
*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*
Set set set …!
Hujan panah dilepaskan oleh pasukan panah Kerajaan Singayam menerobos dinding api untuk target yang tidak terlihat. Pandainya siasat keenam anggota bajak laut yang dipimpin oleh Landak Becek, mereka berlindung di bawah tembok api sehingga hujan panah itu hanya bertancapan di tanah kosong.
Namun, sambil berlindung seperti itu, mereka menyaksikan Si Keong Samudera dibantai bersama empat rekan yang menjadi patung es, yang kemudian dihancurkan oleh Iwak Ngasin cs.
“Sial, senjata bawa air kita tidak berfungsi semua gara-gara perempuan itu!” maki Landak Becek yang bertubuh pendek.
“Bagaimana bisa perempuan cantik itu memiliki kekuatan yang bisa membekukan sungai?” tanya rekannya yang bernama Kutu Pasir, yang tidak bisa dijawab oleh kelima rekannya yang lain. Ia seorang lelaki bertubuh mungil tapi berotot bagus.
“Lebih baik kita mundur. Kali ini kita tidak akan menang. Pasukan musuh terlalu banyak, Landak Becek,” usul Gulung Dadar, lelaki separuh baya yang memiliki gaya rambut keriting-keriting seperti gulungan kue dadar.
“Perempuan Hitam itu sebentar lagi akan beralih kepada kita setelah dia membunuh Kungkung Jengo. Kita harus mundur sekarang!” tandas Duri Tiram, lelaki bertubuh besar yang wajahnya penuh jerawat genit.
Sementara itu di barisan pasukan Kerajaan Singayam, Arung Seto sudah tidak sabar menunggu.
“Aku tidak bisa menunggu lama, Gusti Pangeran!” kata Arung Seto kepada Pangeran Derajat Jiwa sambil menghunus pedangnya. Lalu katanya lagi, “Aku maju lebih dulu!”
Arung Seto lalu berkelebat meninggalkan kudanya. Ia kemudian berlari di atas pasukan panah dengan bebas menginjak bahu-bahu para prajurit. Untung Kepala Pasukan Pertama, kalau seandainya prajurit biasa, bisa habis dipanahi oleh para prajurit yang kesal.
Ternyata, dari atas jalan Arung Seto kembali berkelebat turun ke medan es.
Bdak!
Awalnya Arung Seto menilai mudah untuk mendarat di medan es. Namun, baru saja ujung kaki Arung Seto menyentuh medan dingin itu, ia langsung terpeleset dan terbanting.
“Hahahak!” tawa Iwak Ngasin, Juling Jitu, Anjengan, dan Gagap Ayu yang melihat insiden itu.
Sementara Alma Fatara yang mendengar suara jatuhnya, jadi menengok ke belakang, padahal dia sedang bertarung dengan Kungkung Jengo.
“Hahahak!” tawa Alma pun meledak melihat nasib Arung Seto.
Tindakan Alma itu cepat dimanfaatkan oleh Kungkung Jengo untuk membokong dengan tinju bertenaga dalam tinggi. Jangankan sebuah kepala, batu karang saja bisa hancur oleh tinju Kungkung Jengo.
Bogem besar Kungkung Jengo melesat cepat hendak menghantam kepala Alma yang benar-benar terlihat lengah.
Tsuuuk!
“Aaak …!” jerit Kungkung Jengo keras lagi panjang, menyayat hati bagi siapa pun yang mendengarnya.
Sebelum tinju besar bertenaga dalam tinggi itu menghantam kepala Alma, dua utas ujung Benang Darah Dewa yang menyatu seperti dua kawat yang saling melilit, tiba-tiba muncul melesat menusuk tinju Kungkung Jengo, menusuk dalam sampai tembus ke siku. Pantas saja jeritan Kungkung Jengo begitu panjang, lebih panjang dari sikunya.
Tusukan Benang Darah Dewa itu otomatis membuat lumpuh tangan kanan Kungkung Jengo.
__ADS_1
“Hahahak!” Tawa Alma jadi berlanjut dan beralih menertawakan Kungkung Jengo. Lalu serunya, “Giliranku, Paman!”
Alma Fatara melesatkan tinjunya yang bersinar ungu berpijar dengan kecepatan tinggi. Kungkung Jengo tidak bisa menghindar selain mengadunya dengan tinju kiri yang juga bertenaga dalam tinggi seperti tadi.
Bugg!
“Akhr!” jerit Kungkung Jengo dengan tangan yang otot-ototnya langsung berhancuran dan tubuh terlempar ke belakang dengan darah termuncrat dari dalam mulut.
Buk!
Punggung Kungkung Jengo menghantam lantai es yang keras seiring nyawanya yang telah melayang.
“Mundur!” seru Landak Becek kepada kelima rekannya setelah melihat kematian Kungkung Jengo di sebelah bawah.
Namun, baru saja mau melangkah pergi meninggalkan medan berapi itu, tiba-tiba ada seekor ular besar sedang duduk melingkar dengan kepala tegak berdiri, menghadang akses kepergian mereka.
Ular serba hitam yang berada di medan panah, menatap tajam kepada keenam anggota bajak laut yang berkumpul di bawah tembok mayat yang terbakar.
Entah sejak kapan Mbah Hitam bergerak naik dari air tiba-tiba sampai di atas jalan.
Landak Becek dan rekan-rekannya saling pandang.
“Panah!”
Set set set …!
Kembali hujan panah dilepaskan oleh pasukan panah, melewati dinding api. Kali ini serangan panah itu menghujani Mbah Hitam. Namun, keenam anggota bajak laut yang aman dari hujan panah karena posisi mereka tidak terlihat oleh pasukan, terkejut melihat ular besar itu kebal oleh panah-panah yang mengenainya.
“Harus dilawan!” kata salah satu anggota bajak laut dengan kedua tangan sudah berapi hijau.
Dia bersama dengan sahabatnya yang bersenjata golok besar berlari kencang lalu melompat bersamaan menyerang Mbah Hitam.
Serss! Blas blas!
“Argr!”
“Aaak!”
Bajak Laut itu melesatkan dua bola api hijau yang menghantam area sekitar kepala Mbah Hitam, tetapi api itu hanya sekejap bercokol berusaha membakar sisik-sisik tebal ular siluman.
Belum lagi si bajak laut mendarat, kepala Mbah Hitam sangat cepat melesat dengan mulut menganga lebar. Tubuh lelaki berambut gondrong itu langsung hilang kendali, saat mulut Mbah Hitam menyambarnya dengan gigitan taring yang dalam.
Si bajak laut yang tidak mau disebutkan namanya itu hanya menjerit keras.
Tak! Bak!
__ADS_1
Itulah suara golok besar rekan lainnya ketika membacok tubuh Mbah Hitam. Namun, sisik tubuh Mbah Hitam seperti susunan lempengan logam. Justru ekor Mbah Hitam begitu cepat mengibas mementalkan si bajak laut.
Bajak laut bersenjata golok itu terpental keras terjun ke area sungai yang menges.
Buk!
Belum lagi bajak laut itu bangkit karena menderita patah tulang, dari satu arah Arung Seto datang meluncur di atas es menggunakan kedua lututnya, seperti selebrasi pesepak bola di atas rumput usai mencetak gol.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara melihat gaya Arung Seto.
Tubuh Arung Seto meluncur cepat lewat di sisi si bajak laut. Dengan penuh dendam, Arung Seto menyambar leher musuh dengan tebasan pedangnya.
Satu anggota bajak laut kembali tewas dengan kepala terpenggal.
“Hei! Apa yang kalian lakukan?!” teriak Alma kepada keempat sahabatnya yang berkumpul seperti rumput, hanya berdiri menonton.
Iwak Ngasin dan ketiga sahabatnya terkejut mendapat hardikan dari Alma.
“Maju, Jitu!” sentak Iwak Ngasin sambil mendorong punggung Juling Jitu dengan keras.
Juling Jitu tersungkur ke medan es lalu meluncur. Iwak Ngasin lalu melompat dan mendarat di punggung Juling Jitu. Dia menjadikan Juling Jitu sebagai papan selancar. Sesekali satu kakinya turun mendorong sehingga tubuh Juling Jitu meluncur deras.
“Iwak terkutuuuk!” teriak Juling Jitu geram bukan main di dalam luncurannya.
“Hahahak!” Alma tertawa terbahak melihat ulah Iwak Ngasin dan nasib Juling Jitu.
“Ma-ma-maju, Anjeng!” seru Gagap Ayu sambil mendorong keras punggung Anjengan.
Namun, tubuh Anjengan yang besar hanya terdorong sedikit. Dengan menggeram, Anjengan menatap tajam kepada Gagap Ayu yang kemudian hanya cengengesan.
Dengan gerak cepat, kedua tangan Anjengan mencengkeram belakang baju Gagap Ayu, lalu melemparnya. Tubuh mungil Gagap Ayu meluncur deras dalam posisi tengkurap.
Anjengan buru-buru berlari mengejar Gagap Ayu, lalu melompat ke atas punggung Gagap Ayu. Namun, tubuh Gagap Ayu terlalu cepat, sehingga pendaratan Anjengan bukan di punggung sahabatnya, tetapi di lantai es.
Bdak!
Anjengan pun terpeleset dan terbanting lalu meluncur pula.
“Hahahak …!” Alma tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah kocak keempat sahabatnya. Sampai-sampai dia memegangi perutnya. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ayo baca, like dan komen juga di chat story Om Rudi yang berjudul "Narator Horor"!
__ADS_1