Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 4.8


__ADS_3

"Apa kalian anak-anak kota yang sering dibicarakan akhir-akhir ini?" Ibu Salma, ketua staf dapur umum yang ikut membantu mencuci piring tiba-tiba mengungkit masalah ini.


Aish, Dira, dan Gisel saling memandang. Mereka tidak menyangka bila topik tentang mereka akan sampai ke telinga dapur umum.


"Kita seterkenal itu, yah?" Gumam Gisel tidak tahu harus merasa bangga atau kesal dengan fakta ini.


"Iya, Bu. Kami bertiga datang dari kota yang sama dan saling mengenal." Jawab Aish dengan nada bosan.


Ibu Salma dan rekan-rekannya menggosok piring dengan sabun cuci piring, sedangkan mereka bertiga bertugas membasuh alat makan yang sudah di sabun ke dalam air dan menaruhnya di atas rak piring yang sangat besar. Maklum, piring yang ditampung tidak sedikit dan membutuhkan banyak ruang! Bahkan sebagian piring yang tidak mendapatkan tempat terpaksa disusun di atas meja besar untuk mengeringkannya.


Ibu Salma tersenyum hangat,"Oh, kalian janjian masuk ke sini, yah?" Tanya Ibu Salma iseng yang diselingi senyuman tertahan dari rekan-rekannya.


Muka Dira langsung tertekan,"Boro-boro masuk janjian, Bu. Pernah mimpi masuk ke sini aja kita enggak pernah, Bu." Jawab Dira blak-blakan dan segera mengundang tawa Ibu Salma dan rekan-rekannya.


"Jadi ceritanya kalian dipaksa masuk ke sini sama orang tua?" Tanya Ibu Hilmiati, salah satu rekan Ibu Salma.


Mereka bertiga kompak mengangguk dengan polosnya. Entah mengapa Ibu Salma dan rekan-rekannya menganggap bila mereka bertiga agak lucu dan tidak seburuk yang mereka dengar dari luar. Meskipun mereka terkesan agak jutek tapi jika berbicara dengan nada lembut, Ibu Salma dan rekan-rekannya merasa bila mereka bertiga mulai ramah. Akhirnya obrolan canggung menjadi lebih cair dan menyenangkan.


"Iya, Bu. Kita bertiga dipaksa masuk ke sini. Ngenes nya lagi aku enggak dikasih uang waktu dikirim ke sini." Cerita Gisel sambil bercanda.


Dira melirik temannya kasihan,"Kamu meskipun enggak dikasih uang tapi masih untung dianterin sama orang tua kamu. Lha, daripada aku datangnya ke sini sama asisten rumah karena orang tua aku sibuk di luar kota." Cerita Dira nelangsa.


Mendengar curhatan dadakan kedua temannya, Aish tersenyum pahit karena cerita mereka berdua tidak jauh berbeda dengan miliknya.


"Dih, daripada aku datang ke sini pukul 3 dini hari dan dipaksa bangun pukul 5 pagi tanpa istirahat." Kata Aish sambil tertawa kecil.

__ADS_1


Niatnya bercanda tapi Dira maupun Gisel merasa bahwa candaan ini tidak lucu. Mereka malah tidak enak hati kepada Aish. Memangnya siapa yang tidak tahu bagaimana kehidupan Aish di keluarganya?


Mereka tahu tapi tidak pernah mau mengungkapkannya sebab itu adalah privasi Aish dulu dan saat itu pun Dira tidak berteman dengannya sementara Gisel menyimpan dendam. Maka jadilah kehidupan pribadi Aish tidak pernah terekspos hingga hari mereka bertengkar dan dikirim ke tempat ini.


"Anak-anak, Ibu tahu kalian pasti sedih karena tiba-tiba dikirim ke sini. Kalian pasti sakit hati dan kecewa kepada orang tua kalian, tapi yakinlah tempat ini tidak akan pernah mengecewakan kalian. Pondok pesantren memang ketat dan fokus belajar agama karena memang sengaja dirancang untuk kehidupan kalian hingga kedepannya." Kata Ibu Salma dengan nada suara hangat keibuan.


Mendengar curhatan mereka bertiga, hatinya sebagai seorang Ibu ikut tersentuh. Pasti rasanya bagaikan mimpi tiba-tiba dikirim ke sini disaat mereka sudah terbiasa dengan kehidupan bebas diluar sana.


Aish menundukkan kepalanya untuk membilas piring yang dioper Dira kepadanya.


"Bu, sekolah manapun pasti dibuat untuk kehidupan kita kedepannya jadi sejujurnya kami tidak harus tinggal di sini." Kilah Aish masuk akal.


Ibu Hilmiati menggelengkan kepalanya tidak berdaya,"Semua sekolah memang seperti itu tapi pondok pesantren memiliki nilai tersendiri. Lihat saja nanti, pasti suatu hari di masa depan kalian akan mengerti apa yang kami maksud."


Rekan yang lain ikut berbicara,"Benak, nak. Pada saat itu kalian akan bersyukur dikirim ke sini."


"Itu urusan belakangan, Bu. Oh ya, ngomong-ngomong makanan pondok enak juga. Tapi bisa enggak Bu porsinya dibanyakin lagi soalnya kita belum puas makan." Kata Dira polos dan langsung mengundang tawa Ibu Salma serta rekan-rekannya yang lain.


Mereka merasa bila ketiga anak-anak ini sangat lucu dan menghibur kelelahan mereka karena seharian bekerja di dapur umum.


"Iya, Bu. Makanannya enak banget. Tapi sayang kita enggak puas." Kata Gisel jujur.


Ibu Hilmiati menggelengkan kepalanya tertekan,"Kami juga mau menyiapkan porsi yang besar tapi kami tidak bisa."


Dira menebak masalah keuangan,"Apa pondok enggak sanggup beli banyak bahan, Bu? Aku bisa Koko nyumbang ke sini."

__ADS_1


Dira punya banyak uang dari tabungan pribadi dan dari pemberian kedua orang tuannya untuk bekalnya selama menetap di sini.


Ibu Salma menganggapnya lucu,"Kita tidak kekurangan dana, nak. Alhamdulillah kita memiliki cukup dana. Untuk sayuran dan beras, kita sudah memiliki simpanan karena pondok pesantren juga menanamnya di sawah." Bantah Ibu Salma.


Dira dan Gisel bingung.


"Kalau bukan soal dana, lalu apa masalahnya, Bu?" Tanya Gisel.


"Ini bukan soal masalah tapi kebiasaan. Di sini kita diajarkan untuk berhemat dan menahan diri sehingga porsi makanan setiap santri disesuaikan. Tidak sedikit juga tidak banyak, tapi sedang-sedang saja. Tidak mengenyangkan dan tidak membuat kelaparan, intinya mengisi perut. Nanti setelah kalian membiasakan diri dengan kebiasaan ini, Ibu yakin lama-lama kalian akan menikmatinya dan secara perlahan melupakan seberapa banyak porsinya." Ujar Ibu Salma menjelaskan kepada mereka berdua.


Dira dan Gisel langsung manyun. Mereka pikir ada apa ternyata ini karena memang sengaja dilakukan. Reaksi cemberut mereka kembali mengundang gelak tawa Ibu Salma dan rekan-rekannya. Sehingga acara mencuci piring yang biasanya melelahkan dan membosankan saat ini terasa jauh lebih menyenangkan.


Piring yang mereka cuci perlahan berkurang hingga satu jam kemudian, mereka bertiga menyelesaikan pekerjaan ini. Mereka bertukar sapa kepada Ibu Salma, Ibu Hilmiati dan Ibu-ibu yang lain sebelum keluar dari stan dapur umum.


"Habis ini langsung ke kamar mandi dan pergi bobok. Gila sih, aku capek banget." Ujar Dira sambil memegang pinggangnya yang kaku.


Gisel memutar bola matanya di samping,"Tuan putri pasti sangat lelah karena tidak pernah terbiasa melakukan pekerjaan kasar." Ejeknya santai.


Dira manyun, diantara mereka bertiga memang dialah yang paling manja dan tidak pernah berhubungan dengan pekerjaan seperti ini.


"Kalian bertiga, tunggu." Ibu Salma tiba-tiba berteriak dari pintu stan dapur umum.


Mereka bertiga secara kompak berhenti dan langsung berbalik. Langkah mereka sudah jauh jadi Ibu Salma harus berlari kecil ketika menghampiri mereka bertiga.


Aish menyapanya terlebih dahulu.

__ADS_1


"Apa kami masih punya pekerjaan lagi, Bu?" Tanya Aish lemas.


__ADS_2