Di kamar mandi dia membasuh wajahnya beberapa kali. Beberapa menit kemudian dia keluar dari kamar mandi dan segera pergi ke kamar asramanya. Di dalam kamar asrama, dia tidak melihat Dira dan Gisel. Pikirnya mereka berdua mungkin pergi berbelanja ke kantin asrama.


"Aish, kamu kemana saja?" Gadis dan beberapa teman yang lain sedang mengobrol di atas ranjang Gadis. Mereka adalah santriwati dari kamar sebelah yang tidak dikenali Aish.


Aish berkedip beberapa kali menyingkirkan rasa bersalah di dalam hati. Hanya Allah yang tahu ke mana dia pergi dan dengan siapa dia pergi. Dia tidak mungkin menceritakan masalah ini kepada mereka.


"Aku dipanggil sama Umi ke rumahnya. Kami sedang membicarakan suatu urusan jadi aku tidak diizinkan pulang sampai aku menginap di rumahnya." Jawab Aish sambil mengalihkan matanya melihat ke arah lain.


Semalam dia tidur sebentar karena begadang dan harus bangun shalat tahajud. Awalnya dia tidak mengantuk ketika sedang bersama habib Khalid. Tapi setelah kembali ke asrama dan melihat ranjang kecilnya yang hangat, rasa kantuk itu tiba-tiba datang melanda. Dia menguap lebar dan naik ke atas ranjang sambil menggelar selimut untuk menutupi sebagian dari tubuhnya. Aish memiliki kebiasaan sejak kecil. Entah cuacanya panas atau dingin, dia selalu menggunakan selimut saat tidur. Ini adalah kebiasaannya dari kecil jadi dia sulit menghilangkannya.


"Aish kemari lah, teman-teman ingin berkenalan dengan mu." Panggil Gadis mencoba menjalin pertemanan yang dekat lagi dengan Aish.


Aish melambaikan tangan.


"Aku mengantuk. Lain kali saja." Tolaknya seraya mengatur posisi tidur senyaman mungkin dan memejamkan mata.


Melihat sikap dingin Aish kepadanya, Gadis langsung merasa malu karena dia berbicara kepada teman-teman ini bahwa hubungannya dengan Aish cukup dekat. Sekarang Aish menolaknya tanpa memberikan wajah, wajar rasanya dia marah. Tapi apalah daya, dia tidak mungkin memarahi Aish sekarang karena dia ingin membangun hubungan dekat dengan Aish.

__ADS_1


"Dia selalu seperti ini. Kalian tidak boleh heran." Gadis berbisik kepada teman-temannya agar mereka memaklumi sikap buruk Aish.


Yang lain saling memandang dengan kekecewaan di hati. Pasalnya mereka telah mendengar banyak perbuatan Aish di kamar ini dan karena itu mereka ingin menjalin hubungan yang baik kepada Aish. Tapi melihat reaksi datar Aish tadi, beberapa dari mereka tidak berminat lagi untuk menjalin pertemanan. Seperti rumor yang beredar, Aish adalah orang yang sulit didekati.


...*****...


Sementara itu Dira dan Gisel kini sedang berada di kantor staf pondok pesantren. Sebenarnya ada tamu yang sedang mencari Dira dan ingin berbicara dengannya. Siapa tamu itu Dira sudah tahu. Awalnya dia tidak mau bertemu dengan mereka, tapi Gisel menasehatinya agar segera menyelesaikan masalah ini secepat mungkin. Kalau tidak masalah ini akan terus berlarut dan membuat Dira semakin kecewa. Daripada menyeretnya, lebih baik selesaikan saja semua ini agar Dira bisa mengatur suasana hatinya.


Di dalam ruang tamu kantor staf pondok pesantren duduklah pasangan suami istri-ah, sekarang sudah tidak lagi. Mereka adalah orang tua Dira yang telah hidup berpisah dengan keluarga masing-masing. Seperti dugaan Dira sebelumnya, kedua orang tuanya telah menikah dan membangun keluarga baru. Dari mana Dira mengetahuinya? Ya, jawabannya tepat di depan. Papa membawa istri barunya dan Mama membawa suami barunya. Papa tidak membawa anak-anaknya ke sini karena mereka mungkin sudah besar sedangkan Mama datang dengan seorang gadis kecil di dalam pelukannya.


Gadis itu memiliki mata yang mirip dengan Mama dan hidung serta bibir yang mirip dengan laki-laki berjas di samping Mama.


Dira mencibir. Matanya yang biasa angkuh kini tidak memiliki kecemerlangan seperti biasanya. Tatapannya kosong, ada rasa sinis dan cemooh yang tak dapat disembunyikan.


"Nak, Kenapa kamu tidak mengangkat telepon Papa? Dan kenapa kamu tidak pulang ke rumah kemarin? Papa dengar pondok pesantren mengizinkan kalian pulang ke rumah selama satu minggu sambil menunggu hasil ujian akhir keluar." Suasananya sangat canggung. Meskipun Papa berbicara dengan kasih sayang di mulutnya, Dira tidak lagi tertipu.


"Untuk apa bertanya, Papa sudah tahu sendiri jawabannya. Kalian sudah memiliki keluarga masing-masing, jadi untuk apa mencari ku lagi? Aku tahu kalian berdua tidak membutuhkanku jadi kenapa harus bersikap palsu dan bertindak sok perduli kepadaku. Padahal nyatanya, aku bukan siapa-siapa untuk kalian." Dira menjawab acuh tak acuh tanpa raut kesedihan di wajah.


Semua orang tidak bodoh. Jawaban bias Dira menunjukkan bahwa dia sangat kecewa dengan dua orang tuanya.


"Dira, Mama nggak pernah ngajarin kamu bersikap kasar kepada orang tua!" Tegur Mama kepada Dira.

__ADS_1


Dira balik mencelanya,"Oh ya, memangnya kapan Mama mengajariku sopan santun? Seingat ku Mama dan Papa lebih banyak tinggal di luar rumah daripada menemaniku di rumah. Dulu kupikir ini demi pekerjaan, tapi setelah mengetahuinya sekarang, kalian sengaja menghindari ku karena aku benar-benar tidak dibutuhkan."


Dira tidak tahu kata-kata sinis untuk siapa. Apakah untuk Mama dan Papa yang telah menipunya selama bertahun-tahun, atau untuk dirinya yang naif karena terlalu mempercayai mereka sebagai orang tua.


Mama terkejut dengan balasan tajam Dira. Dia tidak tahu harus membalas apa karena jauh dari dalam lubuk hatinya, dia kecewa melihat kemarahan Dira tapi dia juga merasa bersalah kepada Dira.


"Dira... Kami memang sibuk karena bekerja. Kami sama sekali tidak berniat menghindari kamu. Bagi kami berdua, kamu tetaplah putri kami." Papa membuat pembelaan.


"Kapan?" Tanya Dira memberanikan diri.


"Apa?" Orang-orang yang ada di dalam ruangan tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Dira.


Sementara Gisel yang duduk di samping Dira, diam-diam meraih tangan Dira dan menggenggamnya kuat untuk menguatkan hati Dira.


Dira tersenyum tipis,"Sejak kapan kalian berpisah dan memulai hubungan baru dengan pasangan masing-masing?"


Dia tidak memiliki harapan yang besar untuk kedua orang tuanya sekarang. Lihat saja gadis kecil yang ada di dalam pelukan Mama, sekilas Dira menebak bila usianya mungkin sudah 6 tahun.


Sudah 6 tahun, ini cukup lama...


Mendengar pertanyaan Dira, baik Papa dan Mama enggan menjawab. Mereka menundukkan kepala untuk menyembunyikan perasaan bersalah di hati masing-masing.

__ADS_1


Tidak tahan lagi, wanita yang duduk di samping Papa akhirnya angkat bicara. Dia pikir sudah saatnya semua ini diakhiri karena dia tidak ingin suaminya diganggu oleh gadis congkak yang kini sedang duduk di depannya. Sania dan Askia jauh lebih baik daripada Dira. Mereka berdua dapat menyenangkan suaminya, sedangkan Dira hanya bisa merepotkan suaminya.


__ADS_2