
Ekspresinya jadi aneh, mungkin dia tidak menyangka aku juga ada di rumah ini karena aku juga tidak menyangka kalau dia ada di rumah ini.
"Kita sama, kak. Aku juga diminta datang ke sini sama Umi. Oh ya ngomong-ngomong makanan ini untuk tamu di depan, kak?" Tanyanya sambil memperpendek jarak di antara kita.
Aku tidak mau ambil pusing dengan sikap sok intimnya karena sibuk mengganti air untuk kak Khalid.
Dan ada juga tumpahan air yang harus segera ku lap bersih biar mejanya enggak becek.
"Iya, semua ini untuk tamu yang ada di depan." Jawabku singkat.
"Loh kok air minumnya beda, kak? Apakah tamu yang datang ada dua orang?"
Aira kok aneh, yah? Sejak kapan dia kepo sama urusan orang lain?
Oh tunggu dulu, melihat reaksi Aira, mungkin dia tidak tahu kalau Kakek ada di pondok pesantren sekarang?
Em, baguslah kalau dia tidak tahu. Soalnya Kakek juga tidak ingin melihat wajahnya sekarang.
"Enggak, tamunya cuma satu tapi ada kak Khalid di sana. Kak Khalid nggak suka kopi sama teh, dia maunya minum air putih. Sedangkan tamu yang lain sudah tua, minum kopi nggak bagus buat kesehatan dia makanya aku buatin teh hangat. Udah ya jangan tanya-tanya terus, nanti pekerjaan aku terganggu." Kataku mengingatkannya.
__ADS_1
Aku mengambil kain lap di samping wastafel dan buru-buru kembali ke meja untuk membersihkan genangan air di atasnya. Beberapa detik kemudian mejanya kembali kering jadi aku mengembalikan kain lap ke tempatnya semula.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Saat berbalik aku melihat Aira memegang gelas air putih di atas nampan.
Dia terkejut dan langsung melepaskan gelas itu dari tangannya.
"Aku tadi ngelap pinggiran gelasnya, kak. Tadi agak kotor." Jawabnya sambil mundur beberapa langkah menjauh dari nampan.
Gelagatnya agak aneh. Melirik air putih di atas nampan, tidak ada sesuatu yang aneh di sana.
"Oh. Lain kali kamu tinggal bilang aja sama aku. Biar aku yang bersihin." Kataku tidak senang sambil mengambil nampan di atas meja dan membawanya pergi ke ruang tamu.
Setelah keluar dari dalam dapur tiba-tiba aku merasa tidak enak. Apa ini cuma perasaanku saja? Soalnya aku merasa kalau hari ini akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan. Padahal sebelumnya baik-baik saja.
...*****...
Aira P. O. V
Ini sangat mengejutkan melihat kak Aish juga ada di rumah ini. Seperti yang aku duga, Nasha bukanlah orang yang baik. Dia pilih kasih kepada ku. Setelah menolakku mentah-mentah, dia malah pergi mencari kak Aish. Huh, lihat saja nanti. Aku akan mempermalukan mereka berdua karena berani mempermainkan ku.
__ADS_1
"Sejak datang ke pondok pesantren hidupku tidak berjalan dengan baik. Tapi coba lihat kak Aish? Dia beruntung ke mana pun pergi. Sekarang saja dia sedang sibuk melayani habib Thalib dan tamu kehormatan pondok pesantren. Harusnya aku yang ada di posisi itu karena aku sibuk mencari muka di depan Umi, benar sekali... Aku susah payah mencari muka di depan Umi tapi ditugaskan untuk membersihkan halaman. Sementara kak Aish tidak perlu melakukan apa-apa, tapi diberikan pekerjaan yang tidak melelahkan dan sangat nyaman. Ini sungguh tidak adil."
Sekarang aku benar-benar iri dan cemburu kepada kakak ku. Dia mendapatkan semuanya tanpa berusaha dan mengeluarkan banyak tenaga, tapi aku tidak mendapatkan apa-apa walaupun aku telah berjuang keras untuk melakukan segala macam hal. Misalnya seperti habib Thalib. Demi dia, aku rela datang ke pondok pesantren dan mengesampingkan semua kepentinganku di sekolah umum hanya untuk mengejar habib Thalib di sini. Aku telah berkorban, tapi apa yang aku dapat?
Habib Thalib tidak hanya menolakku tapi dia juga merendahkan ku!
Aku sangat marah dan kecewa dibuatnya.
"Tapi biarkanlah. Toh sebentar lagi dia juga akan menjadi milikku. Dan setelah dia menjadi milikku, takkan kubiarkan dia melepaskan ku. Hah... Lihatlah reaksi kak Aish dan orang-orang yang mendambakan habib Thalib pada saat itu. Mereka pasti akan membenci dan cemburu kepadaku. Terutama untuk kakakku yang terkasih, tidak apa-apa bagimu bersenang-senang kemarin dan menodai citra diriku di depan habib Thalib. Karena pada akhirnya dia akan berakhir denganku." Aku sudah tidak sabar menunggu momen itu.
Em, untuk itu telah kusiapkan kejutan. Aku lalu mengeluarkan sebuah botol bening dari dalam saku gamisku. Ini adalah botol yang pernah aku benci karena tidak memiliki kegunaan. Tapi sekarang aku menyadarinya bahwa botol ini sungguh sangat berguna untuk masa depanku. Untungnya saat Ayah akan membuang botol ini dari tas kak Aish, aku buru-buru menghentikan dan menyembunyikan botol ini. Awalnya aku berencana menjadikan botol ini sebagai bukti jika masalah itu dilaporkan ke kantor polisi, tapi ternyata masalah itu tidak sampai ke kantor polisi dan tanpa sadar aku melupakan botol ini. Sampai akhirnya ketika aku tiba di pondok pesantren dan merapikan barang-barang ku di lemari, aku menemukan botol ini di salah satu pakaian.
"Untunglah barang ini ikut bersamaku ke pondok pesantren. Kakakku yang terkasih, dulu kamu menggunakan barang ini untuk meracuni dan mempermalukan ku di depan anak-anak sekolah saat pesta perpisahan di malam itu, sekarang barang ini telah berpindah alih menjadi milikku dan berperan membantuku bersatu dengan habib Thalib. Ketika kamu tahu bahwa barang ini adalah senjatamu untuk melukaiku saat itu tapi ku gunakan sekarang untuk merebut habib Thalib, kamu pasti akan sangat menyesal telah menyakitiku. Lihat, Allah Maha adil. Dia memberikanku kesempatan untuk membalas kejahatan yang kamu lakukan kepadaku di malam itu. Dan dia meridhoi ku merebut habib Thalib dari dirimu. Kak, terima kasih untuk bantuan kecil ini. Untuk pertama kalinya aku bersyukur kamu menjadi kakakku."
Benar sekali, ini adalah obat-obatan terlarang yang kak Aish beli untuk mencelakai ku di malam pesta sekolah. Dia menggunakan ini untuk mempermalukan ku, tapi sekarang aku menggunakan ini untuk merebut habib Thalib. Sungguh skenario yang indah.
Tak sabar menunggu kejutan selanjutnya. Aku mengambil segelas air putih dan menuangkan beberapa tetes cairan ke dalamnya. Lebih banyak lebih baik dan lebih manjur. Entah berapa tetes yang telah aku masukan, pastinya itu akan membuat diriku diliputi kebahagiaan. Setelah cukup menuangkan semuanya, aku membuang botol bening itu ke tempat sampah.
Tersenyum puas,"Bismillah.." Lalu aku meneguk tuntas segelas air putih itu masuk ke dalam tubuh ku.
__ADS_1
"Um, alhamdulillah... Rasanya sangat menyegarkan."
"Kenapa kamu masih ada di sini, Aira? Tadi Umi meminta kamu pergi ke halaman belakang untuk mengambil lele yang sudah ditangkap agar segera dibersihkan." Suara menyebalkan Nadira mengganggu pendengaranku.