Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Kerja Bu 11: Jaran Telu VS Wangiwulan


__ADS_3

*Keris Pemuja Bulan (Kerja Bu)*


Ternyata benar dugaan Raden Gondo Sego. Wangiwulan pergi ke arah kediaman Raden Runok Ulung.


Wangiwulan yang tidak bersenjata dan penampilannya yang berantakan sebagai seorang gadis bangsawan, menghadang empat orang centeng berseragam merah gelap. Mereka adalah centeng dari Keluarga Raden Runok Ulung.


“Berhenti!” seru Wangiwulan menghadang.


“Siapa kau, Nisanak? Mau apa kau menghadang kami?” tanya salah seorang dari keempat centeng berpedang itu.


“Aku putri Raden Gondo Sego,” jawab Wangiwulan datar.


Terkejutlah keempat centeng itu, sampai-sampai salah satu dari mereka langsung meloloskan pedangnya.


“Aku ingin menanyakan keberadaan Kakang Rawil Sembalit,” lanjut gadis yang pada wajahnya ada bekas memerah, sangat jelas bahwa itu adalah bekas tamparan.


“Gusti Rawil diculik oleh pendekar wanita,” jawab centeng tersebut.


“Diculik? Jangan berbohong!” tukas Wangiwulan dengan nada lebih tinggi.


Dituding berdusta, keempat centeng itu jadi naik pitam.


Sing!


Akhirnya keempatnya menghunuskan pedang, terlebih mereka telah tahu bahwa wanita itu adalah musuh keluarga majikannya.


“Serang!” seru centeng yang sejak tadi menjadi jubir sambil maju lebih dulu.


Ketiga rekannya juga maju dengan pedang yang bergerak cepat. Wangiwulan sebagai pendekar pedang mampu mengelaki semua serangan pedang keempat centeng. Gerakannya gesit, menunjukkan level yang sangat jauh berbeda dengan para centeng. Dengan mudah ia merebut satu pedang dari lawannya.


Set set set!


“Ak! Akk! Ak …!”


Hanya sekali gebrak sebagai eksekusi penutup, Wangiwulan membuat keempat lawannya terluka sekaligus, tapi tidak sampai tewas.


Wangiwulan lalu meninggalkan keempat centeng tersebut dengan pedang tetap tergenggam di tangan. Ia pergi menuju ke arah rumah Raden Runok Ulung.


Namun, baru sekitar lima tombak Wangiwulan berlari kecil, tiba-tiba ….


Set! Ting!


Untung Wangiwulan siaga, sehingga ia bisa menangkis dengan pedangnya sebatang tongkat biru yang datang melesat cepat. Tangkisan itu membuat arah tongkat sedikit berbelok dan menancap di akar sebatang pohon.


Serangan itu disusul oleh kelebatan sesosok tubuh lelaki yang menerjang dari samping. Wangiwulan yang tidak sempat menggunakan pedangnya sebagai penyambut, hanya memasang pukulan telapak tangan kirinya sebagai penangkis.

__ADS_1


Pak!


Wangiwulan terjajar tiga tindak dan nyaris jatuh. Tusukan pedang ke tanah menjadi penahan tubuhnya yang terdorong. Pada saat itu pula, sosok berpakaian biru putih mendarat kokoh. Pemuda tampan berbedak itu langsung menatap tajam kepada Wangiwulan. Ia tidak lain adalah Jaran Telu.


“Wangiwulan!” sebut Jaran Telu. Ia yakin bahwa wanita itu adalah Wangiwulan, putri Raden Gondo Sego yang sudah beberapa tahun tidak pernah dilihatnya.


“Apa yang kalian perbuat kepada Kakang Rawil?” tanya Wangiwulan.


“Tidak perlu kau tahu. Kau harus bertanggung jawab karena telah membuat adikku terhina!” teriak Jaran Telu marah.


Ia lalu bergerak menyambar tongkat birunya, lalu langsung menyerang Wangiwulan yang lebih muda darinya.


Ting ting ting …!


Suara berdenting berulang seperti nama penyanyi dangdut, berbunyi ketika tongkat dan pedang beradu berulang-ulang, meski tongkat Jaran Telu berbahan kayu. Saling serang dan tangkis terjadi dengan sengit. Namun, secara jelas meski perlahan, Wangiwulan kewalahan.


“Pedang murahan!” desis Wangiwulan karena pedang yang ia gunakan kwalitasnya buruk.


“Semurah dirimu!” sahut Jaran Telu sambil terus mendesak Wangiwulan dengan tusukan, gebukan dan putaran tongkat yang rapat.


Pada satu kesempatan, Wangiwulan tidak sempat menghindarkan kepalanya dari putaran baling tongkat biru. Terpaksa Wangiwulan memasang bilah pedangnya di sisi kepala.


Tang! Pak!


Sisi samping ujung tongkat Jaran Telu menghantam bilah pedang Wangiwulan, membuat bilah pedang itu menampar sisi wajah Wangiwulan.


“Hekh!”


Tamparan sisi datar bilah pedang membuat Wangiwulan oleng ke samping. Setengah detik berikutnya, batang tongkat biru sudah menggebuk punggung Wangiwulan.


Seraya memekik, Wangiwulan terlempar jatuh ke depan. Tulang punggung dan pinggangnya serasa berpatahan. Namun, ia harus cepat bertindak karena serangan tongkat yang tidak kenal welas asih kembali memburu.


Teks!


Wangiwulan melepas pedangnya begitu saja dan ganti menyilangkan kedua batang tangannya, menangkis batang tongkat biru. Saat menangkis seperti itu, kondisi kedua batang tangan Wangiwulan sudah dilapisi sinar hijau berwujud seperti pedang negeri game online.


Setelah menangkis, Wangiwulan cepat merangsek masuk menyerang Jaran Telu dengan tangan bersinar wujud pedang. Pengerahan ilmu Pedang Dewi Asih membuat Jaran Telu bertindak lebih hati-hati dalam menghadapi serangan wanita itu.


Dengan ilmu pedang itu, Wangiwulan mampu menangkis semua serangan tongkat Jaran Jitu. Pemuda tampan itu bisa merasakan ketika tongkatnya ditangkis, serasa tongkat itu menghantam dinding baja.


Kondisi tersebut membuat Wangiwulan lebih mudah untuk menyerang langsung tubuh Jaran Telu.


Mau tidak mau Jaran Telu harus meningkatkan perlawanannya, sebab ia tidak bisa mempertahankan kondisi itu.


Pada satu kesempatan, Jaran Telu memilih melompat mundur.

__ADS_1


Tsuk! Zriss!


Jaran Telu cepat menancapkan tongkatnya ke tanah di depannya. Saat itu juga, dari ujung tongkat yang terpendam di dalam tanah menjalar sinar biru redup naik ke atas yang kemudian menyelimuti seluruh tongkat.


Jaran Telu lalu mencabut kembali tongkatnya dalam kondisi yang tetap bersinar redup.


Tang!


Serangan pertama tongkat bersinar biru itu ditangkis dengan dua tangan pedang Wangiwulan.


Terkejut Wangiwulan ketika ia merasakan kekuatan hantaman tongkat itu, seiring tubuhnya tersurut ke belakang. Namun, tongkat bersinar itu tidak puas hanya memberi satu serangan. Serangan berikutnya terus menyusul, seolah-olah sangat bernafsu untuk menghajar Wangiwulan.


Wuut! Tuk!


Wangiwulan yang kehilangan kuda-kuda, buru-buru membungkuk ketika kibasan tongkat yang mengincar kepala datang sebagai serangan susulan. Dengan lihainya Jaran Telu membalik ujung tongkatnya menjadi menusuk ke arah perut Wangiwulan.


Wangiwulan terkejut. Ia hanya bisa memasang kedua batang tangannya sebagai tameng di perut. Terasa sekali bagi Wangiwulan bahwa tusukan itu sangat kuat. Terbukti tubuhnya sampai terlempar ke belakang, lepas dari pijakan.


Namun, Wangiwulan masih mampu mendarat di tanah, meski dengan sempoyongan agar tidak jatuh terjengkang.


Seet! Dugs!


“Ugh!” keluh Wangiwulan.


Terlalu cepat tongkat Jaran Telu yang dilempar melesat. Dalam kondisi tidak siap, Wangiwulan lagi-lagi memasang kedua batang tangannya yang dilapisi sinar hijau sebagai tameng. Daya hantam tongkat kali ini dua kali lipat dari sebelumnya.


Dengan mulut mementalkan cairan merah yang kental, Wangiwulan terpental kencang sejauh dua tombak.


Brak!


Punggung Wangiwulan menabrak keras pagar kayu sebuah kebun milik warga hingga berpatahan.


Wangiwulan menggeliat kesakitan. Dadanya terasa sangat sesak. Kedua tangannya telah kembali tanpa sinar.


“Uhhuk uhhuk!” Wangiwulan terbatuk darah.


Dilihatnya Jaran Telu telah memegang kembali tongkatnya yang bersinar biru. Ia memutar-mutar tongkatnya seperti baling-baling di atas kepala. Ia menunggu lawannya bangkit.


Wangiwulan bergerak bangkit. Ia menatap tajam wajah Jaran Telu yang berbedak. Ia kemudian berdiri dengan tumit yang rapat. Selanjutnya Wangiwulan menggerakkan kedua tangannya dengan gerakan pelan tapi bertenaga dalam tinggi.


Sess!


Tiba-tiba di atas telapak tangan Wangiwulan yang terbuka muncul melayang piringan sinar putih seperti cahaya neon, selebar satu jengkal. Wangiwulan mengeluarkan ilmu tertingginya yang bernama Tarian Lebah Melati.


Melihat itu, Jaran Telu memperkuat kuda-kudanya dan bersiap menerima serangan.

__ADS_1


Set set! Ctar! Ctar!


Wangiwulan mulai melesatkan kedua piringan sinar putihnya. Jaran Telu dengan gesit menangkis setiap agresi kedua sinar putih itu. Setiap tangkisan tongkat bersinar biru, timbul ledakan nyaring yang terdengar ramai. (RH)


__ADS_2