
Brak brak brak!
“Ketua! Ketua!” teriak Bulak Balok sambil menggedor-gedor pintu kamar yang ditiduri oleh Cucum Mili dan Sugang Laksama.
Tindakan Bulak Balok itu jelas mengejutkan pasangan yang tidur beda tempat tersebut. Cucum Mili tidur di atas dipan, sementara Sugang Laksama tidur di lantai papan.
“Kurang sopan!” maki Cucum Mili yang terkejut dengan gedoran dan teriakan anak buahnya itu.
Kali ini tidak ada suara para anak buahnya yang mengikuti makiannya.
“Ada apa, Bulak?!” tanya Cucum Mili dengan membentak.
“Ada pasukan menyerang desa!” lapor Bulak Balok bernada serius.
“Apa?! Berani-beraninya mereka menyerang bajak laut!”
Cucum Mili lalu beranjak membuka pintu. Dilihatnya Bulak Balok tampak tegang di depan pintu dengan mata mendelik bernafsu. Sebab gambar yang terpampang setelah pintu kamar di buka adalah sosok cantik Ratu Kepiting dengan hanya mengenakan pakaian dalam.
“Kurang sopan!” maki Cucum Mili sambil memukul kepala Bulak Balok karena memandangi dadanya. “Kalau kau berani berotak kotor kepada ketuamu, aku penggal lehermu!”
“Iya, Ketua!” ucap Bulak Balok cepat, lalu buru-buru berbalik dan berlari pergi.
Meski Cucum Mili kulitnya tidak putih seperti bengkuang, tetapi penampilan pakaian minim dengan tubuh yang masih perawan tetap saja bisa menggugah selera kelelakian. Bahkan Sugang Laksama yang berusaha memelihara keperjakaannya memaksa diri tidur di lantai kamar daripada tidur satu dipan dengan Cucum Mili.
Sebagai lelaki yang mengklaim dirinya adalah pendekar yang baik, Sugang Laksama merasa harus bertanggung jawab karena telah melecehkan Cucum Mili, meski kejadiannya adalah kondisi yang sama-sama tidak dikehendaki. Lagi pula, meski Cucum Mili jauh lebih dewasa, tetapi ia tergolong cantik dan manis, apalagi kalau tubuhnya tidak dipakai ke laut selama setahun.
Ketika Cucum Mili berbalik, Sugang Laksama sudah melemparkan pakaian kepadanya.
“Untung tadi malam aku tidak memaksamu bercumbu,” ucap Cucum Mili sambil memakai pakaiannya di depan Sugang Laksam tanpa rasa malu lagi, karena ia sudah menganggap pemuda tampan itu sebagai suaminya, meski mereka belum menikah. Mungkin ini adalah gaya hidup bebas ala klasik.
“Memangnya kenapa kalau sampai bercumbu?” tanya Sugang Laksama.
“Aku khawatir tidak mau keluar-keluar dari dalam kamar. Karena menurut cerita anak buahku yang suami istri, ketika pertama kali mereka bercumbu setelah menikah, mereka tidak mau keluar-keluar dari kamar selama sepekan karena ketagihan. Hihihi!”
Sugang Laksama hanya menelan ludahnya mendengar kegenitan Cucum Mili.
“Selagi aku terpaksa punya calon suami, aku ingin cepat-cepat membuktikan perkataan mereka. Tapi aku ingin kita menikah di tengah samudera.”
“Apa?!” kejut Sugang Laksama terperangah.
Cucum Mili sudah berjalan keluar dengan pakaian yang lengkap, meski bajunya belum begitu kering lantaran kemarin sore kuyup main di sungai. Sugang Laksama segera menyusul.
“Hua hua hua!” teriak puluhan anggota Bajak Laut Kepiting Batu yang sudah berbaris di pinggir desa.
Tampak di depan barisan orang-orang yang berteriak menyemangati dirinya dan bermaksud mengintimidasi pasukan musuh, berjalan bolak-balik seorang pria tinggi besar dan berotot sambil berteriak layaknya komandan perang.
“Tunjukkan teriakan lautmu!” teriak lelaki berwajah garang dan tegas itu. Ia bernama Udang Karang.
“Hua hua hua!” teriak semua anggota bajak laut sambil bergerak menghentak-hentak menunjukkan keliarannya, seolah-olah sudah tidak sabar untuk bertempur.
“Di mana kita tinggal?” teriak Udang Karang lagi.
__ADS_1
“Di laut!” teriak pasukan bajak laut.
“Di mana kita makan?!”
“Di laut!”
“Di mana kita mati?!”
“Di laut!”
“Orang laut mati di laut, orang darat mati di darat!” teriak Udang Karang lagi.
“Orang laut mati di laut, orang darat mati di darat!” teriak pasukan bajak laut juga.
Yel-yel keras itu memang membangkitkan kepercayaan diri para anggota bajak laut dan membuat gentar pasukan musuh yang kini berhadapan dengan mereka.
Di pagi itu, Demang Banuseta telah membawa satu pasukan Kademangan Tulukotek. Mereka sudah bergerak sebelum matahari terbit. Namun, kedatangan mereka terpantau radar. Tidak semua anggota bajak laut tidur nyenyak di malam itu, sejumlah anggota ditugaskan berjaga di beberapa titik di luar desa.
Karena itulah, kelompok Bajak Laut Kepiting Batu cepat berbangunan dan segera berkumpul membentuk pasukan di pinggir desa. Kelompok itu dimobilisasi oleh Udang Karang. Ia biasa disebut sebagai Wakil Ketua.
Pasukan yang dibawa oleh Demang Banuseta adalah lima belas prajurit berkuda dan dua puluh berjalan kaki. Prajurit berkuda bersenjata pedang dan prajurit pejalan kaki bersenjata tombak saja, sederhana sesuai anjuran agama.
Melihat tingkah kelompok Bajak Laut Kepiting Batu yang sangar dan liar, nyali tempur pasukan Demang Banuseta jadi ciut juga, tetapi mereka terlalu malu untuk mengungkapkannya, seperti memendam cinta yang bertepuk sebelah kaki.
“Bajak Laut Kepiting Batu! Apakah kalian sudah siap makan pagi?!” teriak Udang Karang lagi.
“Siaaap! Hua hua hua!” teriak para bajak laut penuh semangat dan sudah siap maju menyerbu pasukan lawan, tinggal menunggu komando dari sang komandan.
“Tidak sopan!” bentak Cucum Mili kepada Demang Banuseta.
“Tidak sopan!” bentak pasukan bajak laut mengikuti, membuat Demang Banuseta mendelik terkejut, karena bentakan dari puluhan jenis suara itu lebih keras dan terasa melukai nyali.
“Orang-orangku ada di bawah, sedangkan kau berlaku pongah dengan duduk di atas kudamu. Siapa kau?” bentak Cucum Mili kepada Demang Banuseta.
“Aku Demang Banuseta!” jawab Demang Banuseta.
“Oh, demang rupanya. Aku masih berbaik hati, Demang. Bawa pasukanmu kembali atau kita benar-benar berkalang tanah untuk satu urusan yang tidak jelas!” ujar Cucum Mili.
“Tidak! Kami tidak akan pergi sebelum kalian pergi meninggalkan desa ini!” tandas Demang Banuseta.
“Jika memang tidak mau menurut, biar aku saja yang menghajarnya!” seru seorang pemuda yang muncul berkelebat di udara. Dia langsung menyerang Demang Banuseta di atas kudanya dengan terjangan.
Dak! Bak!
Demang Banuseta menangkis kaki kanan orang yang adalah Sugang Laksama. Ketika menangkis itu, Demang Banuseta melihat wajah penyerangnya yang membuatnya terkejut. Selanjutnya kaki kiri Sugang Laksama sudah masuk ke dada Demang Banuseta.
Bduk!
Demang Banuseta jatuh dari kudanya.
“Gusti Pangeran!” ucap Demang Banuseta pelan. Ia terkejut.
__ADS_1
Sementara Sugang Laksama mendelik kepada Demang Banuseta sambil memainkan alisnya, seolah memberi kode togel.
“Demang Banuseta! Jika kau masih berlaku sok jagoan, jangan harap kau bisa pulang!” kata Sugang Laksama keras.
“I… iya!” ucap Demang Banuseta mencoba mengerti arti kode alis dari Sugang Laksama. Ia buru-buru bangkit dan meraih kudanya.
Namun, sebelum Demang Banuseta menaiki kudanya untuk pergi bersama pasukannya, tiba-tiba….
“Ikaaan … ikaaan! Ikaaan … ikaaan!”
Tiba-tiba dari ujung jalan pinggir desa itu muncul seorang anak perempuan cantik yang berteriak “ikan … ikan ….”
Anak wanita berkulit putih itu memanggul sebatang kayu panjang yang digantungi oleh sejumlah ekor ikan yang cukup besar.
Dengan santainya ia berjalan memasuki jalan yang menjadi pemisah kedua pasukan itu. Bahkan ia berjalan menuju posisi Cucum Mili. Anak itu tidak lain adalah Alma Fatara.
Subuh-subuh Alma Fatara sudah pergi memancing di sungai. Sesuai arahan Wiwi Kunai, setelah dapat ikan, jual ikannya ke desa terdekat, yaitu Desa Bulukubi.
“Ikaaan … ik!”
Teriakan Alma Fatara terhenti mendadak setelah ia pura-pura sadar, karena sebenarnya ia sudah tahu dari tadi, tapi tetap nekat berulah.
“Hah! Bajak Lauuut!” teriak Alma sok terkejut, ia lalu berlari menyelamatkan diri ke arah pasukan Demang Banuseta.
“Kejaaar!” teriak Cucum Mili kepada para anak buahnya.
“Kejaaar!” teriak para bajak laut lalu beramai-ramai mengejar Alma Fatara.
“Tolooong!” teriak Alma Fatara kepada para prajurit yang didatanginya.
Demang Banuseta dan Sugang Laksama jadi terkejut melihat kondisi yang mendadak kacau. Karena merasa diserang pula, para prajurit jadi ikut maju menyambut serangan para bajak laut.
Melihat para prajurit juga maju, Alma Fatara semakin menjerit tapi merasa seru. Ia cepat berbelok arah dan berlari kencang menghindari pertemuan dua pasukan. Kedua pasukan saling bakuhantam.
“Kena kau!” seru Cucum Mili yang sudah berkelebat cepat dan menyambar tubuh Alma Fatara.
“Tolooong …! Tolooong …!” teriak Alma yang kini berada dalam kepitan lengan Cucum Mili.
Seeet! Bluk!
Tiba-tiba Cucum Mili merasakan ada sesuatu yang menggaet kerah bajunya, kemudian tubuhnya tertarik keras ke belakang dan jatuh terjengkang bersama Alma. Alma berhasil lepas lalu cepat berlari.
Giliran Sugang Laksama yang berlari cepat mengejar Alma. Ketika pemuda itu hendak menerkam tubuh Alma, dari samping telah berkelebat cepat sesosok tubuh berpakaian warna-warni.
Bak!
“Hukh!” keluh Sugang Laksama saat lambungnya diterjang oleh orang yang adalah seorang wanita.
Alma buru-buru berlari kepada wanita itu dan berlindung di belakang punggungnya. Wanita itu tidak lain adalah Wiwi Kunai. (RH)
**************************
__ADS_1
Bagi para Readers yang sudah membaca Dewi Dua Gigi, harap bersabar selama masa flashback. InsyaAllah 2 bab lagi kita akan kembali ke alur terkini.