
Ekspresi Khalif terlihat sangat muram. Hari ini dia berusaha tampil sebaik mungkin di depan Abah dan Umi untuk menarik perhatian mereka. Dan sejujurnya, dia sangat menyesali kecerobohannya kemarin. Karena masalah ini membuatnya terlibat sampai harus disidang di depan Umi juga Abah. Bila dia tahu ini yang akan terjadi, maka lebih baik tak usah bersaksi saja.
"Keadilan apa? Aku adalah saksinya, dan bagaimana mungkin kalian memutar fakta bahwa aku lah yang menjadi pelaku di sini? Jelas-jelas kalian sendiri yang berbuat kesalahan dan yang melihat tidak hanya aku saja." Kata Khalif sinis sembari melirik Aish dan yang lainnya.
Aish sama sekali tidak terpancing dengan kemarahannya. Wajahnya yang putih juga lembut menatap lurus Ini dan Abah. Apa yang ia katakan sebelumnya adalah sebuah kebenaran bahwa mereka tidak mencurinya, tapi berniat meminjamnya sebentar saja ke pasar. Di sisi lain, meskipun tujuan mereka menggunakannya agak menyimpang, tapi ini jauh lebih baik daripada melarikan diri dari pondok pesantren. Kata melarikan diri adalah tabu yang besar untuk pondok pesantren jadi masalah ini sungguh tidak dianggap enteng.
"Huh, yang berbicara adalah laki-laki tapi mengapa suaranya malah menunjukkan bahwa dia adalah seorang perempuan?" Ejek Dira berpura-pura tidak melihat ada sesuatu yang salah dengan Khalif.
Padahal ekspresi Khalif sudah sehitam dasar pot sekarang saking marahnya.
Dari bicara Khalid saja Dira membuat kesimpulan kecil di hatinya bahwa mungkin saja Khalif berasal dari kota melihat rasa toleransinya sangat kecil. Ugh, mereka dulu juga begini saat baru masuk pondok pesantren.
"Apa yang kamu bilang-"
"Sudah, cukup." Potong Abah melerai ajang tembak-tembakan mata mereka berdua.
Dira langsung patuh di depan Abah. Meskipun masih marah, dia tidak gila membuat keributan di depan Abah dan Umi. Hei, orang-orang ini adalah tokoh besar di pondok pesantren. Mereka adalah orang-orang yang sangat dihormati di sini.
"Kamu bilang ingin pergi ke pasar, apakah kamu sudah meminta izin dari pengawas staf di gerbang samping?" Tanya Abah mengalihkan mata tuanya yang jernih dan bersih kepada mereka bertiga.
__ADS_1
Kali ini Gisel yang berbicara.
"Sudah, Abah. Tapi para staf tidak mengizinkan kami pergi karena menurut mereka kami bisa membeli kebutuhan di depan pondok pesantren. Karena tidak diizinkan, maka kami bertiga nekat pergi dengan cara mengendap-endap sama seperti yang dikatakan oleh laki-laki. Itu kami lakukan untuk menghindari pengawas pondok agar tidak tertangkap, sebab kami ingin pergi ke pasar dan bukannya melarikan diri." Tekan Gisel dikata-kata terakhirnya.
Mana mungkin mereka kabur? Hell, mau pergi kemana setelah ini. Syukur-syukur ada pondok pesantren untuk berteduh dan jauh lebih baik daripada rumah yang dipenuhi orang-orang berhati kejam itu!
"Nekat pergi ke pasar? Memangnya kebutuhan apa yang kalian cari sehingga harus pergi ke pasar?" Kali ini Umi yang bertanya.
Untuk pertanyaan ini, baik Gisel dan Dira tidak tahu harus menjawab apa. Mana mungkin mereka mengakui jawaban bahwa mereka ke pasar hanya untuk mengejar habib Khalid dan Nadira saja, kan?
"Umi, temanku Gisel adalah orang yang kurang gula darah. Tubuhnya tidak akan nyaman jika tidak memakan gula tambahan. Baru beberapa hari yang lalu dia kehabisan stok coklatnya di sini dan kami hanya bisa membelinya di toko khusus. Sejujurnya tidak apa-apa membelinya di depan pondok pesantren, tapi kualitas barangnya agak rendah dan kami takut membelinya. Kami hanya mempercayai merek coklat yang sama dengan apa yang dimakan oleh Gisel. Kami mencoba membicarakannya dengan staf di gerbang samping kemarin. Namun karena terlalu banyak orang yang mengantri, kami diminta langsung keluar pondok. Bila Umi dan Abah tidak percaya, maka silahkan bertanya kepada teman-teman kamar kami. Mereka juga tahu masalah ini dan pasti akan memberikan jawaban yang sama kepada kalian bahwa coklat Gisel benar-benar sudah habis." Jelas Aish masih dengan nada tenang yang sama.
Umi dan Abah tidak langsung berbicara. Mereka berdua sangat tenang dihadapan para peserta sidang. Untuk Umi sendiri, dia sudah mendapatkan jawaban di dalam hatinya tapi tidak membicarakannya dengan Abah dan memutuskan untuk menunggu keputusan akhir Abah saja.
"Rendah gula?" Tanya Abah.
Gisel mengangguk serius.
"Benar, Abah. Aku mengalami rendah gula dan membutuhkan beberapa asupan makanan untuk menopangnya. Tapi karena pondok pesantren membatasi makanan, jadi aku selalu membawa coklat kemanapun aku pergi untuk mengganti asupan. Karena kebutuhan ini, aku sudah melapor saat awal masuk pondok pesantren dan sudah dicatat di kantor. Abah dan Umi bisa memeriksanya di sana." Jawab Gisel berusaha setenang mungkin meskipun faktanya dia sangat gugup sekarang.
__ADS_1
Abah mengangguk kan kepalanya pelan.
"Lalu tentang motor itu, tolong jelaskan kepada kami apa yang sebenarnya terjadi? Kalian bilang itu dibawa oleh Khalif dan sengaja ditinggalkan dipinggir jalan. Karena ditinggalkan, kalian nekat menggunakannya. Secara garis besar, Abah masih belum menangkapnya karena ada yang membantah ada pula yang mengakuinya." Abah bilang masih belum menangkapnya tapi intuisi Aish mengatakan bahwa Abah sudah membuat keputusan di dalam hatinya.
Entahlah, menatap mata menyakinkan Abah yang sangat tenang, Aish mau tak mau berpikir bila Abah mungkin sudah membuat keputusan tapi masih berpura-pura tidak tahu.
"Abah, aku sungguh tidak pernah menggunakan motor itu. Aku sendiri bingung siapa pemilik motor itu karena dibiarkan begitu saja dipinggir jalan. Justru tujuanku baik menghentikan mereka bertiga, jika tidak pemilik motor akan sangat sedih melihat motornya tiba-tiba menghilang di tempat parkir." Khalif berdalih dengan suara putus asa, berbicara seolah-olah dia tidak tahu apa yang Aish dan kedua sahabatnya tuduhkan kepadanya.
Mulut Gisel langsung berkedut melihat sandiwaranya yang begitu mulus. Ck, pantas saja Dira menganggap bila laki-laki ini seperti monyet, ternyata kelakuannya sendiri rada-rada ngeselin.
"Jangan percaya apa yang dibilang sama orang ini, Abah. Dia pembohong! Aku tahu bahwa kejadian ini adalah caranya membalas dendam kepadaku karena aku telah memergokinya-"
"Balas dendam apa? Kalau ngomong jangan ngawur!" Potong Khalif tajam.
Matanya bersinar panik menatap Dira. Dia memperingatkan Dira agar jangan membicarakan masalah itu di sini.
Melihat kepanikan laki-laki itu, bibir Dira tersenyum lebar. Akhirnya dia menemukan kelemahan laki-laki ini. Huh, siapa yang memintanya membuat masalah!
Jika bukan karena dia, mereka bertiga tidak akan pernah tercebur ke dalam lumpur.
__ADS_1