
"Hem, proposal apa ini?" Saat membuka beberapa dokumen yang berbeda menyadari bahwa semua dokumen dikirim oleh seorang wanita.
Dia memiringkan kepalanya berpikir. Rasanya agak aneh karena setiap dokumen acak yang diambil tidak ada satupun nama laki-laki. Dan yang lebih membingungkan adalah dia juga melihat dokumen atas nama adiknya, Aira. Ini tidak benar pikirnya. Selama sekolah di sini dia belum pernah mendapatkan tugas membuat proposal dan normalnya habib Khalid tidak ada sangkut paut dengan para santriwati di sekolah. Lalu mengapa ada banyak sekali proposal atas nama santriwati pondok pesantren?
Tidak hanya santriwati saja, tapi Aish juga menemukan beberapa proposal atas nama staf pondok pesantren yang masih lajang. Ini menimbulkan kecurigaan di dalam hatinya. Karena dia pernah mendengar bila lawan jenis ingin menyampaikan niat serius, mereka biasanya mengajukan beberapa proposal yang berisi identitas dan kelemahan atau kelebihan yang dimiliki sebagai bentuk pengenalan diri.
Melirik sang habib yang sedang fokus mengerjakan pekerjaannya di atas meja kerja, tangan Aish ragu-ragu membalik halaman dan betapa terkejutnya dia ketika membaca baris demi baris yang ada di dalam proposal Aira.
__ADS_1
Mulai dari tanggal lahir hingga riwayat kehidupan serta sekolahnya di kota, Aira menulisnya dengan rapi dan berhati-hati. Lalu ada juga beberapa draft yang menuliskan bahwa alasan mengapa Aira tertarik kepada sang habib dan memutuskan untuk mengirimkan proposal ini. Ternyata Aira menyukai habib Khalid sejak awal bertemu di kota dulu dan berniat melangkah ke jenjang serius. Di dalam proposal ini tentu air menjelaskan bahwa baik pihak Ayah maupun Bunda telah menyetujui keputusannya ini. Mereka mendukungnya sepenuh hati, berharap bila sama habib akan merespon proposal yang dikirimkan oleh Aira.
Jantung Aish berdebar kencang dengan kecemburuan yang membara di dalam hati. Dia meremat kuat proposal Aira. Semua proposal ini mungkin memiliki tujuan yang sama yaitu berharap gila taaruf disegerakan di antara mereka. Ini sangat mengesankan. Merasa kagum kepada keberanian para gadis itu namun pada saat yang sama juga cemburu. Apakah sang habib telah mengetahui semuanya?
Membaca kata demi kata dari proposal-proposal ini?
Lalu apa reaksi sang habib?
__ADS_1
"Sudah setengah jam berlalu, akan tetapi kenapa kamu masih belum menggerakkan tanganmu untuk bekerja?"
Aish terkejut dan spontan menoleh ke sampingnya. Entah sejak kapan sang habib berada di samping, karena tiba-tiba dia sudah ikut duduk bersamanya. Wajahnya yang tampan memandang Aish dengan senyuman lebar, sulit bagi Aish untuk marah kepada pemilik wajah tampan ini.
"Kak Khalid, apakah kamu sengaja memintaku melakukan ini?" Aish dengan berani memiringkan duduknya dan menatap sang habib tepat di bola matanya.
Habib Khalid berpura-pura tidak tahu dengan apa yang dimaksud oleh Aish. Dia bertanya dengan nada bingung yang disengaja,"Melakukan apa?" Tanyanya sok polos.
__ADS_1
Aish geram. Mata aprikotnya yang kini tengah menatap teguh mata sang habib perlahan memerah, membendung cairan bening yang menyesakkan dada.
"Kak Khalid.... Aku menyukai kakak, aku bahkan mencintai kakak. Aku tahu bahwa diriku sangat lancang menginginkan orang yang seharusnya tak kuharapkan. Banyak orang menertawakan kelancangan diriku sebab aku bagaikan katak di dalam sumur yang mendambakan daging angsa. Aku adalah katak dan kamu adalah angsa, ketika mendengar pepatah ini disebutkan aku langsung mengerti apa maksudnya. Kakak adalah orang yang mulia, di dalam tubuh kakak mengalir darah yang mulia pula. Sedangkan aku? Siapa diriku semua orang tahu itu. Aku hanyalah gadis biasa yang memiliki mimpi sangat besar bahkan terkesan memiliki ilusi karena apa yang ku dambakan adalah sesuatu yang tidak mampu ku sentuh. Aku adalah gadis yang tidak benar, ibadahku seringkali lalai dan akhlakku tidak semulus batu karang di laut. Aku penuh akan celah dan kekurangan, bersanding denganmu adalah sebuah penghinaan untukmu. Aku mengetahui ini dengan betul tapi bodohnya aku masih mengharapkan dirimu. Padahal aku tahu bahwa aku dan dirimu tidak mungkin. Kak Khalid, aku sering berpikir untuk menyerah mengejar mu. Tapi aku tidak bisa sekalipun banyak rumor simpang-siur yang menyebar luas tentang dirimu dengan beberapa wanita. Aku sangat cemburu setiap kali mendengarnya tapi aku berusaha menahan diri karena aku menyadari bahwa aku hanyalah seorang pengejar yang belum tentu bisa mendapatkan dirimu. Aku memiliki perasaan, hatiku gelisah dan cemas saat melihat wanita-wanita yang mendambakan dirimu. Mereka adalah wanita yang sangat-sangat cantik, terjaga ilmu dan akhlaknya, jauh berbanding terbalik dengan diriku yang tercela. Banyak orang mengatakan bahwa seharusnya seperti inilah dan memang wanita yang pantas mendapatkan dirimu harusnya seperti ini. Satu diriku tidak ada bandingannya dengan sepersepuluh diri mereka tapi bodohnya lagi aku masih berharap kepadamu. Berharap dan berharap, membicarakan dirimu dengan Allah subhanahu wa ta'ala tiba-tiba menjadi rutinitas ku setiap kali aku melakukan ibadah. Mungkin saja saat aku berbicara dengan Allah saat itu hatimu dibalikkan oleh-Nya, dan bahwa katak dan angsa memang bisa saling berhubungan. Aku sering berpikir seperti itu. Dan sampai dengan saat ini pun aku masih berpikir seperti itu. Tapi kak Khalid kamu terlalu kejam kepadaku. Kamu berjanji akan pergi hanya 2 minggu lamanya tapi apa? Kamu menghilang selama 1 bulan tanpa kabar dan pulang ke pondok pesantren bersama dengan wanita lain. Betapa tersiksanya aku selama satu bulan itu memikirkan kamu dan begitu pulang ke sini kamu malah dia menyiksaku dengan kedatangan wanita asing. Kak Khalid, aku sangat cemburu dan merasa sedih karena ternyata aku sudah gagal. Kamu pulang membawa wanita lain, aku melihat kalian tertawa bersama, melihat kamu memperlakukan wanita itu dengan baik. Ketika pertama kali mendengar rumor itu aku berpikir bahwa semuanya sama saja dan itu hanya omong kosong belaka. Namun saat melihat interaksi kalian berdua aku mulai berkecil hati. Mungkin itu saja benar bahwa kalian memang sepasang kekasih. Hatiku tidak menerimanya, di sini... Rasanya begitu menyakitkan. Lalu aku berpikir bahwa mungkin inilah yang dimaksud oleh orang-orang itu bahwa kamu seharusnya bersama dengan wanita yang memang sepantasnya untuk kamu. Aku menerimanya dengan paksa meskipun rasanya sangat menyakitkan. Aku berjanji untuk tidak memikirkan kamu lagi, tapi kamu malah menyiksaku lagi dan memaksa aku untuk memikirkan kamu. Tidak hanya ini saja, tapi setelah semua penyiksaan itu kamu malah menghukum ku dengan cara ini. Kak Khalid... Kamu adalah orang baik pertama yang pernah aku aku temui di dunia ini. Kamu dan aku adalah orang asing tapi kamu memperlakukanku dengan tulus, aku tidak pernah meragukannya. Namun dengan cara kamu ini menyiksaku... Aku tiba-tiba berpikir bahwa kamu juga orang yang kejam, kamu sangat kejam. Apakah begitu sulit untuk tidak melakukan ini? Kamu membuatku sakit. Kak Khalid... Apa sebenarnya yang kamu inginkan dariku? Aku memang mencintai kamu tapi aku tidak mau mengikuti langkah mamaku. Sudah cukup satu kisah tentang dia di dunia ini, dan jangan aku. Cinta memang membuat bahagia, tapi cinta juga membuat rasa sakit bahkan mati. Aku tidak ingin mengikuti langkah ini. Mama pasti sangat sedih. Kak Khalid.... Mungkin aku... Mundur saja?" Ketika kata-kata terakhir ini diucapkan, air mata yang telah membendung akhirnya tumpah ruah membasahi pipi merahnya yang mulai kehilangan warna manis.